Konten dari Pengguna

Hari Bank Indonesia dan Seni Mengatur Laju Ekonomi Indonesia

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ircham Andrianto Taufick tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kebijakan bank sentral dalam mengatur laju ekonomi Indonesia. Foto generated by AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kebijakan bank sentral dalam mengatur laju ekonomi Indonesia. Foto generated by AI

Uang kini tidak lagi berjalan melainkan berlari. Gaji berpindah ke rekening dalam hitungan detik. Belanja dibayar dengan QRIS. Modal asing dapat masuk pagi hari dan keluar sore hari. Harga komoditas dunia bergerak sebelum pedagang sempat mengganti label harga. Bahkan, kepanikan publik bisa lebih cepat menyebar daripada klarifikasi resmi.

Dalam dunia seperti itu, momentum Hari Bank Indonesia pada 5 Juli menjadi pengingat tentang satu tugas bank sentral yaitu: mengatur laju ekonomi. Apabila terlalu lambat, ekonomi kehilangan tenaga. Apabila terlalu cepat, ia bisa berubah menjadi spekulasi, inflasi, gelembung aset, atau penipuan digital. Di antara dua risiko itu, Bank Indonesia bekerja seperti pengatur irama: memperlambat ketika ekonomi terlalu panas, mempercepat ketika sektor produktif butuh napas, dan menjaga agar perputaran uang tidak hanya ramai di pusat ekonomi, tetapi juga menjangkau daerah.

Ekonomi modern semakin ditentukan oleh kecepatan. Dulu, masalah utama ekonomi sering dibaca sebagai kekurangan uang. Kini, masalahnya lebih rumit: uang bisa tersedia, tetapi salah arah; transaksi bisa cepat, tetapi tidak aman; kredit bisa tumbuh, tetapi tidak produktif; pembayaran bisa digital, tetapi literasi tertinggal.

Konteksnya terlihat pada ekonomi Indonesia hari ini. BI-Rate pada Juni 2026 berada di 5,75 persen. Inflasi Juni 2026 tercatat 3,34 persen secara tahunan. Ekonomi triwulan I-2026 tetap tumbuh 5,61 persen. Angka-angka ini menunjukkan ekonomi masih bergerak sesuai harapan. Namun demikian, pertumbuhan perlu dijaga, inflasi perlu ditahan, nilai tukar perlu distabilkan, dan pembiayaan sektor riil tidak boleh tersendat.

Ketika suku bunga dinaikkan, publik sering membacanya sebagai rem. Itu tidak salah, tetapi belum lengkap. Rem bisa menjadi alat keselamatan agar kendaraan tidak tergelincir di tikungan. Suku bunga yang lebih tinggi dapat membuat rumah tangga menimbang ulang konsumsi besar, perusahaan menguji ulang rencana ekspansi, dan bank lebih cermat membaca risiko debitur. Di sisi lain, rem yang terlalu lama juga berisiko membuat mesin kehilangan panas.

Oleh karena itu, kebijakan moneter tidak dapat bekerja sendirian. Ia perlu ditemani kebijakan makroprudensial yang memastikan pembiayaan tidak seret bagi sektor produktif. Di sinilah instrumen seperti Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial menjadi penting. Makroprudensial bekerja bukan sekadar menjaga neraca perbankan, melainkan mengatur agar kredit mengalir ke sektor yang menciptakan nilai tambah: pangan, perumahan, hilirisasi, UMKM, ekonomi kreatif, dan ekonomi hijau.

Dengan bahasa sederhana, suku bunga mengatur kecepatan umum kendaraan ekonomi, sementara makroprudensial mengatur jalur mana yang seharusnya lebih lancar. Tanpa pengaturan jalur, uang bisa mengalir deras ke kegiatan yang menghasilkan keuntungan jangka pendek, tetapi lambat memperkuat produktivitas.

Sementara itu, kebijakan sistem pembayaran menghadirkan tantangan tempo yang berbeda. QRIS, BI-FAST, dan digitalisasi pembayaran membuat uang bergerak lebih cepat dan murah. Bagi UMKM, hal ini berarti uang yang diterima lebih cepat dan arus kas yang lebih sehat. Selain itu, pembeli yang tidak membawa tunai tetap bisa bertransaksi dan catatan transaksi dapat menjadi jejak ekonomi yang dapat membantu akses pembiayaan.

Inilah stimulus dari kebijakan bank sentral. Bukan dengan menambah uang baru ke ekonomi, melainkan mengurangi friksi agar uang yang sudah ada bergerak lebih efisien. Dalam bisnis, selisih waktu untuk penerimaan dana dapat menentukan kemampuan membeli stok, membayar pegawai, atau mempertahankan harga jual.

Namun, kecepatan juga membawa bayangan. Pembayaran yang instan dapat mempercepat penipuan. Akses kredit digital dapat mendorong konsumsi impulsif. Judi daring, pencucian uang, dan transaksi ilegal ikut menumpang pada infrastruktur yang sama jika pengawasan, literasi, dan penegakan hukum tertinggal. Maka, tugas bank sentral di era digital juga memastikan kecepatan itu tetap terkendali.

Ada pula dimensi yang jarang dibahas: keadilan antarwilayah. Di negara kepulauan, laju uang tidak selalu sama. Di kota besar, pembayaran digital, ATM, perbankan, dan jaringan internet relatif mudah ditemukan. Di pulau kecil, wilayah perbatasan, atau daerah terpencil, keterlambatan distribusi uang layak edar dan keterbatasan infrastruktur pembayaran dapat menciptakan biaya waktu. Uang yang lambat tiba berarti transaksi tertunda, usaha kecil terbatas, dan masyarakat membayar lebih mahal untuk keterisolasian. Pengelolaan uang rupiah dan digitalisasi pembayaran merupakan bagian dari pemerataan tempo ekonomi. Ekonomi yang terlalu cepat di pusat, tetapi terlalu lambat di pinggiran, akan melahirkan ketimpangan baru.

Tentu ada kontra-argumen. Bukankah ekonomi Indonesia justru perlu dipercepat agar tidak tertinggal? Bukankah digitalisasi, kredit, investasi, dan konsumsi harus didorong sekuat mungkin? Benar, ekonomi tidak boleh berjalan lamban. Namun, mempercepat ekonomi tanpa mengatur arah sama seperti menambah kecepatan di jalan berkabut. Yang dibutuhkan adalah kecepatan yang sesuai medan. Pertumbuhan yang sehat adalah pertumbuhan yang tahan lama, menyebar, dan tidak dibayangi dengan kerentanan baru.

Pada akhirnya, Hari Bank Indonesia memberi pelajaran bahwa bank sentral bekerja dalam seni yang sunyi: tidak selalu terlihat, sering tidak populer, tetapi menentukan apakah ekonomi cukup seimbang untuk melaju jauh. Pertanyaannya sekarang: di tengah ekonomi yang makin cepat, apakah kita hanya ingin uang bergerak lebih kencang, atau juga lebih tepat arah?