Konten dari Pengguna

Saat Nilai Tukar Rupiah Ditekan, Ekonomi Harus Lebih Produktif

Ircham Andrianto Taufick

Ircham Andrianto Taufick

Kepala Tim Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah-Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ircham Andrianto Taufick tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Peningkatan Produktifitas Ekonomi Untuk Rupiah Yang Lebih Kuat (Foto Generated By AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Peningkatan Produktifitas Ekonomi Untuk Rupiah Yang Lebih Kuat (Foto Generated By AI)

Seorang pemilik usaha roti mungkin tidak pernah membaca laporan ekonomi global. Namun, ia segera tahu saat harga mentega, harga tepung dan harga plastik kemasan mulai berubah. Selain itu,biaya cicilan juga terasa lebih berat. Di tempat lain, pemilik bengkel menunda membeli suku cadang impor karena harga yang sulit ditebak. Dia menghadapi dilema: Jika harga suku cadang dinaikkan, pelanggan mengeluh. Jika harga ditahan, margin menipis. Di titik itu, nilai tukar rupiah menjadi relevan dengan dunia usaha.

Di sinilah paradoks kebijakan moneter. Untuk menjaga rupiah agar tidak jatuh terlalu dalam, suku bunga dinaikkan. Namun, suku bunga yang lebih tinggi membuat kredit lebih mahal. Untuk meredam gejolak kurs, cadangan devisa digunakan. Namun cadangan yang menurun membuat pasar bertanya apakah Indonesia masih memiliki bantalan yang kuat. Kita membutuhkan stabilitas, tetapi cara menjaga stabilitas selalu memiliki biaya.

Kenaikan BI-Rate menjadi 5,50% dan turunnya cadangan devisa menjadi 144,9 miliar dollar AS tidak seharusnya dibaca secara defensif. Ini adalah ujian apakah Indonesia mampu naik kelas, dari ekonomi yang sering menyerap devisa menjadi ekonomi yang makin kuat menghasilkan devisa.

Nilai rupiah akan lebih stabil ketika ekonomi kita dapat menawarkan nilai lebih kepada dunia. Suku bunga dan cadangan devisa adalah pagar ketika tekanan datang. Namun, pagar tidak pernah menggantikan fondasi rumah yang kokoh. Fondasi tersebut bernama produktivitas, ekspor bernilai tambah, pariwisata berkualitas, investasi produktif, dan industri yang tidak bergantung pada barang impor konsumtif.

Bank Indonesia menaikkan BI-Rate 25 basis poin menjadi 5,50% pada 9 Juni 2026, setelah sebelumnya menaikkan suku bunga 50 basis poin pada 20 Mei. Kebijakan ini ditempuh untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah, menjaga inflasi dalam sasaran, dan meningkatkan daya tarik aset rupiah di tengah gejolak global. Sementara itu, cadangan devisa akhir Mei 2026 tercatat 144,9 miliar dollar AS, turun dari 146,2 miliar dollar AS pada April. Meski menurun, posisinya masih setara 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Data perdagangan memberi pesan. BPS mencatat ekspor Januari–April 2026 mencapai 92,15 miliar dollar AS atau naik 5,48%. Namun kenaikan impor lebih tinggi, yaitu 13,40%. Neraca dagang masih surplus 5,64 miliar dollar AS, tetapi surplus nonmigas 14,16 miliar dollar AS tergerus defisit migas 8,52 miliar dollar AS. Artinya, persoalan rupiah bukan hanya bagaimana mempertahankan cadangan devisa, melainkan bagaimana memperkuat sumber pengisi cadangan itu.

Hal ini sejalan dengan Hukum Thirlwall dimana pertumbuhan negara bisa dibatasi oleh keseimbangan neraca pembayaran. Dalam bahasa yang lebih populer: Negara tidak bisa tumbuh apabila membeli lebih banyak dari dunia daripada yang mampu ia jual kepada dunia.

Indonesia di Ambang Krisis?

