Konten dari Pengguna

Monumen Kapal Selam Surabaya: Perjalanan Edukatif Menyelami Monkasel

Iqbal Kusuma

Iqbal Kusuma

Mahasiswa Universitas Airlangga Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Program Studi Ekonomi Islam.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Iqbal Kusuma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hujan deras menyambut kedatangan saya dan teman-teman kelompok dari Universitas Airlangga di Monumen Kapal Selam (Monkasel) Surabaya pada 21 Oktober 2025. Kunjungan ini merupakan bagian dari proyek Field Study, yaitu kegiatan pengumpulan data secara langsung di lapangan untuk memahami fenomena dan mengaitkannya dengan teori yang telah dipelajari di perkuliahan. Dalam kegiatan ini, kami memilih Monumen Kapal Selam sebagai objek penelitian karena memiliki nilai sejarah dan edukasi yang kuat. Dari parkiran, kami sempat berteduh sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kapal sungguhan — sesuatu yang jarang bisa dilakukan di tempat lain. Rasa penasaran membuat saya tak sabar menelusuri isi kapal yang pernah berjuang di lautan Indonesia.

Tampak luar Monumen Kapal Selam (KRI Pasopati 410).
zoom-in-whitePerbesar
Tampak luar Monumen Kapal Selam (KRI Pasopati 410).

Menjelajahi Monumen Kapal Selam dari Dekat

Dari luar, kapal berwarna hijau dan hitam itu berdiri kokoh di tepi Sungai Kalimas. Ukurannya jauh lebih besar dari bayangan saya. Air hujan membentuk genangan kecil di sekelilingnya, sementara beberapa pengunjung lain ikut berteduh. Di tengah hiruk-pikuk kota modern seperti Surabaya, kehadiran kapal perang sungguhan terasa seperti potongan sejarah yang masih hidup di antara gedung-gedung tinggi dan lalu lintas padat.

Monumen Kapal Selam Surabaya dibangun pada tahun 1995 dengan peletakan batu pertama pada 1 Juli 1995, dan diresmikan pada 27 Juni 1998. Pembangunan ini dilakukan atas kerja sama antara TNI Angkatan Laut dan Pemerintah Kota Surabaya, sebagai bentuk pelestarian sejarah perjuangan para prajurit laut. Kini, monumen ini dikelola di bawah Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya.

(Sumber: Museum Kemenbud.go.id, 2024)

Begitu melangkah masuk ke dalam kapal, suasananya langsung berubah. Udara terasa pengap dan lembap, lorongnya yang sempit membuat saya harus sedikit menunduk agar kepala tidak terbentur. Dinding-dinding penuh pipa, kabel, dan tombol-tombol yang masih terawat. Tidak ada ruang kosong — setiap inci di dalam kapal ini memiliki fungsi penting.

Lorong dalam kapal dengan instalasi mekanik di sekelilingnya.

Sejarah dan Perjalanan KRI Pasopati 410

Kapal ini ternyata bukan replika, melainkan kapal sungguhan bernama KRI Pasopati 410, buatan Uni Soviet pada 1952. Kapal selam ini memiliki panjang 76,6 meter, lebar 6,3 meter, dan berat mencapai 1.300 ton. Ditenagai mesin diesel elektrik, kapal ini mampu menjelajah sejauh 8.500 mil laut dan menyelam hingga kedalaman 300 meter. Persenjataannya meliputi 12 torpedo, dan diawaki sekitar 63 personel Angkatan Laut.

(Sumber: Katadata.co.id, 2023)

Saya berjalan perlahan mengikuti jalur sempit hingga tiba di ruang peluncur torpedo di bagian depan kapal. Sebuah torpedo besar masih dipajang di sana, lengkap dengan alat kontrolnya. Rasanya aneh sekaligus menakjubkan, membayangkan bagaimana para awak kapal dulu bekerja di ruang sekecil itu — hidup berhari-hari di bawah laut, tanpa sinar matahari, tanpa tahu kapan bisa naik ke permukaan lagi.

Ruang peluncur torpedo di bagian depan kapal.

Melihat kondisi di dalam kapal membuat saya sadar betapa berat tugas mereka. Kapal ini bukan hanya alat perang, tetapi juga rumah bagi para prajurit yang menjaga kedaulatan laut Indonesia. Mereka mungkin tak terlihat, tapi peran mereka luar biasa besar.

