Tekno & Sains
·
1 Februari 2021 15:51

Soekarno dan Kritik Pemikiran Islam

Konten ini diproduksi oleh Iqbal Hasanuddin
Soekarno dan Kritik Pemikiran Islam (335091)
Presiden pertama Soekarno Foto: Wikipedia
Dalam artikel berjudul "Saya Kurang Dinamis?" Soekarno menggambarkan dirinya sebagai orang yang suka "membongkar" dan "menjatuhkan palu-godam di atas meja." Penggambaran tersebut dipakai oleh Soekarno untuk menunjukkan dirinya sebagai seorang kritikus atau pemikir yang kritis. Persis, hal seperti itulah yang dilakukannya ketika mengemukakan kritik atas pemikiran Islam.
ADVERTISEMENT
Soekarno menyadari bahwa kritik-kritiknya itu akan menimbulkan pro-kontra. Ia sengaja melakukannya untuk membangunkan kaum Muslim dari tidur dogmatis mereka. Dengan adanya pro-kontra yang muncul, masyarakat diharapkan dapat mulai memikirkan ulang hal-hal yang seolah dianggap membeku dan tidak boleh dipikirkan lagi. Dalam hal ini, Soekarno mengajak kaum Muslim untuk melakukan refleksi dan introspeksi diri.
Tulisan ini bertujuan menjelaskan alasan mengapa Soekarno mengemukakan kritik terhadap praktik beragama kaum Muslim dan alam pikiran yang melatarbelakanginya. Pertama-tama, dijelaskan bagaimana Soekarno menunjukkan adanya krisis dalam pemikiran Islam yang menjadi penyebab kemunduran umat Islam. Bagian berikutnya berisi ulasan atas kritik Soekarno terhadap praktik keagamaan kaum Muslim pada zamannya dan nalar yang pusat pada fiqh sebagai bangunan pemikiran dominan yang melatarinya.
ADVERTISEMENT

Krisis Pemikiran Islam

Mengapa Soekarno memilih untuk melibatkan diri dalam pembicaraan tentang pemikiran Islam? Mengapa ia tertarik melakukan dialog melalui surat-menyurat berisi persoalan keislamannya dengan Ahmad Hassan dari Persatuan Islam (Persis)? Mengapa ia banyak menulis tentang pembaruan modern dalam Islam? Pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk dijawab agar kita mengetahui latar belakang dan motif Soekarno ikut terlibat dalam diskursus pemikiran Islam.
Jika kita mengamati isi "Surat-surat Islam dari Endeh" yang ditulis Soekarno saat menjalani hukuman pengasingan oleh Pemerintah Hindia Belanda di Endeh, Flores (Nusa Tenggara Timur) pada 1934-1939, Soekarno tampak sedang mengemukakan wacana yang bersifat kritis. Kepada A. Hassan, ia tidak bertanya tentang ajaran Islam, tapi mempertanyakan praktik keberislaman yang dijalankan oleh kaum Muslim pada umumnya di Indonesia. Di sini, istilah "bertanya" dan "mempertanyakan" adalah dua hal yang berbeda.
ADVERTISEMENT
