Konten dari Pengguna

Keluarga sebagai Neraca Pertama Ekonomi

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ircham Andrianto Taufick tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Keluarga sebagai Sumber Pertumbuhan Ekonomi. Foto: Generated by AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Keluarga sebagai Sumber Pertumbuhan Ekonomi. Foto: Generated by AI

Data ekonomi sering ada di materi rapat: suku bunga, inflasi, investasi, nilai tukar, anggaran negara. Padahal sebelum semua itu, ekonomi lebih dulu hadir di keluarga. Di sanalah seorang ibu menghitung uang belanja. Di sanalah seorang ayah memutuskan bekerja untuk membayar kebutuhan keluarga. Di sanalah anak belajar bahwa uang adalah alat transaksi sekaligus cara keluarga menghadapi hari esok.

Hari Keluarga Nasional (Harganas) yang diperingati setiap 29 Juni, tahun ini mengangkat tema “Ayah Wajib Hadir”. Sebuah tema sederhana tetapi juga menyentuh persoalan besar: keluarga membutuhkan kehadiran ayah sebagai pencari nafkah, pemberi perhatian, serta ikut memikul tanggung jawab bersama dalam pengasuhan.

Masa depan ekonomi Indonesia ditentukan oleh seberapa kuat keluarga membentuk manusia yang sehat, percaya diri, produktif, dan cakap mengelola risiko. Keluarga adalah neraca pertama ekonomi. Jika neraca itu rapuh, daya beli mudah goyah, kualitas sumber daya manusia melemah, dan bonus demografi berubah menjadi beban demografi.

Ekonomi Indonesia Sangat Bergantung Pada Rumah Tangga

Pada triwulan I-2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61% (yoy), dan BPS menyebut konsumsi masyarakat masih menjadi penopang utama. Konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 5,52% (yoy) didorong oleh aktivitas perekonomian dan mobilitas masyarakat yang meningkat pada periode Idulfitri 1447 H serta paket stimulus pemerintah untuk mendorong konsumsi. Hal ini berarti ketika keluarga percaya untuk membelanjakan uangnya secara wajar, maka ekonomi akan bergerak. Sebaliknya, ketika keluarga menahan belanja karena cemas, maka ekonomi akan ikut melambat.

Bank Indonesia juga mencatat Indeks Keyakinan Konsumen Mei 2026 berada pada level optimistis sebesar 120,9. Ekspektasi konsumen tetap kuat. Di balik angka itu ada realitas yang lebih manusiawi: keluarga masih berharap masa depan membaik, tetapi tetap menghitung dengan hati-hati untuk hari ini. Mereka ingin membeli susu anak, memperbaiki kendaraan, menabung untuk pendidikan, tetapi juga takut harga pangan naik, pekerjaan tidak pasti, atau cicilan semakin berat.

Di titik inilah tema “Ayah Wajib Hadir” menjadi relevan secara ekonomi. Kehadiran ayah adalah ajakan untuk membagi beban yang terlalu lama diserahkan kepada ibu. Dalam rumah tangga, ibu kerap mengasuh anak, sekaligus menjadi manajer keuangan, pengatur konsumsi, penjaga gizi, guru pertama, sekaligus penyangga emosi keluarga.

Foto Gary Becker. Sumber: Wikipedia

Ekonom Gary Becker memandang keluarga sebagai unit produksi. Di dalam keluarga, waktu, perhatian, pendidikan, kesehatan, dan nilai hidup diolah menjadi modal manusia. Anak yang tumbuh dengan gizi baik, rasa aman, dan disiplin finansial kelak menjadi tenaga kerja yang lebih produktif. Sebaliknya, anak yang tumbuh dalam rumah penuh tekanan, minim komunikasi, dan tidak pernah belajar mengelola uang berisiko membawa luka sosial sekaligus biaya ekonomi di masa depan.

Tantangan Ekonomi Rumah Tangga

Tantangan keluarga hari ini mengalami perubahan dibanding sebelumnya. Sebuah keluarga mungkin memiliki pendapatan tetap, tetapi hidup dalam ekosistem konsumsi yang tidak pernah tidur. Pembayaran digital membuat transaksi makin mudah. Marketplace membuat belanja makin cepat. Promosi muncul setiap saat di layar ponsel. Semua itu membuka peluang usaha, tetapi juga memperbesar risiko konsumsi impulsif.

Data OJK dan BPS dalam SNLIK 2025 menunjukkan indeks literasi keuangan Indonesia sebesar 66,46%, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 80,51%. Jarak antara inklusi dan literasi menunjukkan banyak orang sudah memiliki akses ke layanan keuangan tetapi belum cakap mengelola keputusan keuangan. Di tingkat keluarga, kesenjangan ini bisa berubah menjadi masalah: mudah bertransaksi, tetapi sulit menahan diri; mudah mencicil, tetapi tidak selalu memahami risiko.

Keluarga modern membutuhkan fungsi seperti bank sentral: menjaga keseimbangan antara belanja dan tabungan, antara kebutuhan hari ini dan risiko esok, antara keinginan anak dan kemampuan orang tua. Ayah dan ibu perlu hadir sebagai komite kebijakan rumah tangga. Semua itu bertujuan agar keluarga tidak berjalan dengan autopilot konsumsi.

Tentu tidak adil jika semua persoalan ekonomi dibebankan kepada keluarga. Banyak masalah bersifat struktural: upah, lapangan kerja, harga rumah, biaya pendidikan, akses kesehatan, dan perlindungan sosial. Keluarga tidak boleh dijadikan alasan negara dan pasar melepaskan tanggung jawab. Namun, kebijakan terbaik pun akan bocor jika tidak sampai ke keluarga. Bantuan sosial, pengendalian inflasi, digitalisasi pembayaran, program gizi, dan literasi keuangan akan lebih bermakna ketika menguatkan keputusan di dalam keluarga.

Harganas perlu dibaca sebagai agenda ekonomi lintas sektor. Pemerintah perlu memperkuat kebijakan ramah keluarga: layanan pengasuhan anak yang terjangkau, edukasi gizi, perlindungan ibu bekerja, cuti ayah yang lebih bermakna, dan literasi keuangan keluarga sejak dini. Dunia usaha perlu melihat para pekerja sebagai anggota keluarga yang membawa ketenangan ke rumah. Sektor keuangan perlu merancang edukasi dan produk yang membantu keluarga mengatur arus kas.

Bank sentral menjaga stabilitas harga dan sistem pembayaran. Pemerintah menjaga layanan dasar kepada masyarakat. Sekolah membangun pengetahuan. Namun, keluarga adalah pihak yang mengubah semua itu menjadi kebiasaan harian. Inflasi yang rendah berarti banyak ketika dapur tetap menyala. Sistem pembayaran yang lancar berarti banyak ketika pedagang dapat bertransaksi dengan aman. Pertumbuhan ekonomi akan berarti banyak ketika anak-anak percaya diri menghadapi masa depan.

Keluarga adalah tempat produktivitas masa depan dibentuk. Di sana manusia belajar disiplin, menunda keinginan, berbagi risiko, dan percaya bahwa hari esok layak diperjuangkan. Pertanyaannya, ketika kita meminta ekonomi tumbuh lebih tinggi, apakah kita sudah cukup serius merawat tempat pertama pertumbuhan itu dilahirkan: keluarga?