Ketik Tanpa Mikir: Menghidupkan Sila Kedua di Kolom Komentar Media Sosial

Mahasiswa Universitas Pamulang yang senang mengamati politik dan budaya
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhammad Iqbal Fauzan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak sih, lagi asyik scrolling media sosial, kamu malah salfok sama kolom komentar jahat? Alih-alih nemu diskusi yang seru, yang ada malah sejauh mata memandang isinya ketikan penuh makian, body shaming, sampai fitnah yang bikin geleng-geleng kepala.
Lucunya, kalau akun-akun "pengetik maut" itu diklik, foto profilnya sering kali terlihat kalem, pakai foto kucing yang lucu, atau bahkan memajang kutipan bijak. Fenomena ini bikin kita mikir: kenapa ya, orang bisa berubah jadi begitu kejam dan berani saat bersembunyi di balik layar smartphone?
Di sinilah sebenarnya ujian terberat dari materi yang sering kita dengar sejak SD, tapi sering lupa dipraktikkan: Pancasila, khususnya Sila Kedua.
Algoritma Media Sosial yang Membakar Jempol
Harus diakui, dunia digital hari ini emang didesain buat memancing emosi kita. Fitur anonimitas atau akun privat bikin orang merasa "aman" buat mengetik apa saja tanpa perlu takut menghadapi konsekuensi langsung di dunia nyata. Ada perasaan semu bahwa apa yang kita ketik di layar itu cuma sekadar teks, bukan serangan nyata.
Padahal, di balik akun yang kita komentari itu ada manusia asli. Ada orang yang punya perasaan, bisa sedih, bahkan bisa kena mental gara-gara satu kalimat pendek yang kita anggap "cuma bercanda". Ketikan yang kita anggap sepele bisa jadi adalah hantaman berat bagi orang lain. Di titik inilah, esensi dari "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab" sering kali menguap begitu saja digantikan oleh ego.
Mengembalikan "Adab" ke Dalam Gadget
Sila kedua Pancasila itu nggak muluk-muluk harus diaplikasikan dengan cara menolong korban perang di luar negeri. Di zaman sekarang, memanusiakan manusia bisa dimulai dari hal yang paling sederhana: cara kita memperlakukan orang lain di ruang digital.
Beradab berarti kita sadar bahwa batasan moral di dunia nyata itu juga berlaku mutlak di dunia maya. Kalau di dunia nyata kita nggak bakal berani mendatangi orang asing di jalan lalu mengatai fisiknya, kenapa di media sosial kita merasa sah-sah saja melakukannya?
Menghidupkan sila kedua di era internet artinya kita belajar punya empati digital. Sebelum menekan tombol 'send', coba jeda tiga detik dan tanya ke diri sendiri: "Kalau kalimat ini diucapkan orang lain ke saya atau ke ibu saya, rasanya sakit nggak?" Kalau jawabannya iya, hapus ketikan itu.
Rem Digital di Tangan Kita
Sebagai anak muda atau mahasiswa, kita sering dibilang sebagai agen perubahan. Nah, perubahan paling gampang yang bisa kita lakukan sekarang adalah dengan menjadi netizen yang punya rem pada jempolnya.
Kritik itu boleh banget, bahkan ruang digital butuh kritik agar tetap sehat. Tapi ada beda tipis antara mengkritik dengan menghujat. Kritik itu fokus pada isi atau tindakan, sementara hujatan fokus menyerang personal dan merendahkan martabat manusia.
Pancasila itu bukan cuma buat dihafal pas ujian atau dibaca pas upacara hari Senin. Pancasila itu hidup di setiap ketukan keyboard kita. Jadi, yuk mulai sekarang kita sepakat: saring sebelum sharing, dan pikirkan dulu sebelum mengetik. Karena netizen yang keren bukan yang paling tajam ketikannya, tapi yang paling bisa memanusiakan sesama di mana pun dia berada.
