Konten dari Pengguna

Pendidikan Indonesia: Mimpi Besar yang Masih Tertatih

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhamad Iqbal Razqi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap pagi, di pelosok Halmahera, seorang anak bernama Rafi berjalan hampir dua jam melewati hutan dan sungai demi bisa tiba di sekolah. Sementara di Jakarta, anak-anak seusianya belajar lewat layar tablet di ruang kelas ber-AC. Ini bukan kisah fiksi. Ini realita pendidikan di Indonesia—kontras yang mencolok antara kota dan desa.

Sumber Gambar oleh AkshayaPatra Foundation dari Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Gambar oleh AkshayaPatra Foundation dari Pixabay

Ketimpangan Masih Nyata

Meski Indonesia sudah lebih dari dua dekade menerapkan Wajib Belajar 12 Tahun, akses pendidikan yang merata masih jadi tantangan besar. Data BPS menunjukkan bahwa angka partisipasi sekolah di jenjang SMA sederajat di daerah terpencil masih jauh tertinggal dibandingkan perkotaan. Padahal, pendidikan adalah hak setiap anak, bukan hak istimewa mereka yang tinggal di kota besar.

Guru dan Beban yang Tak Seimbang

Masalah tidak berhenti di akses. Guru-guru di Indonesia juga memikul beban berat—bukan hanya beban mengajar, tapi juga beban administratif, gaji yang minim (terutama bagi guru honorer), dan kurikulum yang terus berubah tanpa dukungan pelatihan yang memadai. Tak heran jika banyak guru akhirnya lebih sibuk mengejar sertifikasi daripada fokus pada kualitas mengajar.

Kurikulum dan Dunia Nyata: Masih Jauh Berjalan

Di era digital dan AI, kurikulum kita masih menekankan hafalan daripada pemahaman. Padahal, dunia kerja menuntut kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas. Siswa Indonesia dinilai rendah dalam PISA (Program for International Student Assessment) dalam aspek literasi, matematika, dan sains—indikator penting yang menggambarkan kesiapan anak dalam menghadapi tantangan global.

Harapan dari Gerakan Akar Rumput

Meski begitu, tak sedikit harapan tumbuh dari bawah. Komunitas belajar seperti Kampus Guru Cikal, Sekolah Literasi Rakyat, hingga gerakan belajar daring di masa pandemi membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari mana saja. Teknologi membuka banyak pintu, asalkan jaringan internet tak jadi penghalang.

Merdeka Belajar: Solusi atau Sekadar Slogan?

Kebijakan Merdeka Belajar yang digaungkan pemerintah menjadi angin segar. Tapi di lapangan, penerapannya masih timpang. Sekolah di kota mungkin bisa langsung beradaptasi. Tapi sekolah di desa, yang bahkan belum memiliki komputer, masih kebingungan dengan implementasi konsep ini.

Menatap ke Depan

Indonesia punya mimpi besar untuk menjadi negara maju di 2045. Tapi mimpi itu akan tetap jadi angan jika pendidikan tak dibenahi dari akarnya. Kita butuh lebih dari sekadar kebijakan; kita butuh keberpihakan yang nyata—pada guru, siswa, dan keluarga mereka.

Karena masa depan bangsa tidak lahir dari ruang rapat, tapi dari ruang kelas yang hidup, inklusif, dan penuh semangat belajar.