Kredit Tumbuh Dua Digit, Apakah Peluang Ikut Meluas?

Kepala Tim Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah-Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Ircham Andrianto Taufick tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi perusahaan, tambahan kredit mungkin berarti mesin baru, pabrik baru, atau proyek yang bisa dimulai. Namun bagi bengkel, pemasok makanan, jasa angkutan, atau pengusaha yang berharap memperoleh pesanan dari proyek tersebut, pertanyaannya lebih sederhana: apakah pertumbuhan kredit itu bisa berdampak kepada mereka?
Pertanyaan ini penting ketika kredit perbankan Indonesia tumbuh 13,58 persen secara tahunan pada Juli 2026. Angka tersebut layak disambut positif. Setelah dunia usaha cukup lama berhati-hati mengambil keputusan investasi, pertumbuhan kredit dua digit memberi sinyal bahwa mesin pembiayaan ekonomi kembali bergerak.
Namun angka agregat selalu mempunyai keterbatasan. Angka tersebut memberi tahu kita seberapa besar penambahan kredit, tetapi belum menjelaskan seberapa luas manfaatnya. Gubernur Bank Indonesia juga menyampaikan bahwa pertumbuhan kredit belum merata. Kelompok swasta non-lembaga keuangan menjadi penyumbang terbesar, sementara pemerintah dan BUMN juga memberikan kontribusi cukup berarti. Aktivitas pembiayaan yang berkaitan dengan proyek besar dan Danantara ikut menopang pertumbuhan tersebut.
Tidak ada yang keliru dengan kredit besar. Sebuah pembiayaan triliunan rupiah kepada perusahaan besar berpotensi menghasilkan dampak yang lebih besar daripada seribu kredit kecil apabila uang itu digunakan membangun industri baru, meningkatkan produktivitas, dan menciptakan pekerjaan. Karena itu, pertanyaan yang lebih relevan adalah: apa yang terjadi setelah kredit itu cair?
Dari Kredit Besar ke Pesanan Kecil
Bayangkan sebuah perusahaan memperoleh pembiayaan untuk membangun pabrik baru. Di atas kertas, kredit hanya tercatat kepada satu debitur. Namun ekonomi tidak berhenti pada neraca perusahaan tersebut. Pabrik membutuhkan konstruksi. Kontraktor membutuhkan semen dan baja. Setelah beroperasi, perusahaan membutuhkan transportasi, katering, perawatan mesin, kemasan, pergudangan, hingga berbagai pemasok lokal. Para pekerjanya kemudian membelanjakan pendapatannya untuk makan, tempat tinggal, pendidikan, dan kebutuhan sehari-hari.
Satu kredit dapat menghasilkan puluhan bahkan ratusan hubungan ekonomi baru. Di situlah kualitas pertumbuhan kredit sebenarnya mulai terlihat. Kredit yang awalnya terkonsentrasi pada perusahaan besar tidak dengan sendirinya membuat manfaat pertumbuhan ikut terkonsentrasi. Ia dapat menjadi pintu masuk untuk berbagai usaha yang lebih kecil untuk ikut berkembang.
Sebaliknya, kredit yang tumbuh cepat tetapi hanya berputar pada kelompok usaha yang sama dapat menghasilkan angka perbankan yang impresif tanpa banyak mengubah peluang ekonomi bagi lapisan yang lebih luas. Kesenjangan pertumbuhan kredit memberikan alasan untuk mempertanyakan hal tersebut. Ketika kredit keseluruhan tumbuh 13,58 persen, kredit UMKM masih bergerak jauh lebih lambat yaitu di angka 1,6%.
Hal ini tidak berarti memaksa bank untuk memberikan kredit kepada setiap usaha kecil. Banyak UMKM belum memiliki arus kas stabil, administrasi memadai, atau kemampuan membayar yang memenuhi standar perbankan. Melonggarkan prinsip kehati-hatian hanya demi memperbesar angka kredit dapat menciptakan masalah baru. Namun perbedaan kecepatan pertumbuhan memberi pesan lain: pertumbuhan kredit yang tinggi tidak berarti kesempatan memperoleh pembiayaan ikut meluas dengan kecepatan yang sama.
Saat Pertumbuhan Kredit Mulai Menyebar
Di sinilah kebijakan Bank Indonesia menjadi menarik. Hingga awal Agustus 2026, insentif Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) telah mencapai sekitar Rp446,5 triliun. Persoalan berikutnya bagaimana ruang tersebut menghasilkan kegiatan ekonomi yang semakin luas. Sejak 1 September, batas maksimum insentif dinaikkan menjadi 6 persen dari dana pihak ketiga dan diperkuat dengan kebijakan pendalaman pasar uang untuk membantu mengurangi segmentasi likuiditas antarbank.
Berikutnya, mulai 1 Oktober penguatan Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) juga memperluas cakupan pembiayaan kepada pemasok, distributor, serta mitra badan usaha. Perubahan terakhir ini penting karena menawarkan cara pandang yang berbeda. Selama ini kita cenderung melihat ekonomi sebagai kumpulan debitur: perusahaan besar di satu kotak, UMKM di kotak lain. Padahal dalam kehidupan nyata, keduanya sering berada dalam rantai usaha yang sama.
Perusahaan besar membutuhkan pemasok kecil. Pemasok kecil membutuhkan modal kerja. Distributor membutuhkan kendaraan. Pedagang membutuhkan persediaan. Jika bank dapat membaca hubungan itu dengan lebih baik, pembiayaan terhadap satu bagian ekonomi dapat membuka pembiayaan pada bagian lainnya.
Keberhasilan kebijakan kredit seharusnya tidak hanya dinilai dari berapa triliun rupiah yang berhasil disalurkan. Kita juga perlu melihat apakah semakin banyak usaha baru menjadi layak dibiayai; apakah pemasok lokal ikut memperoleh kontrak; apakah investasi menghasilkan pekerjaan; dan apakah pertumbuhan kredit melahirkan aktivitas ekonomi baru di luar debitur pertama.
Bank sentral tidak menentukan siapa yang harus menerima kredit. Keputusan tersebut tetap menjadi wilayah perbankan berdasarkan risiko dan kelayakan usaha. Terlalu jauh mengarahkan kredit berpotensi merusak disiplin pasar. Namun ada perbedaan antara membiarkan bank memilih debiturnya dan hanya puas melihat kredit tumbuh tinggi.
Pada akhirnya, masyarakat tidak hidup dari angka pertumbuhan kredit. Mereka merasakannya ketika terjadi tambahan pesanan, tersedianya pekerjaan, berkembangnya usaha, dan munculnya peluang bisnis baru. Setelah kredit berhasil tumbuh dua digit, pertanyaan berikutnya yang harus dijawab: untuk apa kredit tumbuh tinggi jika kesempatan kerja dan peluang usaha tidak ikut meluas?
