Konten dari Pengguna

Inilah Faktor Penentu Kesuksesan Teamwork yang Sering Terlupakan

Irawan Bayu Aji

Irawan Bayu Aji

Pemerhati Kebijakan Publik

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Irawan Bayu Aji tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kerja sama. Foto: istockphoto
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kerja sama. Foto: istockphoto

Kalau dipikir-pikir, sering kali kita mengeluh tim tidak kompak, target tidak tercapai, atau pekerjaan terasa berat sekali dijalankan bersama. Rasanya anggota tim sudah capable, fasilitas cukup, tapi hasilnya tetap tidak sesuai harapan. Sampai pada satu titik, muncul pertanyaan yang agak tidak enak untuk diakui, jangan-jangan masalahnya bukan di tim, tapi di pemimpin.

Seringkali dilupakan bahwa, anggota tim sebenarnya hanya butuh satu hal sederhana yaitu, arah yang jelas. Banyak masalah muncul bukan karena orang tidak mau bekerja, tapi karena mereka bingung harus mulai dari mana, siapa mengerjakan apa, dan tujuan akhirnya ke mana. Ketika arahnya kabur, orang bekerja sendiri-sendiri, akhirnya hasilnya juga tidak nyambung satu sama lain.

Belum lagi soal semangat kerja. Jujur saja, siapa pun bisa lelah. Ada hari-hari ketika pekerjaan terasa berat, tekanan datang dari mana-mana, dan hasil kerja seolah tidak pernah cukup baik. Di situ peran pemimpin sebenarnya sederhana, cukup dengan memberi semangat. Bukan selalu dengan kata-kata besar, kadang cukup dengan menghargai usaha tim. Orang yang merasa dihargai biasanya mau berjuang lebih keras.

Hal lain yang sering bikin situasi makin sulit adalah ketika keputusan terus ditunda. Semua orang menunggu arah, tapi pemimpinnya ragu mengambil keputusan karena takut salah. Padahal, dalam banyak situasi, tim lebih membutuhkan keputusan yang cukup baik daripada menunggu keputusan sempurna yang tidak kunjung datang atau bahkan pengabaian pemimpin atas selera penting atau tidak pentingnya suatu pekerjaan yang mebutuhkan keputusan itu. Selain itu, risiko memang selalu ada, tapi pemimpin memang dituntut berani menanggungnya.

Yang juga tidak kalah penting, pemimpin tanpa sadar memperlakukan orang secara tidak adil. Ada yang lebih diperhatikan karena dekat secara personal, sementara yang lain merasa usahanya tidak terlihat. Lama-lama semangat kerja turun, bukan karena tidak mampu, tapi karena merasa percuma berusaha. Padahal, ketika penilaian dilakukan secara objektif, semua orang merasa punya kesempatan yang sama untuk berkembang.

Ada juga momen ketika kritik datang, entah dari anggota tim atau pihak lain. Memang tidak selalu enak didengar, Tetapi kadang pemimpin memiliki ego untuk langsung bereaksi, merasa diserang atau disalahkan. Padahal sebenarnya, kritik justru membantu pemimpin untuk melihat apa yang sebelumnya terlewat. Pemimpin yang mau mendengar biasanya justru lebih cepat berkembang.

Egoisme pemimpin juga seringkali mematikan potensi anggota tim. Karena takut pekerjaan tidak selesai dengan baik, pemimpin cenderung mengerjakan sendiri atau hanya mempercayakan tugas penting pada orang tertentu saja. Padahal, orang berkembang kalau diberi kesempatan. Dengan bekal yang memadai anggota tim pasti mampu menyelesaikan tugas.

Suasana kerja juga sering kali ditentukan oleh sikap pemimpinnya. Misal, kalau pemimpin mudah emosi, tim ikut tegang. Kalau pemimpin menciptakan suasana santai tapi tetap fokus, kerja terasa lebih ringan. Kekompakan tidak muncul sendiri, tapi tumbuh dari rasa saling percaya dan saling menghargai.

Hal lain yang perlu diakui, bahwa masih ada pemimpin yang melihat orang berdasarkan latar belakang atau identitas tertentu. Padahal, tim yang kuat adalah tim yang memberi kesempatan kepada siapa pun yang memang mampu dan mau bekerja dengan baik.

Dan yang paling berat mungkin adalah soal tanggung jawab. Ketika tim berhasil, mudah sekali berdiri di depan dan menerima pujian. Tapi ketika gagal, godaan untuk menyalahkan anggota tim sering muncul. Padahal, pemimpin sejati justru berdiri paling depan ketika masalah datang, melindungi timnya dan mencari solusi bersama.

Pemimpin harus menjadi teladan, bersikap dewasa, tidak terpengaruh bisikan pihak-pihak tertentu dan memiliki sudut pandang yang luas.

Akhirnya, semua kembali pada kebijaksanaan dalam menyikapi situasi. Tidak semua masalah harus diselesaikan dengan emosi, tidak semua konflik harus dimenangkan. Kadang yang dibutuhkan hanya kemampuan menahan diri, mendengar, lalu mencari jalan keluar yang terbaik untuk semua pihak.

Mungkin memang tidak ada pemimpin yang sempurna. Kita semua masih belajar dalam peran kita masing-masing. Tapi mungkin sesekali perlu berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri, apakah kita sudah menjadi pemimpin yang membuat tim berkembang, atau justru tanpa sadar menjadi bagian dari masalah yang mereka hadapi?

Karena pada akhirnya, tim yang maju hampir selalu lahir dari kepemimpinan yang mau terus belajar dan memperbaiki diri.