Setelah keluar dari kapal, kami menuju ke ruangan kecil tempat pemutaran film dokumenter tentang sejarah KRI Pasopati 410 — mulai dari awal pengabdiannya hingga akhirnya dinonaktifkan dan dijadikan monumen edukatif. Film tersebut memperlihatkan bagaimana kapal ini menjadi saksi perjuangan para prajurit laut dalam menjaga kedaulatan Indonesia. Tayangan berdurasi sekitar 10 menit itu benar-benar memberikan gambaran jelas tentang betapa beratnya perjuangan para awak kapal di masa lalu.

Wawancara dengan Kepala Operasional Monkasel

Usai menonton film, kami berkesempatan berbincang langsung dengan Pak Sukarman, Kepala Operasional Monumen Kapal Selam Surabaya (2025). Dalam wawancara singkat itu, beliau menjelaskan bahwa monumen ini berasal dari kapal selam KRI Pasopati, yang dulu turut berperan penting dalam Operasi Trikora untuk pembebasan Irian Barat.

“Karena nilai perjuangannya besar, TNI AL dan Gubernur Jawa Timur akhirnya sepakat menjadikannya Monumen Kapal Selam sebagai ikon Kota Surabaya,” ujar Pak Sukarman.

Beliau juga menuturkan bahwa perawatan kapal dilakukan secara rutin agar kondisinya tetap terjaga.

“Pengecatan dan perawatan dilakukan setiap dua tahun sekali sesuai SOP, di bawah naungan Koperasi TNI AL,” tambahnya.

Selain itu, pengelola juga aktif mempromosikan monumen ini agar tetap dikenal masyarakat luas.

“Promosi kami lakukan melalui media sosial, terutama Instagram, dan penyebaran brosur di area wisata Surabaya. Tujuannya supaya Monkasel tetap eksis di kalangan generasi muda,” tuturnya.

Menariknya, berdasarkan data dari Detik.com (2022), sebelum dijadikan monumen, kapal ini dipotong menjadi 16 bagian besar agar bisa dipindahkan dari pelabuhan ke tepi Sungai Kalimas. Setelah itu, bagian-bagian tersebut disusun kembali dan direstorasi agar bentuk aslinya tetap terjaga.

Dokumentasi wawancara bersama kepala operasional Monumen Kapal Selam.

Menurut data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya (2024), Monumen Kapal Selam kini menjadi salah satu destinasi edukatif paling ramai di kota ini, dengan rata-rata lebih dari 200.000 pengunjung setiap tahun, mayoritas pelajar dan mahasiswa. Monkasel buka setiap hari pukul 08.00–21.00 WIB dengan tiket masuk sekitar Rp15.000 per orang.

(Sumber: Disbudporapar Surabaya & Kumparan.com, 2023–2024)

Refleksi Pribadi

Sebagai generasi muda, saya merasa penting untuk mengenal sejarah seperti ini. Bukan untuk sekadar menghafal nama-nama kapal atau tahun peristiwa, tetapi untuk memahami nilai perjuangan yang ada di baliknya. Kadang kita terlalu sibuk dengan hal-hal modern, sampai lupa bahwa kenyamanan yang kita nikmati sekarang adalah hasil dari kerja keras dan pengorbanan orang-orang yang datang sebelum kita.

Kunjungan kami ke Monumen Kapal Selam dalam kegiatan Field Study ini memberikan pengalaman yang tidak sekadar wisata, tetapi juga pembelajaran sejarah yang nyata. Dari cerita, wawancara, dan data yang kami peroleh, saya memahami bahwa semangat nasionalisme bukan hanya soal kata-kata, melainkan keberanian dan tanggung jawab yang diwujudkan dalam tindakan.

Monumen Kapal Selam bukan sekadar tempat wisata, tetapi ruang refleksi bagi siapa pun yang ingin memahami arti perjuangan dan cinta tanah air. Di kapal yang sunyi itu, sejarah terasa hidup — mengingatkan kita bahwa perjuangan tidak selalu lantang, tetapi nyata di balik setiap tindakan pengabdian.