Belajar dari Piala Dunia: Mengonversi Pertumbuhan Ekonomi Menjadi Kesejahteraan

Kepala Tim Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah-Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ircham Andrianto Taufick tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Spanyol mengalahkan Argentina 1-0 setelah perpanjangan waktu. Kemenangan tipis tersebut membawa Spanyol meraih gelar Piala Dunia kedua. FIFA menggambarkan perjalanan sang juara melalui tiga kata: kontrol, ketenangan, dan kemenangan. Final itu memberi pelajaran: menguasai bola tidak berarti memenangi pertandingan. Penguasaan akan berarti apabila mampu menciptakan peluang, dan dikonversi menjadi gol.
Logika serupa berlaku dalam ekonomi. Indonesia memiliki “penguasaan bola” yang cukup meyakinkan. Produk domestik bruto tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada triwulan I-2026. Angka tersebut menunjukkan perekonomian tetap bergerak di tengah ketidakpastian global.
Namun, pertumbuhan hanyalah statistik pertandingan. Kemenangan sesungguhnya ditentukan oleh kemampuan mengubah pertumbuhan menjadi pekerjaan, produktivitas, daya beli, serta ketahanan menghadapi guncangan. Di sinilah muncul pertanyaan: seberapa tinggi tingkat konversi pertumbuhan Indonesia?
Tingkat konversi pertumbuhan menggambarkan seberapa efektif setiap tambahan aktivitas ekonomi menghasilkan manfaat yang bertahan lama. Istilah ini bukan indikator statistik resmi, melainkan cara sederhana untuk menilai seberapa efektif pertumbuhan diubah menjadi manfaat ekonomi yang bertahan lama.
Pertumbuhan dengan tingkat konversi tinggi memperbesar kapasitas produksi, meningkatkan pendapatan riil, menciptakan pekerjaan berkualitas, dan memperkuat ekspor. Sebaliknya, pertumbuhan dengan tingkat konversi rendah akan terlihat bagus, tetapi sebagian manfaatnya menguap melalui impor, kenaikan harga, atau biaya pembiayaan.
Gejalanya dapat dibaca dari neraca perdagangan. Sepanjang Januari–Mei 2026, ekspor Indonesia tumbuh 3,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, impor meningkat jauh lebih cepat, yaitu 15,24 persen. Neraca perdagangan masih surplus 4,03 miliar dolar AS, tetapi surplus nonmigas sebesar 16,31 miliar dolar AS harus menutup defisit migas 12,28 miliar dolar AS.
Kenaikan impor tentu tidak buruk apabila yang masuk berupa mesin, bahan baku, dan barang modal. Persoalannya adalah apakah impor tersebut menjadi produktivitas yang lebih tinggi, ekspor bernilai tambah, serta berkurangnya ketergantungan impor pada masa mendatang.
Tanpa konversi itu, pertumbuhan berisiko mengalami kebocoran. Permintaan domestik meningkat, tetapi sebagian manfaatnya dinikmati produsen luar negeri. Industri dapat tetap bergerak, tetapi manfaatnya menjadi terbatas apabila ketergantungan impor tidak berkurang.
Tekanan harga memperlihatkan tantangan lainnya. Inflasi Juni 2026 mencapai 3,34 persen secara tahunan. Angka tersebut masih berada dalam kisaran sasaran, tetapi kenaikan harga tetap mengurangi kemampuan rumah tangga menikmati pertumbuhan. Bagi keluarga, pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen akan terasa abstrak ketika harga pangan, transportasi, atau kebutuhan sehari-hari semakin tinggi.
Bank Indonesia telah menaikkan BI-Rate menjadi 5,75 persen untuk memperkuat stabilitas rupiah dan menjaga inflasi. Namun, respons kebijakan tidak semata-mata berupa pertahanan. Kebijakan makroprudensial tetap diarahkan mendukung pembiayaan sektor riil. Kredit perbankan pada Mei 2026 tumbuh 11,51 persen. Ini menunjukkan peluang mencetak gol masih terbuka, asalkan pembiayaan mengalir menuju kegiatan produktif.
Spanyol bukanlah tim terus menyerang atau terus bertahan. Kuncinya adalah mengontrol tempo. Ketika ruang terbuka, tim maju. Ketika lawan menekan, jarak antarlini tetap dijaga. Ekonomi Indonesia membutuhkan disiplin serupa.
Belanja pemerintah yang memperbesar konsumsi dapat mengangkat permintaan dalam jangka pendek, tetapi berpotensi menambah tekanan harga dan impor apabila produksi domestik belum siap. Sebaliknya, belanja pemerintah untuk pangan, energi, logistik, teknologi, dan peningkatan keterampilan dapat memperbesar kapasitas produksi sekaligus mengurangi beban kebijakan moneter.
Karena itu, koordinasi fiskal dan moneter seharusnya berada dalam satu formasi. Kebijakan moneter menjaga permainan tidak kehilangan keseimbangan, sedangkan kebijakan fiskal memperkuat kemampuan tim menciptakan peluang. Ruang untuk melakukan itu masih ada. Menteri Keuangan menyampaikan defisit APBN sampai Juni tercatat sebesar Rp 196,5 triliun atau 0,76 persen terhadap PDB. Angka tersebut menunjukkan bahwa kualitas setiap belanja menjadi semakin penting. Ketika ruang fiskal semakin tipis, pemerintah harus menghasilkan dampak ekonomi yang lebih besar.
Di tingkat masyarakat, tingkat konversi pertumbuhan terlihat dalam hal sederhana. Apakah kredit investasi membuat pengusaha membeli mesin dan merekrut pekerja baru? Apakah pembangunan infrastruktur menurunkan biaya distribusi pangan? Apakah investasi asing membangun rantai pasok domestik atau hanya memanfaatkan pasar Indonesia? Apakah kenaikan transaksi digital memperluas omzet usaha, bukan sekadar memindahkan cara pembayaran?
Penguasaan bola akan berarti apabila mampu menciptakan peluang dan mengonversinya menjadi gol. Demikian pula pertumbuhan ekonomi Indonesia. Nilai 5,61 persen memang layak diapresiasi. Namun, sejarah mencatat siapa yang mampu mengubah angka pertumbuhan ekonomi menjadi kemenangan yang dirasakan masyarakat. Pertanyaannya sekarang: Ketika peluit panjang di akhir tahun 2026 dibunyikan, Apakah pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya akan menjadi statistik, atau dapat berubah menjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat?