Dengan mempertanyakan praktik keberislaman kaum Muslim, Soekarno melihat ada sesuatu yang kurang tepat di dalamnya. Dalam hal ini, ada jarak antara Islam sebagai nilai-nilai "yang seharusnya" (das sollen) dan praktek keberislaman kaum Muslim "yang senyatanya ada" (das sein). Dalam istilah yang dipakai oleh Soekarno sendiri, kaum Muslim dipandang sudah tidak berpegang lagi kepada Roh atau Api Islam, melainkan hanya memegang abunya.
Pertanyaan kritis Soekarno terhadap praktik keberislaman kaum Muslim sebetulnya adalah pertanyaan yang juga diajukan oleh hampir semua tokoh pembaruan Islam di zaman modern. Misalnya, Muhammad Abduh (1849-1905) pernah mengatakan bahwa “al-Islam mahjubun bi al-Muslimin” yang berarti: "Islam tertutupi oleh perilaku umat Islam sendiri. Kemudian, di dalam buku Limadza ta'akhkhara al-Muslimun wa limadza taqaddama ghairuhum?, Syakib Arsalan (1869-1946) bertanya mengapa kaum Muslim mundur sementara kaum non-Muslim maju?
ADVERTISEMENT
Sebagaimana Abduh dan Arsalan, Soekarno melihat adanya krisis yang dialami oleh kaum Muslim. Krisis di sini bukan hanya berarti ketidakberdayaan ekonomi, politik dan militer, tapi sesuatu yang lebih bersifat rohani atau intelektual, yaitu: Krisis pemikiran Islam. Entah mana yang lebih dulu muncul di antara krisis ekonomi, politik dan militer di satu sisi, dan krisis pemikiran Islam di lain sisi. Tapi, Soekarno tampak sangat serius memperhatikan terjadinya krisis dalam wilayah pemikiran Islam tersebut.
Krisis pemikiran Islam ini terjadi ketika umat Islam menerima begitu saja pengertian-pengertian tentang Islam dari generasi pendahulu tanpa bertanya terlebih dahulu (taqlid) apakah pengertian-pengertian tersebut masih cocok atau tidak untuk digunakan pada masa kini. Karenanya, kaum Muslim kemudian tidak bisa lagi melihat kenyataan dengan tepat berdasarkan cahaya dari Api Islam yang menyala. Dalam keadaan krisis pemikiran Islam tersebut, kaum Muslim seperti berada di dalam kegelapan karena telah kehilangan Api Islam yang seharusnya bisa menjadi penerang jalan.
ADVERTISEMENT
Kemudian, apa yang ditawarkan oleh Soekarno untuk mengatasi krisis pemikiran Islam tersebut? Jawaban Soekarno: Kritik pemikiran Islam. Ya, kritik dan krisis adalah dua kata yang terdengar hampir sama. Tidak ada kritik tanpa didahului oleh krisis. Kritik biasanya adalah jawaban atau obat untuk mengatasi krisis. Tanpa adanya krisis, kritik hanya menjadi suara nyaring tanpa makna. Karenanya, kritik Soekarno atas pemikiran Islam adalah jawaban dan obat yang tepat bagi pemikiran Islam yang sedang mengalami krisis.

