Konten dari Pengguna

Netizen Jadi Psikolog Dadakan: Satu Konten, Seribu Diagnosis

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Iqlima Aulia Arimbi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: pexels/Hamza Samadh
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: pexels/Hamza Samadh

Suatu hari, sebuah akun base kampus di media sosial Twitter atau X menerima kiriman pesan yang cukup membuat geleng-geleng. Seseorang mengaku ingin punya pasangan yang “agak ada NPD NPD-nya dikit” karena dianggap lebih percaya diri, tidak peduli omongan orang lain, dan terlihat tidak gampang insecure.

Ratusan orang melihat tweet itu. Reaksi netizen pun terbelah, sebagian langsung menegur bahwa yang dimaksud bukan NPD, ada yang lebih julid dengan berkata "tau NPD ga sih?", tapi sebagian lain malah asyik mention teman-teman mereka yang dianggap cocok dengan deskripsi itu. Padahal yang mereka maksud jelas bukan NPD, melainkan seseorang yang percaya diri dan tidak mudah goyah. Narcissistic Personality Disorder (NPD) adalah gangguan kepribadian serius yang diagnosisnya butuh proses panjang, bukan label untuk orang yang kelihatan sangat percaya diri dan tidak gampang insecure.

Fenomena seperti ini sekarang semakin mudah ditemukan di internet dan berbagai platform media sosial seperti Twitter/X, TikTok, dan Instagram. Istilah dalam psikologi seperti “NPD”, “bipolar”, hingga “ADHD” semakin sering dipakai untuk menjelaskan perilaku seseorang hanya dari potongan cerita atau interaksi singkat di kolom komentar.

Di tengah tren tersebut, banyak juga pengguna media sosial yang mulai sadar bahwa cara ini terlalu menyederhanakan kondisi manusia yang kompleks.

Salah satu komentar berbunyi:

“Sosmed memang bikin orang jadi psikolog dadakan dan orang lain jadi pasiennya.”

Komentar itu memang singkat, namun terdapat makna yang ternyata jauh lebih besar.

Sumber: pexels/Ron Lach

Tapi Seberapa Besar Sebenarnya Fenomena Ini?

Data dari Pew Research Center (2025) menunjukkan bahwa 95% remaja di Amerika Serikat menggunakan media sosial (Twitter, TikTok, Instagram, dsb.) dengan rata-rata tiga sampai lima jam per hari, kondisi yang kemungkinan tidak jauh berbeda di Indonesia.

Di tengah tingginya angka itu, konten psikologi ikut meledak. Psikolog, konselor, hingga kreator konten berlomba membahas isu kesehatan mental lewat konten singkat dengan tujuan yang baik untuk mengurangi stigma dan meningkatkan kesadaran. Tapi ada efek sampingnya, yaitu istilah klinis yang tadinya digunakan dalam ruang terapi, kini jadi label cepat di kolom komentar.

Sebelum membahas dampaknya, ada satu hal mendasar yang perlu dipahami dulu bahwa diagnosis psikologis bukan sekadar menyebut nama gangguan.

Diagnosisnya Panjang, Bukan Hanya dari Satu Konten

Dalam praktik yang sesungguhnya, proses psikodiagnostik jauh lebih panjang dari yang kebanyakan orang bayangkan. Psikolog perlu mengidentifikasi dan menggali informasi klien secara menyeluruh, merumuskan masalah, wawancara mendalam dengan klien maupun orang-orang di sekitarnya, hingga serangkaian tes psikologi yang sesuai. Setelah semua data itu terkumpul, barulah psikolog bisa menganalisis kondisi klien dan menentukan diagnosis serta langkah penanganan yang tepat. Artinya, apa yang terlihat dalam satu video berdurasi sekian menit hanyalah serpihan kecil dari gambaran yang jauh lebih kompleks.

