Konten dari Pengguna

Kuliah Tinggi, Mengapa Anak Muda Masih Sulit Mendapat Pekerjaan yang Diinginkan?

Iqbal Julyansyah

Iqbal Julyansyah

Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Pamulang

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Iqbal Julyansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengapa gelar sarjana belum cukup? Kenali tantangan dunia kerja dan cara mempersiapkan karier sejak kuliah.

Ilustrasi mahasiswa yang mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja di tengah tantangan mencari pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan dan kompetensinya. Created by ChatGPT
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mahasiswa yang mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja di tengah tantangan mencari pekerjaan yang sesuai dengan pendidikan dan kompetensinya. Created by ChatGPT

Bagi banyak anak muda, kuliah menjadi salah satu langkah penting untuk mempersiapkan masa depan. Setelah bertahun-tahun mengikuti perkuliahan, mengerjakan tugas, mengikuti organisasi, hingga menyelesaikan skripsi, satu harapan yang kemudian muncul adalah mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang yang dipelajari.

Namun, perjalanan dari bangku kuliah menuju dunia kerja tidak selalu berlangsung secepat yang dibayangkan. Memiliki ijazah perguruan tinggi menjadi modal penting, tetapi pada saat yang sama lulusan juga perlu membangun kompetensi, pengalaman, serta kemampuan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa jumlah angkatan kerja Indonesia terus bertambah. Pada Mei 2026, angkatan kerja mencapai 155,41 juta orang dengan jumlah penduduk bekerja sebanyak 148,19 juta orang. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat sebesar 4,65 persen, turun dari 4,68 persen pada Februari 2026.

Di tengah kondisi tersebut, kelompok usia muda masih menghadapi tantangan tersendiri. Data BPS 2025 menunjukkan TPT kelompok usia 20–24 tahun mencapai 14,35 persen, sedangkan kelompok usia 25–29 tahun berada di angka 6,67 persen.

Ijazah dan Kompetensi Perlu Berjalan Bersama

Pendidikan tinggi tetap memiliki peran penting dalam membentuk sumber daya manusia. Namun, kebutuhan dunia kerja berkembang dengan karakter yang semakin beragam. Perusahaan tidak hanya membutuhkan lulusan dengan latar belakang pendidikan tertentu, tetapi juga mencari kemampuan yang dapat diterapkan dalam pekerjaan.

Kondisi ini dikenal sebagai skills mismatch, yakni ketika kompetensi yang dimiliki tenaga kerja belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan pekerjaan. Fenomena tersebut menjadi salah satu perhatian dalam pembahasan ketenagakerjaan di Indonesia.

Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan Kementerian Ketenagakerjaan, Anwar Sanusi, mengatakan ketidaksesuaian kompetensi dengan kebutuhan pekerjaan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.

“Fenomena pengangguran lulusan perguruan tinggi disebabkan adanya mismatch antara kompetensi jabatan dengan keterampilan yang dimiliki,” ujar Anwar, dikutip ANTARA.

Selain kompetensi teknis, Anwar juga menyoroti pentingnya literasi digital dan soft skills. Hal ini menunjukkan bahwa perjalanan pendidikan menuju dunia kerja tidak berhenti ketika mahasiswa memperoleh gelar, tetapi berlanjut pada bagaimana pengetahuan tersebut diterapkan dalam situasi profesional.

Penelitian yang dipublikasikan pada 2026 oleh peneliti dari Universitas Indonesia juga melihat persoalan labor market mismatch pada lulusan universitas di Indonesia. Penelitian tersebut membahas ketidaksesuaian secara vertikal, horizontal, dan berbasis keterampilan, serta menunjukkan bahwa ketidaksesuaian tersebut dapat berpengaruh terhadap hasil ekonomi lulusan.

Pengalaman Menjadi Bagian dari Persiapan

Memasuki dunia kerja juga berarti berhadapan dengan kebutuhan pengalaman yang tidak selalu diperoleh melalui perkuliahan di ruang kelas.

