Tugas Kuliah Jadi Portofolio Digital: Cara Mahasiswa di Era AI

Mahasiswa Teknik Informatika Universitas Pamulang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Iqbal Julyansyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tugas kuliah yang selama ini hanya tersimpan di laptop ternyata bisa menjadi cara mahasiswa menunjukkan kemampuan di dunia digital.
Bagi mahasiswa Teknik Informatika, membuat website, sistem informasi, aplikasi, atau dashboard merupakan bagian dari aktivitas perkuliahan. Setelah tugas selesai dan nilai diberikan, tidak sedikit proyek tersebut kemudian hanya tersimpan di laptop, flashdisk, atau repository yang jarang dibuka kembali.
Padahal, proyek-proyek tersebut dapat dikembangkan menjadi portofolio digital. Terlebih di tengah perkembangan kecerdasan artifisial (AI), ketika membuat sebuah website semakin mudah dilakukan dengan bantuan berbagai alat AI. Tantangannya kemudian bukan hanya bagaimana membuat website, tetapi bagaimana menunjukkan bahwa proyek tersebut benar-benar merepresentasikan kemampuan pembuatnya.
Perubahan cara membuat perangkat lunak memang sedang berlangsung. Survei Developer Ecosystem Survey 2026 dari JetBrains terhadap lebih dari 15.000 developer profesional di seluruh dunia menunjukkan bahwa 90 persen responden menggunakan AI coding agents di tempat kerja setidaknya setiap minggu, sementara 68 persen menggunakannya setiap hari.
Artinya, penggunaan AI dalam proses pengembangan software bukan lagi sekadar eksperimen. AI mulai menjadi bagian dari alur kerja developer, termasuk untuk membantu menghasilkan dan memodifikasi kode.
Ketika Membuat Website Semakin Mudah
Perkembangan tersebut juga membuat proses pembuatan website menjadi lebih mudah bagi mahasiswa. Dengan memberikan instruksi dalam bahasa sehari-hari, AI dapat membantu membuat struktur HTML, styling CSS, fungsi JavaScript, hingga memperbaiki kode yang mengalami error.
Di sisi lain, kemudahan tersebut membuat sebuah pertanyaan menjadi semakin relevan: jika semakin banyak orang dapat membuat website dengan bantuan AI, apa yang membuat sebuah portofolio terlihat berbeda?
Jawabannya tidak hanya terletak pada tampilan.
Portofolio yang menarik secara visual memang dapat memberikan kesan pertama yang baik. Namun, sebuah portofolio mahasiswa juga dapat menjadi ruang untuk menunjukkan bagaimana ia menyelesaikan masalah, memilih teknologi, menghadapi kendala, dan mengembangkan sebuah proyek.
Hal tersebut menjadi semakin penting ketika AI dapat membantu menghasilkan sebagian besar kode. Dalam survei JetBrains 2026, developer profesional melaporkan bahwa rata-rata sekitar 47 persen kode mereka sepenuhnya dihasilkan oleh AI agents dan sekitar 38 persen dibuat dengan bantuan AI. Angka tersebut merupakan hasil laporan developer profesional global dan tidak dapat langsung dianggap mewakili mahasiswa Indonesia.
Tugas Kuliah Bisa Menjadi Portofolio
Sebenarnya, mahasiswa tidak selalu harus menunggu mendapatkan proyek besar untuk mulai membangun portofolio.
Sebuah tugas kuliah sederhana dapat dikembangkan menjadi proyek portofolio. Misalnya, tugas membuat website menggunakan PHP dan MySQL tidak harus ditampilkan hanya dengan keterangan “membuat website menggunakan PHP dan MySQL.”
Mahasiswa dapat menjelaskan masalah yang ingin diselesaikan, fitur yang dibuat, teknologi yang digunakan, bagian yang dikerjakan secara mandiri, kendala selama pengembangan, hingga solusi yang diterapkan.
Jika memungkinkan, proyek juga dapat dilengkapi dengan tautan demo, repository GitHub, tangkapan layar, atau dokumentasi singkat. Dengan demikian, orang yang melihat portofolio tidak hanya mengetahui hasil akhirnya, tetapi juga mendapatkan gambaran mengenai proses di balik proyek tersebut.
