Konten dari Pengguna

Gaji Naik, Gaya Hidup Kebablasan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Iqvi nur hidayati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar 1. Ilustrasi dibuat dengan AI, 2026.
zoom-in-whitePerbesar
Gambar 1. Ilustrasi dibuat dengan AI, 2026.

Gaji naik itu impian semua orang, tapi kenapa ya begitu beneran naik, saldo di rekening tetap aja pas-pasan? Bukannya makin rajin menabung, kenaikan gaji sering kali cuma berubah jadi alasan buat upgrade gaya hidup tanpa permisi.

Kalau kamu mengalami hal ini, kamu gak sendirian. Ini adalah fenomena nyata yang sangat umum terjadi di kalangan pekerja saat ini, yang di dalam ilmu keuangan dikenal dengan istilah Lifestyle Creep (atau inflasi gaya hidup).

Secara tidak sadar, setiap kali pendapatan kita bertambah, standar hidup dan pengeluaran kita ikut-ikutan bergeser ke atas. Yang dulunya jajan kopi saset sudah cukup, sekarang harus kopi kafe tiap hari. Yang dulunya naik transportasi umum nyaman-nyaman saja, sekarang maunya selalu naik taksi online.

Membaca Fenomena lewat Teori Manajemen Keuangan

Mengapa manusia sangat mudah terjebak dalam lingkaran ini? Ada dua teori penting dalam manajemen keuangan yang bisa menjelaskan perilaku ini:

Teori Relative Income Hypothesis

Teori ini menyebutkan bahwa konsumsi seseorang tidak hanya dipengaruhi oleh pendapatan mutlaknya, tetapi juga oleh lingkungan sosial sekitarnya. Ketika gaji naik, kita cenderung ingin "menyesuaikan" diri dengan standar hidup baru orang-orang di sekitar kita atau rekan kerja yang dianggap setara. Gengsi dan keinginan untuk dianggap sukses sering kali mengalahkan logika menabung.

Hierarki Konsumsi dan Hukum Parkinson

Ada hukum yang bilang kalau pengeluaran akan selalu bertambah seiring dengan bertambahnya pendapatan, kecuali kita secara sadar menahannya. Tanpa adanya rem yang kuat, uang ekstra yang kita dapatkan tidak akan pernah menjadi aset, melainkan langsung terserap menjadi biaya gaya hidup yang sebenarnya tidak krusial.

Mengintip Celah Antara Ekspektasi dan Realita

  • Alokasi Tabungan (Saving Rate)

Secara ideal (Desired State), setiap kali ada kenaikan pendapatan, persentase uang yang ditabung seharusnya ikut naik atau minimal stabil di angka 20% ke atas. Namun pada realitanya (Current State), persentase tabungan justru jalan di tempat atau malah menyusut karena uangnya habis untuk membiayai pengeluaran baru. Celah ini terjadi karena kita tidak memiliki target menabung yang jelas sebelum membelanjakan uang.

  • Standar Kebutuhan (Needs vs Wants)

Kondisi ideal menuntut kita untuk tetap konsisten membedakan mana yang benar-benar kebutuhan hidup dan mana yang sekadar keinginan. Sayangnya, kondisi riil menunjukkan bahwa kenaikan gaji sering membuat kita meng-upgrade "keinginan" menjadi seolah-olah "kebutuhan" (seperti harus ganti gawai terbaru, langganan berbagai layanan hiburan, hingga sering makan di luar). Celah masalahnya adalah hilangnya batasan pengeluaran akibat kelonggaran finansial sesaat.

  • Dana Darurat dan Masa Depan

Kondisi yang ideal adalah dana darurat yang bertambah kuat seiring meningkatnya aktivitas dan risiko hidup. Tapi dalam kenyataannya, karena gaya hidup yang semakin tinggi, kebutuhan dana darurat yang seharusnya ikut membesar justru diabaikan. Celah masalah di sini adalah risiko rentan krisis yang tinggi; jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada pekerjaan atau kesehatan, gaya hidup yang terlanjur tinggi akan sangat sulit dan menyakitkan untuk diturunkan secara mendadak.

Bagaimana cara menutup celah gaya hidup tersebut?

Boleh-boleh saja menikmati hasil kerja keras dan merayakan kenaikan gaji. Tapi agar keuangan jangka panjang tidak boncos, kamu bisa menutup celah ini dengan beberapa langkah nyata:

  • Terapkan Aturan Save the Raise (Tabung Kenaikannya)

Setiap kali kamu mendapatkan kenaikan gaji atau bonus, langsung amankan minimal 50% dari selisih kenaikan tersebut ke rekening tabungan atau investasi sebelum kamu sempat menyentuhnya. Jadikan itu uang yang "tidak pernah ada".

  • Bedakan Upgrade yang Produktif dan Konsumtif

Gak apa-apa meningkatkan pengeluaran kalau itu menunjang produktivitas atau kesehatan, misalnya membeli laptop yang lebih cepat untuk kerja sampingan atau beralih ke makanan yang lebih sehat. Yang harus dihindari adalah upgrade yang sifatnya hanya untuk kesenangan sesaat atau pamer.

  • Buat Target Menabung Otomatis

Gunakan fitur auto-debet di rekening tepat pada hari gajian. Dengan cara ini, kamu dipaksa untuk bertahan hidup dengan uang yang tersisa, bukan menabung dari sisa uang belanja di akhir bulan.

Kunci biar gak stres soal uang sebenarnya simpel, bukan seberapa gaya hidup yang bisa kita pamerin hari ini, tapi seberapa aman tabungan dan masa depan yang lagi kita rapihin dari sekarang.

Jadi, coba deh cek lagi dompet sama pengeluaranmu bulan ini. Gajimu yang beneran naik, atau cuma gaya hidupmu aja yang lagi kebablasan?