Karena itu, berbagai pengalaman selama menjadi mahasiswa dapat menjadi bagian dari proses mempersiapkan diri. Magang, organisasi, kegiatan penelitian, proyek kampus, kompetisi, maupun kegiatan sosial dapat memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal pola kerja secara lebih nyata.

Pengalaman tersebut juga membantu mahasiswa memahami kemampuan apa yang sudah dimiliki dan bagian mana yang masih perlu dikembangkan.

Perguruan tinggi pun terus didorong untuk memperkuat keterhubungan antara pembelajaran dan kebutuhan dunia kerja. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada Agustus 2026 menekankan pentingnya relevansi pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan mendorong agar pendidikan menghasilkan lulusan yang berkarakter, berintegritas, serta mampu menghadirkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat dan dunia usaha.

Upaya tersebut menunjukkan bahwa pendidikan dan dunia kerja tidak perlu dipandang sebagai dua ruang yang terpisah. Kampus dapat menjadi tempat bagi mahasiswa untuk memperoleh fondasi pengetahuan, sementara pengalaman di luar kelas menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan tersebut.

Bukan Sekadar Mencari Pekerjaan, tetapi Menemukan Kecocokan

Ada hal lain yang juga menarik dalam perjalanan lulusan perguruan tinggi, yakni persoalan kecocokan antara pendidikan dan pekerjaan.

Tidak semua lulusan pada akhirnya bekerja persis sesuai dengan jurusan yang ditempuh. Sebagian menemukan peluang di bidang yang masih berhubungan dengan kompetensinya, sementara sebagian lainnya memilih bidang berbeda karena menemukan minat atau kesempatan baru.

Kondisi tersebut tidak selalu berarti pendidikan yang ditempuh menjadi sia-sia. Kemampuan berpikir, komunikasi, pemecahan masalah, kerja sama, serta pengalaman menyelesaikan berbagai persoalan selama kuliah dapat menjadi bekal yang digunakan di berbagai bidang pekerjaan.

Dengan demikian, tantangan lulusan perguruan tinggi bukan hanya tentang mendapatkan pekerjaan pertama, tetapi juga menemukan ruang yang memungkinkan kompetensi mereka berkembang.

Kampus, Industri, dan Mahasiswa Punya Peran Bersama

Persiapan menuju dunia kerja pada akhirnya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

Perguruan tinggi dapat memperkuat pembelajaran berbasis praktik, memperluas program magang, membangun kolaborasi dengan industri, serta menyediakan layanan pengembangan karier bagi mahasiswa.

Di sisi lain, mahasiswa dapat mulai membangun kompetensi sejak masih berada di bangku kuliah. Tidak harus menunggu wisuda untuk mengenal dunia profesional. Pengalaman organisasi, proyek, kegiatan akademik, penelitian, maupun pekerjaan paruh waktu dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kemampuan dan mengenali bidang yang sesuai dengan minat.

Bagi perusahaan, keterhubungan dengan perguruan tinggi juga dapat membuka ruang untuk mengenalkan kebutuhan industri sejak lebih awal. Kolaborasi tersebut dapat membantu mahasiswa memahami kompetensi yang dibutuhkan sekaligus membantu industri mengenali potensi talenta muda.

Pada akhirnya, gelar sarjana tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikan dan karier. Namun, gelar akan menjadi semakin bermakna ketika berjalan bersama kemampuan yang relevan, pengalaman, karakter, dan kemauan untuk terus belajar.

Dunia kerja terus berubah, begitu pula kebutuhan terhadap tenaga profesional. Karena itu, perjalanan mahasiswa sebaiknya tidak berhenti pada target memperoleh ijazah. Ada proses panjang untuk membangun kemampuan, mencoba berbagai pengalaman, mengenali potensi diri, dan menemukan bidang yang ingin ditekuni.

Dengan pendidikan yang semakin terhubung dengan kebutuhan masyarakat dan dunia usaha, serta mahasiswa yang aktif mengembangkan kompetensinya, perjalanan dari kampus menuju dunia kerja dapat menjadi proses untuk menemukan bukan hanya pekerjaan, tetapi juga ruang bagi generasi muda untuk tumbuh dan memberikan kontribusi.