The Rip (2026), Tentang Duit yang Menggoyahkan Prinsip

Berbagi informasi dan gagasan. Semoga suka, semoga menginspirasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhammad Iqbal Awaludien tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pengkhianatan tak datang dari tempat yang jauh. Ia muncul dari lingkaran terdekat. Keluarga, rekan kerja, dan sahabat.

“Teman makan teman” rupanya bukan khas Indonesia. Di Miami, Amerika Serikat, ungkapan itu menjadi jantung cerita The Rip (2026), film terbaru Netflix yang dibintangi Matt Damon, Ben Affleck, Steven Yeun, Sasha Calle, dan Teyana Taylor.
Kisah dibuka dengan kematian Jackie (Lina Esco), seorang kapten polisi yang dieksekusi dua orang bertopeng di sebuah kawasan rawan peredaran narkoba. Kartel pun dengan cepat menjadi kambing hitam. Namun bagi FBI asumsi itu dangkal. Membunuh polisi berpangkat kapten bukan gaya kartel masa kini. Risikonya terlalu besar dan hampir pasti memicu operasi besar-besaran.
Kecurigaan kemudian mengarah ke orang-orang terdekat Jackie sendiri, yaitu Tactical Narcotics Team (TNT) yang didipimpinnya: Terdiri dari Dumars (Matt Damon), JD (Ben Affleck), Numa (Teyana Taylor), Ro (Steven Yeun), dan Lolo (Catalina Sandino Moreno).
Percakapan kasual yang terdengar dingin, sikap acuh terhadap kematian Jackie, hingga petunjuk-petunjuk kecil yang mengisyaratkan konflik personal antara Jackie dan anggota timnya, ibarat peluru yang ditembakkan ke penonton agar tiap karakter tampak berpeluang menjadi tersangka.
Lalu, siapa pembunuh Jackie, dan mengapa ia dihabisi?
Pertanyaan pertama sayangnya tak digarap sebagai whodunit yang bikin penasaran. Joe Carnahan, sang sutradara, tampak sengaja menggeser fokus ke pertanyaan kedua: motif. Pilihan ini membuat misterinya terasa tipis, namun segera tergantikan oleh dinamika psikologis.
Di tengah ancaman pembubaran tim, pemangkasan anggaran, dan rasa kehilangan, terutama bagi Dumars dan JD, yang ternyata memiliki hubungan personal dengan Jackie, penyidikan pada akhirnya membawa mereka ke sebuah rumah yang menyimpan sitaan uang dalam jumlah fantastis.
Di sinilah ketegangan film mulai terasa. Kehadiran Desiree (Sasha Calle), pemilik rumah yang mengaku “tak tahu apa-apa”, membuat konflik bergerak dinamis. Babak ini efektif karena ruang sempit rumah tersebut memaksa karakter saling berhadapan, seiring dengan ancaman dari luar yang terus mengintai.
Atmosfer ketegangan makin menjadi karena rumah berisi uang panas itu berada di tengah kompleks kartel yang sunyi, di mana rumah-rumah berdiri, tetapi nyaris tanpa penghuni. Sehingga ketegangan filim dibangun bukan lewat ledakan besar, melainkan dari lirikan mata, jeda percakapan, dan rasa tidak aman yang terus menggerogoti antar karakter.
Menuju konklusi, film menyuguhkan sebuah twist yang bagi penonton yang jeli mungkin mudah ditebak. Namun bagi mereka yang sudah larut oleh intensitas sejak awal, momen ini tetap terasa memuaskan. Terutama pada adegan di dalam Lenco Armored Vehicle, ketika empat karakter saling menuding sebagai dalang pembunuhan Jackie. Claustrophobic dan bikin gregetan.
***
Seperti sudah disinggung sekilas, meski berangkat dari misteri pembunuhan, film ini tidak benar-benar mengajak penonton bermain tebak-tebakan. Kekuatannya memang terletak pada dinamika antar karakter saat mereka terjebak dalam satu ruang bersama uang sitaan kartel yang bernilai luar biasa.
Film berdenyut kencang, menggebu hingga nyaris meledak, ketika aparat penegak hukum yang seharusnya berdiri tegak sebagai pelayan masyarakat, diuji oleh godaan uang yang bisa mengatasi kesulitan hidup mereka.
Untuk penonton yang kerap mencari pesan moral dan gagasan besar di film, siap-siaplah kecewa. Tak ada pesan tentang tentang rasisme, kesetaraan, dan pembelaan kelompok marginal. Film sengaja dibuat grounded untuk mengeksplorasi kecenderungan paling dasar manusia: Rapuhnya prinsip saat berhadapan dengan duit yang menjanjikan jalan keluar.
Bagi saya, film ini menarik karena bisa melihat bagaimana kecenderungan polisi Amerika digambarkan saat berhadapan dengan sitaan bernilai besar. Pertanyaan dalam kepala pun muncul, bagaimana jika karakter di film ini adalah polisi Indonesia, ya? Jujur, saya kerap bertanya-tanya, ke mana barang sitaan seperti berkilo-kilo narkoba, uang tunai, dan berbagai barang bukti lainnya bermuara? Wallahualam.