Kritik atas Praktik Beragama dalam Islam

Lantas, kritik atas pemikir Islam seperti apa yang dikembangkan oleh Soekarno? Menurut saya, jawaban atas pertanyaan ini cukup menarik. Memang, Soekarno menyoroti beberapa persoalan yang menjadi indikator atau gejala dari krisis dalam praktik berislam yang dijalankan oleh kaum Muslim. Tapi, ia tidak berhenti di level gejala saja. Ia juga bergerak lebih jauh menguak sebab-sebab yang berada di balik gejala-gejala itu, yaitu: Struktur pengetahuan kaum Muslim yang memungkinkan munculnya gejala-gejala krisis di dalam praktik berislam tersebut.
ADVERTISEMENT
Dalam hal ini, kita bisa ulas beberapa gejala yang oleh Soekarno menunjukkan adanya krisis dalam di kalangan kaum Muslim, yaitu: Paham aristokrasi, pemakaian hadits-hadits dhaif, sikap taklid, dan pemakaian tabir. Sebetulnya, daftar ini masih bisa kita perpanjang lagi. Namun, kita cukupkan demikian untuk mengambil beberapa contoh saja untuk menunjukkan bagaimana Soekarno menangkap gejala-gejala yang menggambarkan krisis dalam praktik keberislaman.
Pertama, adanya sistem aristokrasi di kalangan masyarakat Muslim. Dalam pandangan Soekarno, Islam adalah sebuah agama yang mengajarkan kesetaraan di antara semua manusia. Tidak ada orang yang sejak lahir telah ditinggikan derajatnya dari orang-orang lainnya. Karenanya, praktek pengkultusan orang-orang yang dianggap sebagai habaib atau keturunan Nabi Muhammad jelas-jelas tidak sesuai dengan ajaran kesetaraan Islam. Soekarno menyebut fenomena ini sebagai sistem aristokrasi dalam masyarakat Muslim yang sebetulnya sama sekali tidak diajarkan oleh Islam.
ADVERTISEMENT
Kedua, pemakai hadits-hadits dha'if. Di kalangan umat Islam, hadits dipahami sebagai informasi tentang perkataan, perbuatan dan persetujuan Nabi Muhammad. Namun demikian, di antara hadits-hadits itu, ada ada hadits yang terbukti betul-betul berasal dari Nabi Muhammad (shahih, valid), tapi juga ada yang diragukan validitasnya (dha'if, lemah). Menurut Soekarno, pemakaian hadits-hadits dha'if sebagai argumentasi dalam beragama mencerminkan rendahnya tingkat kritisisme. Selain itu, hadits-hadits dha'if dianggap sebagai informasi yang patut untuk diragukan sehingga pesan di dalamnya tidak menyampaikan ajaran Islam yang benar.
Ketiga, sikap taklid. Istilah taklid mengacu kepada praktek beragama yang tidak didasari oleh pengertian-pengertian yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan. Sebaliknya, sikap taklid lebih mencerminkan pandangan yang ikut-ikutan tanpa mau bertanya tentang argumentasi-argumentasi dari ajaran yang dikuti tersebut. Lagi-lagi, bagi Soekarno, sikap taklid di kalangan kaum Muslim menandakan rendahnya kritisisme. Pada gilirannya, sikap ini dapat membawa kaum Muslim untuk menjalankan praktek keagamaan yang sebetulnya tidak diajarkan oleh Islam sebagaimana tercatat di dalam dua teks otoritatif, yaitu: al-Qur'an dan Sunnah Nabi Muhammad.
ADVERTISEMENT
Keempat, penggunaan tabir. Soekarno mengemukakan kritik atas penggunaan tabir dalam pertemuan-pertemuan umum yang melibatkan laki-laki dan perempuan di kalangan kaum Muslim. Tabir atau penghalang sengaja dibuat agar peserta pertemuan laki-laki dan peserta pertemuan perempuan tidak bisa saling memandang wajah satu sama lain. Dalam penilaian Soekarno, dalam Islam, tidak ada ajaran untuk memisahkan laki-laki dan perempuan seperti itu. Dalam prakteknya, itu adalah bentuk peminggiran perempuan. Menurutnya, dengan mengutip pandangan Qasim Amin dari Mesir, Islam mengajarkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.
Demikian, dengan melihat beberapa poin kritik Soekarno terhadap praktik keberagaman kaum Muslim, kita bisa menyimpulkan bahwa Soekarno memiliki pandangan yang sama dengan para tokoh pembaruan Islam dari kalangan pendukung modernisme Islam dalam melihat krisis yang terjadi di dalam tubuh umat Islam. Sebagaimana Abduh dan Syakib Arsyalan, Soekarno memandang krisis tersebut disebabkan oleh kegagalan kaum Muslim untuk menangkap ajaran sejati Islam. Kegagalan tersebut terutama disebabkan oleh rendahnya kritisisme kaum Muslim seperti tercermin dalam praktik pengkultusan orang-orang yang dianggap keturunan Nabi Muhammad, pemakaian hadits-hadits dha'if, sikap taklid dan penggunaan tabir dalam pertemuan umum yang melibatkan laki-laki dan perempuan.
ADVERTISEMENT