Menyebut Indonesia berada di ambang krisis jelas berlebihan mengingat bantalan eksternal masih memadai. Respons kebijakan juga menunjukkan bahwa otoritas tidak membiarkan ekspektasi pasar bergerak liar. Saat ini dunia sedang menghadapi perang, harga energi yang sensitif, dan perpindahan arus modal. Oleh karena itu langkah stabilisasi nilai rupiah menjadi hal yang relevan.

Di sisi lain argumen “masih aman” tidak boleh berubah menjadi rasa nyaman. Sebuah kapal bisa memiliki pelampung yang cukup, tetapi pelampung bukan alasan untuk mengabaikan arah angin dan kondisi mesin. Cadangan devisa yang kuat memang penting, tetapi pertanyaan yang lebih strategis adalah bagaimana cadangan itu diisi kembali. Jika setiap gejolak harus dibayar dengan bunga lebih tinggi dan penggunaan cadangan, maka harga menjaga stabilitas menjadi mahal.

Kenaikan suku bunga memang bukan kebijakan populer. Bagi dunia usaha, bunga lebih tinggi bisa menunda ekspansi. Bagi rumah tangga, cicilan akan terasa lebih berat. Bagi perbankan, risiko kredit harus dihitung lebih hati-hati. Bagi pemerintah dan korporasi, beban pembiayaan dapat ikut naik. Dengan kata lain, kebijakan yang menyelamatkan stabilitas hari ini dapat mengurangi kelincahan ekonomi esok hari bila tidak diimbangi kebijakan struktural.

Saat Nilai Tukar Mengubah Perilaku.

Bagi dunia usaha, konsekuensi terbesar dari penurunan kurs rupiah bukanlah kenaikan beban kredit melainkan perubahan perilaku. Pelaku usaha akan menahan rencana investasi. Konsumen akan menunda pembelian besar. Importir menaikkan harga jual lebih awal karena takut kurs bergerak lagi. Investor meminta imbal hasil lebih tinggi karena merasa risiko nilai tukar yang meningkat. Jika dibiarkan, tekanan nilai tukar dapat berubah menjadi lingkaran ekspektasi: orang bertindak karena takut, lalu ketakutan itu memperkuat tekanan yang mereka khawatirkan.

Solusi tidak cukup dengan meminta publik tenang. Stabilitas harus diubah menjadi agenda produktivitas. Dalam jangka pendek, Bank Indonesia perlu terus menjaga kredibilitas rupiah melalui suku bunga, operasi moneter, stabilisasi pasar valas, DNDF, penguatan instrumen rupiah, dan komunikasi kebijakan yang jelas. Namun, BI juga perlu memastikan likuiditas tetap cukup agar stabilisasi nilai tukar tidak memengaruhi kredit produktif.

Dalam jangka menengah, pemerintah dan BI perlu mempercepat strategi mengurangi ketergantungan pada dollar AS melalui perluasan transaksi mata uang lokal (local currency transaction) , penguatan lindung nilai (hedging) bagi pelaku usaha, serta insentif agar devisa hasil ekspor lebih menarik untuk tinggal di dalam negeri. Strategi ini penting agar stabilitas nilai rupiah juga berasal dari pasokan devisa yang lebih sehat.

Untuk jangka panjang, Indonesia perlu membangun mesin penghasil devisa baru. Hilirisasi harus menghasilkan ekspor bernilai tambah. Pariwisata harus mengejar belanja wisatawan dan lama tinggal, bukan hanya jumlah kunjungan. Industri domestik harus mengurangi impor konsumtif dan menjaga impor bahan baku dan barang modal yang memperbesar kapasitas produksi. UMKM juga perlu masuk rantai pasok ekspor dan menjadi pelaku ekonomi global.

Rupiah tidak akan kuat hanya karena dijaga. Rupiah menjadi kuat ketika dunia percaya bahwa ekonomi Indonesia mampu menghasilkan barang, jasa, talenta, dan inovasi yang dibutuhkan dunia. Di situlah insight pentingnya: tekanan rupiah menjadi pengingat bahwa stabilitas harus menjadi jembatan menuju produktivitas.

Pertanyaannya sekarang: apakah kita ingin menghabiskan energi untuk menjaga rupiah dari tekanan atau mulai membangun ekonomi yang membuat rupiah lebih dipercaya dunia?