Istilah Klinis Punya Makna yang Sangat Spesifik

Merujuk pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Edisi Ke-5 (DSM-5-TR) yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association (2022), setiap istilah ini punya kriteria diagnosis yang spesifik. Bipolar disorder bukan sekadar mood swing, melainkan gangguan dengan perubahan suasana hati yang ekstrem antara fase sangat berenergi dan fase depresi yang memengaruhi fungsi kehidupan sehari-hari. ADHD bukan hanya mudah bosan atau tidak fokus, melainkan gangguan perhatian, impulsivitas, dan hiperaktivitas yang konsisten muncul di berbagai situasi. Dan NPD bukan berarti percaya diri berlebihan, ini gangguan kepribadian serius yang ditandai kebutuhan ekstrem untuk dikagumi dan rendahnya empati. Semua kondisi ini tidak bisa disimpulkan dari satu potongan perilaku saja.

Kenapa Netizen Cepat Menyimpulkan?

Fenomena ini punya penjelasan dari sisi psikologi kognitif. Dunning-Kruger effect yang pertama kali diidentifikasi Kruger & Dunning (1999) menggambarkan kecenderungan seseorang merasa paling yakin justru ketika pemahamannya masih terbatas. Karena sudah mengonsumsi banyak konten psikologi di media sosial, kita merasa cukup paham untuk "membaca" kondisi orang lain, padahal yang kita pahami baru permukaannya saja.

Ini Bukan Salah Netizen Sepenuhnya

Otak manusia memang terbiasa mencari pola dan penjelasan cepat. Dalam psikologi, hal ini berkaitan dengan availability heuristic, yaitu kecenderungan seseorang membuat penilaian berdasarkan informasi yang paling mudah muncul di pikirannya, seperti yang dijelaskan Tversky & Kahneman (1973). Karena media sosial terus-menerus membahas anxiety, ADHD, bipolar, OCD, atau NPD, orang jadi merasa kondisi tersebut mudah dikenali hanya dari potongan perilaku singkat di internet.

Selain itu, ada juga kebutuhan akan kepastian atau need for cognitive closure. Ketika menghadapi situasi yang ambigu, manusia cenderung ingin segera mendapatkan jawaban yang terasa jelas dan pasti, sebagaimana dijelaskan Kruglanski dan Webster (1996). Memberi label seperti “NPD” atau “bipolar” sering membuat kita merasa situasinya sudah jelas dan orangnya sudah “ketebak”, padahal informasi yang kita punya sebenarnya belum tentu cukup untuk menyimpulkan hal itu.

Fenomena ini juga semakin kuat karena media sosial perlahan membuat isu kesehatan mental menjadi bagian dari identitas diri. Tanpa sadar, komentar seperti “fix dia ADHD, soalnya perfeksionis banget!” atau “NPD banget” bukan cuma dipakai untuk menilai orang lain, tetapi juga untuk menunjukkan bahwa kita merasa lebih paham dan lebih “aware” terhadap isu psikologi. Akibatnya, pengetahuan tentang kesehatan mental tidak lagi sekedar dipahami, tetapi juga ditampilkan sebagai bagian dari citra diri di media sosial.

Lalu Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Bukan berarti kita harus berhenti belajar psikologi dari internet, loh. Meningkatnya literasi kesehatan mental adalah hal yang baik, tapi yang perlu dilatih adalah membedakan antara mengenali perilaku dengan mendiagnosis seseorang. Ada tiga hal kecil yang bisa mulai kita biasakan dalam keseharian, seperti ganti labeling orang dengan deskripsikan saja perilakunya, arahkan orang tersebut untuk meminta bantuan profesional ketika benar-benar khawatir, dan lebih kritis mengonsumsi konten psikologi yang terlalu menyederhanakan kondisi manusia yang kompleks.

Penutup

Pada akhirnya, literasi kesehatan mental bukan soal siapa yang paling banyak tahu istilah psikologi, tetapi soal sejauh mana kita mampu memahami manusia tanpa terlalu cepat memberi label.

Mungkin lain kali sebelum menulis "fix NPD" atau "dia bipolar banget, sih" di kolom komentar, kita bisa berhenti sebentar dan bertanya: apakah kita benar-benar memahami orang itu, atau hanya sedang mencoba menyederhanakan manusia menjadi sebuah label?

Diagnosis bukanlah milik kolom komentar. Dan empati, sering kali jauh lebih penting daripada merasa paling tahu.

________________________________________________

Oleh Iqlima Aulia Arimbi dan Dr. Rachmat Mulyono, M.Si., Psikolog