Kritik atas Pemikiran Islam yang Berpusat pada Fiqh

Sebagaimana telah dikatakan, bagi Soekarno persoalan-persoalan dalam cara kerberagamaan kaum Muslim tersebut sebetulnya hanya gejala dari krisis alias penampakan luarnya saja. Sebab, apa yang menjadi masalah fundamental justru terletak pada sistem berpikir atau sistem pengetahuan yang berkembang dan begitu dominan di kalangan umat Islam. Paling tidak, Soekarno menyebut satu masalah mendasar, yaitu: Paham keagamaan dalam Islam yang berpusat pada fiqh.
Dalam kajian-kajian keislaman, fiqh sebetulnya hanya salah satu aspek saja dari Islam. Di samping fiqh, ada ilmu Al-Quran dan tafsir, ilmu Kalam, falsafah, tasawuf, sejarah dan lain-lain. Fiqh sendiri berfokus pada kajian atas persoalan bagaimana cara umat Islam melakukan peribadatan yang benar. Memang, ada juga pembahasan tentang hubungan-hubungan sosial dalam fiqh mu'amalah. Namun demikian, fiqh 'ibadah dan fiqh mu'amalah secara umum membatasi perspektifnya dari sudut pandang hukum syar'i: wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram, atau halal-haram.
ADVERTISEMENT
Soekarno sendiri mengakui bahwa dirinya bukan orang yang anti-fiqh. Apa yang ia kritik adalah cara pandang dan model keberagaman yang berpusat pada fiqh sedemikian rupa sehingga Roh atau Api Islam tenggelam di alam "kitab fiqh" saja. Dalam hal ini, kita harus menempatkan kritik Soekarno terhadap nalar fiqh di kalangan kaum Muslim karena hal itu telah menyebabkan mereka mengabaikan aspek-aspek Islam lainnya, terutama Api Islam yang terkandung di dalam al-Quran yang menjadi inti dan landasan dari ajaran Islam itu sendiri.
Soekarno mengatakan: "Mati-hidup dengan kitab fiqh itu... al-Qur'an dan Api Islam seakan-akan mati, karena kitab fiqh itu sajalah yang mereka jadikan pedoman hidup, bukan kalam Ilahi sendiri. Ya, kalau dipikirkan dengan dalam-dalam, maka kitab-kitab fiqh itulah yang seakan-akan ikut menjadi algojo ruh dan semangat Islam.... Masyarakat yang demikian itu akan segeralah menjadi masyarakat mati, masyarakat bangkai, masyarakat yang bukan masyarakat."
ADVERTISEMENT
Menurut Soekarno, apa yang hilang dalam cara pandang keislaman yang berpusat pada fiqh tersebut adalah "ethiek-nya al-Qur'an, intrinsieke waarden-nya al-Qur'an." Demikian, bagi Soekarno, formalisme dalam nalar fiqh telah menyebabkan kaum Muslim melupakan dimensi etis dari ajaran-ajaran Qur'ani. Misalnya, Soekarno memberikan contoh dengan kenyataan bahwa kaum Muslim sangat peduli dan waspada tentang status haramnya daging babi (fiqh), tapi tidak memberikan perhatian terhadap nasib anak-anak yatim dan fakir miskin (etik).
Selain mengabaikan dimensi etik dari ajaran al-Quran, dalam analisis Soekarno, pemahaman keagamaan dalam Islam yang berpusat pada fiqh itu juga telah mendorong kaum Muslim untuk mengabaikan sejarah. Menurut Soekarno: "... Mereka punya minat hanya kepada agama khusus saja, dan dari agama ini, terutama sekali bagian fiqh. Sejarah, apalagi bagian 'yang lebih dalam' yakni mempelajari kekuatan-kekuatan masyarakat yang menyebabkan kemajuannya atau kemundurannya suatu bangsa, sejarah itu sama sekali tidak menarik mereka punya perhatian."
ADVERTISEMENT
Pada titik ini, kita bisa menangkap apa yang dikritik oleh Soekarno dari pemikiran Islam serta apa yang diharapkan untuk dikembangkan. Soekarno mengkritik paham keagamaan kaum Muslim yang terlalu memusatkan diri pada cara pandang fiqh di satu sisi, serta mengabaikan perspektif etis dari ajaran al-Quran dan perkembangan sejarah masyarakat Muslim di lain sisi. Karenanya, sebagai seorang pemikir dan tokoh pembaruan Islam, Soekarno tentu saja mengharapkan agar kaum Muslim bisa mulai memberikan perhatian yang luas dan mendalam kepada etika dan sejarah yang selama ini cenderung diabaikan.
Sebagai catatan penutup, kita bisa menyimpulkan bahwa kritik-kritik Soekarno terhadap praktik keberagaman dan alam pikir kaum Muslim pada zamannya mengingatkan kita pada suara-suara kritis yang sudah digaungkan sebelumnya oleh para tokoh pembaruan di dunia Islam seperti Mohammad 'Abduh, Syakib Arsyalan atau Qasim Amin. Di saat yang sama, kita juga bisa menangkap orientasi pemikiran modernisme Islam dalam pemikiran Soekarno yang melihat bahwa ajaran Islam sesungguhnya sangat kompatibel dengan modernitas. Apa yang menyebabkan kaum Muslim mundur bukan karena Islamnya itu sendiri, tapi karena kaum Muslim memahami dan mempraktikkan ajaran Islam dengan cara yang kurang tepat.
ADVERTISEMENT