Mayhem (2017), Alegori Atas Busuknya Korporasi

Berbagi informasi dan gagasan. Semoga suka, semoga menginspirasi.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhammad Iqbal Awaludien tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Menyamaratakan semua korporasi itu busuk tentu tak dapat diterima. Namun, menafikan bahwa tak ada korporasi yang menghisap para pekerjanya juga merupakan pandangan yang terlalu naif.

Mayhem (2017) mencoba mengelaborasi kebusukan sebuah firma hukum, Towers and Smythe Consulting (TSC), yang terkemuka dan menjadi perusahaan impian para sarjana hukum untuk menjadi pengacara demi menggapai keberlimpahan harta.
Kebusukan budaya korporasi langsung dirujak tanpa fafifu melalui kacatama Derek Cho (Steven Yeun), protagonis kita, seorang karyawan baru yang punya mimpi kesuksesan di TSC yang mensyaratkan kualifikasi "jujur, ulet, dan berintegritas" untuk setiap calon karyawannya.
Singkat kisah, Derek cukup berhasil dan perlahan naik menjadi "pegawai menengah" sampai kesialan tiba-tiba menimpanya: Menjadi kambing hitam dan dipecat akibat jabatannya lebih rendah dibanding rekan-rekan kerjanya yang melakukan pelanggaran serupa.
"Mayhem"
Mayhem bukan film dengan bunga-bunga motivasi, seperti mengajak setiap penonton untuk pantang menyerah dalam menggapai mimpi. Bukan pula film yang menawarkan janji utopia untuk mengubah kebusukan sistem lewat revolusi.
Percaya atau tidak, Mayhem adalah film mengenai orang-orang yang terjangkit virus "Red Eye" yang mengubah mereka menjadi makhluk brutal tanpa kendali, di mana darah muncrat, tulang patah, dan umpatan kasar serta humor gelap, akan dengan mudah kita ditemukan di sini.
Kecerdasan film ini terletak pada, meski plotnya tipis dan premisnya klise, dua hal itu diatasi oleh Joe Lynch, sang sutradara, yang berhasil membangun dunia "mayhem" yang relevan dengan dunia korporasi.
Bangunan TSC secara simbolis dirancang vertikal. Lantai paling bawah dihuni para pekerja rendahan, sementara lantai-lantai di atasnya ditempati para tuan dengan otoritas dan kebusukan masing-masing. Ada manajer oportunis, kepala divisi yang gemar "cuci tangan", hingga figur pimpinan puncak yang dalam istilah film disebut sebagai pemuncak rantai makanan atau The Boss, sosok yang nyaris mustahil disentuh serta bebas melakukan apa pun.
Latar yang mencekam dan luar biasa mengekang itu "tiba-tiba" diserang virus yang mampu membuka keran yang selama ini ditekan, rapat, tersumbat, dan menunggu dimuntahkan dari reservoir yang sudah terlalu penuh oleh amarah dan fantasi-fantasi liar para pekerja kerah putih yang tertekan oleh SOP, KPI, dan etika profesional.
Maka "Mayhem" yang secara harfiah bermakna kekacauan dan kerusuhan pun menemukan momentumnya.
Verdict
Bagi penyuka revenge movie film ini bisa sangat memuaskan. Ketidakadilan yang dialami karakter-karakternya dikuras habis sampai pada titik yang paling ekstrem (baca: tak berdaya). Selain Derek yang hendak menuntut balas, ada Melanie Cross (Samara Weaving), wanita misterius yang mengincar salah satu petinggi TSC karena alasan pribadi.
Dengan seringai dan jentikkan jarinya pada nail gun, Melanie siap menancapkan paku-paku ke semua orang yang menghalanginya.
[Spoiler Alert] Memasuki klimaks, Derek dan Melanie menembus lantai demi lantai untuk menuntut balas. Rangkaian adegan ini seolah membentuk struktur naratif sekaligus alegori perjuangan kelas di dunia korporasi, di mana setiap konfrontasi mempertemukan antara mereka yang hidupnya ditentukan oleh kebijakan dan mereka yang menciptakan kebijakan tanpa pernah menanggung akibatnya.
