Ketika Nilai Tukar Rupiah Tidak Dijaga Dengan Suku Bunga Saja

Kepala Tim Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah-Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ircham Andrianto Taufick tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi seorang pedagang, suku bunga bisa menentukan apakah ia dapat mengajukan pinjaman untuk menambah stok barang dagangan. Bagi keluarga, suku bunga dapat terasa dalam cicilan rumah, kendaraan, atau kebutuhan lain. Bagi perusahaan, perubahan bunga dapat memengaruhi keputusan membeli mesin, membuka cabang, atau menunda ekspansi.
Keputusan Bank Indonesia mempertahankan BI Rate sebesar 5,75 persen pada Juli 2026 memiliki arti yang lebih luas daripada sekadar angka yang tidak berubah. Tidak berubahnya BI Rate bukan berarti kebijakan sedang diam. Nilai tukar rupiah masih menghadapi berbagai tekanan. Pada 23 Juli 2026, nilainya berada di sekitar Rp17.975 per dolar AS, hampir sama dengan posisi akhir Juni.
Bank Indonesia memperluas sejumlah kebijakan untuk mendorong masuknya investasi portofolio asing, memperkuat stabilitas rupiah, memperdalam pasar uang dan valuta asing, serta memperbaiki penyebaran likuiditas di antara perbankan. Keputusan ini menunjukkan bahwa menjaga rupiah tidak cukup hanya mengandalkan kenaikan suku bunga.
Menjaga rupiah ibarat mempertahankan sebuah rumah ketika badai datang. Menaikkan suku bunga seperti memperkuat satu tiang utama. Langkah itu penting agar rumah tidak mudah goyah. Namun, rumah tidak akan benar-benar aman apabila atapnya bocor, jendelanya rapuh, atau saluran airnya tersumbat.
Di dalam rumah ekonomi, aktivitas perbankan masih bergerak cukup cepat. Kredit tumbuh 12,67 persen secara tahunan pada Juni 2026, meningkat dari 11,51 persen pada bulan sebelumnya. Sementara itu, dana pihak ketiga tumbuh 10,21 persen. Data ini menunjukkan bahwa perbankan masih memiliki sumber dana untuk membiayai ekonomi dan tantangannya adalah memastikan dana tersebut mengalir ke kegiatan produktif.
Di sisi lain, suku bunga tidak dapat terus-menerus dinaikkan. Tiang yang diperkuat terlalu berlebihan justru dapat membuat ruang di dalam rumah semakin sempit bagi penghuninya.
Harga dari Stabilitas
Ketika suku bunga dinaikkan, aset keuangan dalam rupiah menjadi lebih menarik. Langkah tersebut dapat membantu menahan keluarnya modal asing, menjaga nilai tukar, dan mengendalikan inflasi. Di sisi lain, kenaikan bunga juga dapat meningkatkan biaya dana perbankan dan pada akhirnya memengaruhi bunga kredit.
Di sinilah kebijakan moneter menghadapi dilema. Rupiah perlu dijaga karena pelemahan yang berlebihan dapat meningkatkan biaya impor. Namun, jika rupiah terus dijaga terutama melalui bunga yang tinggi, maka sektor usaha dan rumah tangga dapat membayar harga stabilitas melalui bunga kredit yang lebih mahal. Keputusan mempertahankan BI Rate pada 5,75 persen memperlihatkan upaya agar ongkos tersebut tidak hanya dibebankan kepada peminjam domestik.
Bank Indonesia sedang memperluas pertahanan dengan memperkuat bagian dari “rumah ekonomi Indonesia”. Kebijakan pendalaman pasar valuta asing dapat membuat transaksi valuta asing lebih lancar. Ketika pasar lebih ramai dan likuid, satu transaksi besar tidak mudah mengguncang harga.
Instrumen lindung nilai juga dapat membantu perusahaan menghadapi perubahan kurs. Secara sederhana, pelaku usaha dapat mempersiapkan “payung” sebelum hujan nilai tukar datang, bukan mencari perlindungan ketika hujan telah terjadi.
Di sisi lain, menahan suku bunga bukan berarti tanpa risiko. Ketika tekanan terhadap rupiah tetap tinggi, bunga yang tidak dinaikkan dapat dianggap mengurangi daya tarik aset rupiah. Jika inflasi terus mendekati batas atas sasaran atau modal asing kembali keluar, pasar dapat mempertanyakan apakah respons kebijakan cukup kuat. Keberatan tersebut masuk akal.
Namun, menaikkan suku bunga juga tidak selalu efektif apabila tekanan rupiah terutama berasal dari gejolak global, harga energi, atau ketidakpastian fiskal. Dalam kondisi seperti itu, kenaikan bunga dapat menambah beban domestik tanpa menghilangkan sumber tekanan. Persoalan saat ini bukan memilih antara menaikkan atau menahan bunga, melainkan menentukan kombinasi kebijakan dengan biaya paling kecil bagi perekonomian Indonesia.
Jangan Bergantung pada Tamu
Ada satu risiko yang perlu diperhatikan. Upaya menarik investasi portofolio asing dapat membantu menopang rupiah, tetapi dana jenis ini mudah bergerak. Ia bisa datang ketika imbal hasil menarik, lalu pergi saat risiko global meningkat. Investasi portofolio asing ibarat tamu yang membantu meramaikan rumah. Kehadirannya bermanfaat, tetapi pemilik rumah tidak dapat menggantungkan seluruh biaya rumah tangga kepada tamu yang sewaktu-waktu dapat pulang.
Oleh karena itu, stabilitas rupiah tetap membutuhkan sumber devisa yang lebih kuat dan tahan lama seperti ekspor bernilai tambah, pariwisata, investasi langsung, serta industri domestik yang produktif. Kebijakan keuangan dapat meredam guncangan, tetapi tidak dapat menggantikan fondasi ekonomi riil.
Keputusan mempertahankan BI Rate mempertegas bahwa beban menjaga rupiah perlu dibagi kepada berbagai instrumen kebijakan. Keputusan ini menguji apakah rupiah dapat dijaga melalui bauran kebijakan yang lebih luas. Keberhasilan dari bauran kebijakan tersebut tercermin dari inflasi yang terkendali, rupiah yang tidak bergejolak berlebihan, likuiditas yang mengalir lebih merata, dan pembiayaan produktif yang tetap tumbuh.
Suku bunga akan selalu menjadi salah satu tiang utama dalam menjaga rumah ekonomi. Namun, rumah yang kokoh tidak berdiri di atas satu tiang saja. Pertanyaannya: Apakah instrumen lain sudah cukup kuat untuk menahan badai tekanan global, atau masyarakat akan kembali diminta membayar biaya stabilitas melalui cicilan dan biaya usaha yang semakin mahal?