Portofolio kemudian berfungsi seperti rekam jejak digital. Ia menunjukkan apa yang pernah dikerjakan sekaligus bagaimana seseorang mengembangkan kemampuan dari satu proyek ke proyek berikutnya.
Fenomena ini juga relevan dengan perkembangan kebutuhan talenta digital di Indonesia. Laporan Indonesia Developer Outlook 2026 dari Dicoding, yang melibatkan 3.163 responden, mencatat bahwa sembilan dari sepuluh developer profesional yang disurvei merasakan peningkatan produktivitas sebesar 20–50 persen atau lebih melalui penggunaan AI generatif. Laporan yang sama menyebut 75 persen developer profesional merasa keterampilan teknis dan praktis lebih banyak dipelajari di luar bangku perguruan tinggi.
Temuan tersebut menunjukkan pentingnya pengalaman praktis. Bagi mahasiswa, proyek perkuliahan dapat menjadi salah satu cara untuk mendokumentasikan pengalaman tersebut secara konkret.
Portofolio Bukan Sekadar Pajangan
Di era AI, portofolio juga perlu menunjukkan lebih dari sekadar kemampuan menghasilkan tampilan website.
Mahasiswa dapat memperlihatkan kemampuan dalam memahami struktur kode, mengelola database, mengintegrasikan API, melakukan debugging, menguji aplikasi, hingga menjelaskan keputusan teknis yang diambil selama proses pengembangan.
Hal ini bukan berarti penggunaan AI harus dihindari. Justru, AI dapat digunakan sebagai alat bantu untuk belajar dan mempercepat pekerjaan. Namun, mahasiswa tetap perlu memahami hasil yang diberikan AI dan mampu memeriksa apakah kode tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan proyek.
Penggunaan AI dalam proses belajar pemrograman juga memiliki tantangan tersendiri. Penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Artificial Intelligence in Education pada 2025 membahas penggunaan generative AI dalam pembelajaran pemrograman, termasuk tantangan mahasiswa dalam mengidentifikasi dan memperbaiki kesalahan pada kode yang dihasilkan AI. Temuan ini menunjukkan bahwa mendapatkan kode yang berfungsi belum cukup; mahasiswa tetap perlu memahami cara kerja kode dan mampu mengevaluasi hasil yang diberikan AI.
Hal tersebut menjadi penting ketika tugas kuliah dikembangkan menjadi portofolio. Website atau aplikasi yang berhasil dibuat bukan satu-satunya hal yang perlu ditampilkan. Mahasiswa juga dapat menjelaskan masalah yang ingin diselesaikan, teknologi yang digunakan, bagian yang dikerjakan sendiri, serta bagaimana proses pengembangan dan perbaikannya dilakukan.
Mulai dari Proyek yang Sudah Ada
Membangun portofolio tidak harus dimulai dengan membuat proyek yang rumit. Mahasiswa dapat membuka kembali folder tugas kuliah yang selama ini tersimpan di laptop dan memilih proyek yang paling relevan dengan bidang yang ingin ditekuni.
Proyek tersebut kemudian dapat diperbaiki, didokumentasikan, dan dipublikasikan dalam bentuk portofolio. Jika ingin berkarier sebagai web developer, misalnya, proyek dapat menunjukkan kemampuan dalam frontend, backend, database, API, maupun deployment.
Pada akhirnya, portofolio digital bukan hanya halaman berisi nama, foto, dan daftar kemampuan. Portofolio dapat menjadi bukti perjalanan belajar seorang mahasiswa.
Ketika AI membuat proses pengembangan website semakin mudah, kemampuan mahasiswa tidak harus ditunjukkan dengan siapa yang menulis kode paling banyak. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana seseorang memahami masalah, memanfaatkan teknologi, menguji hasil, dan mampu menjelaskan karya yang telah dibuat.
Karena itu, mungkin sudah waktunya melihat kembali tugas kuliah bukan sebagai pekerjaan yang selesai setelah mendapatkan nilai, tetapi sebagai karya yang dapat menjadi bagian dari perjalanan profesional di dunia digital.
