Paradoks Emas dan Perang, Kenapa Harga Emas Justru Turun Saat Dunia Memanas?

Pemerhati Kebijakan Publik
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Irawan Bayu Aji tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak orang percaya bahwa ketika perang pecah atau situasi geopolitik memanas, harga emas pasti naik. Logikanya sederhana, saat dunia tidak pasti, investor mencari aset aman, dan emas adalah salah satu simbol keamanan itu. Karena itu, ketika harga emas justru turun di tengah konflik geopolitik, banyak orang merasa ada yang aneh. Padahal, jika dilihat lebih dalam, ini bukan keanehan, melainkan cara pasar bekerja yang memang lebih rumit dari dugaan kita.
Secara teori, perang memang mendukung harga emas. Dalam kondisi penuh ketidakpastian, investor cenderung mengurangi aset berisiko dan memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman. Emas selama ini mendapat tempat istimewa karena dianggap mampu menjaga nilai di tengah gejolak. Namun pasar keuangan tidak hanya bereaksi pada peristiwa, melainkan juga pada dampak ekonomi dari peristiwa tersebut. Dalam kasus konflik geopolitik saat ini, pasar tidak hanya melihat perang, tetapi juga menghitung apa akibat perang itu terhadap harga minyak, inflasi, suku bunga, dan nilai tukar dolar AS.
Di sinilah letak paradoks emas yang sebenarnya. Perang, terutama di kawasan strategis energi, berpotensi mendorong harga minyak naik. Jika minyak naik, biaya energi ikut meningkat, dan pasar mulai khawatir inflasi akan kembali tinggi atau turun lebih lambat dari harapan. Ketika kekhawatiran inflasi naik, ekspektasi terhadap kebijakan bank sentral ikut berubah. Investor mulai berpikir bahwa Federal Reserve mungkin akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, atau setidaknya tidak terburu-buru menurunkannya. Bagi emas, ini menjadi tekanan besar, karena emas tidak memberikan bunga seperti deposito atau obligasi. Reuters melaporkan pada 26 Maret 2026 bahwa harga emas turun lebih dari 1 persen karena pasar menilai konflik Timur Tengah mendorong kemungkinan suku bunga tetap tinggi di tengah lonjakan harga minyak.
Artinya, emas sedang ditarik oleh dua kekuatan sekaligus. Di satu sisi, perang menciptakan rasa takut dan mendorong orang mencari aset aman. Di sisi lain, perang juga memicu inflasi dan membuat pasar memperkirakan suku bunga akan tetap tinggi. Dalam beberapa hari terakhir, kekuatan kedua tampaknya lebih dominan. Jadi emas turun bukan karena ia berhenti menjadi safe haven, tetapi karena daya tarik aset berbunga sedang lebih kuat. Saat obligasi dan instrumen keuangan lain menawarkan imbal hasil menarik, investor lebih memilihnya daripada menyimpan emas yang tidak menghasilkan bunga.
Selain faktor suku bunga, ada faktor lain yang ikut menekan emas, yaitu dolar AS. Umumnya, ketika dolar menguat, harga emas cenderung tertekan. Sebab emas diperdagangkan secara global dalam dolar, sehingga dolar yang lebih kuat membuat emas menjadi relatif lebih mahal bagi pembeli di luar Amerika Serikat. Riset Federal Reserve menunjukkan bahwa suku bunga AS yang lebih tinggi relatif terhadap negara lain dapat menarik modal masuk ke aset-aset AS dan ikut menguatkan dolar. Jika kondisi ini terjadi bersamaan dengan tingginya ekspektasi suku bunga, maka tekanan terhadap emas bisa menjadi ganda, dari yield dan dari dolar.
Tidak hanya itu, penurunan emas saat konflik juga dipengaruhi faktor teknikal pasar. Reuters mencatat bahwa emas dan bahkan saham-saham pertahanan sempat ikut turun ketika perang pecah, salah satunya karena aksi profit-taking dan de-risking. Sederhananya, ketika investor butuh cepat menata ulang portofolio atau mencari likuiditas, aset yang sebelumnya sudah naik tinggi justru sering menjadi yang pertama dijual. Dalam konteks ini, penurunan emas tidak selalu berarti prospek jangka panjangnya memburuk, tetapi bisa mencerminkan respons jangka pendek pasar yang sangat emosional dan mekanis.
Lalu kapan emas bisa kembali menguat? Jawabannya ketika tekanan dari suku bunga dan dolar mulai mereda, atau ketika risiko global berubah menjadi ketakutan yang lebih besar terhadap sistem keuangan dan ekonomi. World Gold Council menyebut bahwa suku bunga yang lebih rendah, kekhawatiran baru terhadap kondisi kredit, dan peningkatan inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi dapat mempercepat permintaan emas. Dengan kata lain, emas biasanya kembali kuat saat investor merasa uang tunai dan aset berbunga tidak lagi cukup aman melawan inflasi, atau ketika penurunan suku bunga membuat biaya peluang memegang emas menjadi lebih rendah.
Karena itu, ada beberapa sinyal yang patut diperhatikan bila ingin melihat peluang kenaikan emas ke depan. Pertama, pasar mulai yakin bahwa siklus suku bunga tinggi mendekati akhir. Kedua, dolar AS mulai melemah. Ketiga, risiko geopolitik berkembang menjadi risiko yang lebih sistemik, misalnya mengganggu stabilitas ekonomi global atau memicu gangguan besar di pasar keuangan. Keempat, muncul kekhawatiran baru terhadap kualitas kredit atau kesehatan sistem finansial. Dalam situasi seperti itu, emas biasanya kembali mendapatkan perannya sebagai pelindung nilai dan tempat berlindung.
Pelajaran penting dari fenomena ini adalah bahwa pasar tidak pernah bergerak berdasarkan satu logika tunggal. Benar bahwa perang biasanya mendukung emas, tetapi itu bukan satu-satunya faktor. Perang juga bisa mendorong inflasi, memperkuat dolar, menaikkan ekspektasi suku bunga, dan memicu aksi jual jangka pendek. Karena itu, melihat harga emas turun di tengah konflik bukan berarti teori lama menjadi salah. Yang terjadi hanyalah pasar sedang lebih fokus pada konsekuensi ekonomi dari perang dibanding perang itu sendiri.
Pada akhirnya, paradoks emas dan perang bukanlah paradoks yang benar-benar bertentangan dengan logika. Ia hanya mengingatkan kita bahwa harga emas tidak bergerak karena rasa takut semata, tetapi juga karena perhitungan imbal hasil, kebijakan moneter, pergerakan dolar, dan sentimen investor global. Emas masih bisa menguat lagi, tetapi biasanya itu terjadi ketika pasar berhenti terobsesi pada suku bunga tinggi dan kembali lebih takut pada melemahnya nilai uang atau memburuknya risiko sistemik. Sampai titik itu tiba, emas kemungkinan masih akan bergerak liar di antara dua tarikan besar yaitu kebutuhan akan keamanan dan kerasnya tekanan suku bunga.
