Saat QRIS Bergantung pada Langit

Kepala Tim Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah-Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ircham Andrianto Taufick tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penulis sedang berada di Kelurahan Melonguane, Kabupaten Kepulauan Talaud. Kabupaten Talaud adalah wilayah paling utara Indonesia yang berbatasan langsung dengan Filipina. Saat ingin belanja, penulis pergi ke warung. Stiker QRIS telah menempel di meja kasir. Penulis mengarahkan kamera ponsel, memasukkan nominal, lalu menekan tombol pembayaran. Namun, lingkaran kecil di layar terus berputar. Sinyal menghilang padahal cuaca sedang cerah.
Kemajuan pembayaran digital mendadak berhenti pada persoalan dasar: apakah ada jaringan tersedia di sini? Di wilayah kepulauan, pembayaran digital ditentukan oleh ketahanan jaringan yang membuat transaksi dapat diselesaikan.
Setiap 6 Agustus, Indonesia memperingati Hari Keantariksaan Nasional. Bagi sebagian orang, antariksa mungkin identik dengan roket, observatorium, dan ambisi menjelajah ruang angkasa. Padahal, teknologi antariksa hadir dalam kehidupan dengan menopang komunikasi, membantu prakiraan cuaca dan mitigasi bencana, serta menyediakan konektivitas bagi wilayah yang sulit dijangkau jaringan darat. Dalam ekonomi digital, satelit dapat menentukan apakah seorang pedagang bisa menerima pembayaran nontunai atau harus kembali berkata, “Maaf, kami hanya terima tunai.”
Antariksa yang Turun ke Warung
Geografi Indonesia menghadirkan tantangan yang tidak sederhana. Puluhan ribu pulau, pegunungan, hutan, serta permukiman yang tersebar membuat pembangunan jaringan kabel dan menara telekomunikasi tidak selalu mudah ataupun ekonomis. Satelit menjadi salah satu jawaban untuk menjangkau wilayah yang terlalu jauh atau terlalu mahal dilayani infrastruktur konvensional.
Konektivitas satelit di sekolah, puskesmas, kantor desa, dan fasilitas publik dapat membuka akses terhadap layanan pemerintahan, pendidikan, kesehatan, perdagangan, hingga keuangan. Di kota besar, transaksi digital seolah hanya membutuhkan ponsel. Namun, di wilayah terluar, transaksi yang sama sangat bergantung pada infrastruktur seperti listrik, menara, jaringan, pusat data, hingga satelit yang mengorbit di atas bumi.
Konektivitas Belum Tentu Inklusi
Adopsi QRIS berkembang pesat. Bank Indonesia mencatat hingga Juni 2026, QRIS digunakan oleh 65 juta pengguna dan lebih dari 45 juta merchant, dengan mayoritas UMKM. Pada triwulan II 2026, volume transaksinya tumbuh lebih dari 100 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan tersebut memperluas akses keuangan. Pedagang dapat menerima pembayaran tanpa mesin khusus, pembeli tidak perlu membawa banyak uang tunai, dan riwayat transaksi berpotensi membantu usaha kecil membangun jejak ekonomi untuk mengakses pembiayaan. Namun, manfaat itu hanya hadir apabila layanan dapat digunakan secara konsisten.
Data terbaru menunjukkan bahwa tantangannya tidak lagi hanya menghadirkan sinyal, tetapi memastikan jaringan tetap andal. BPS mencatat 146 dari 153 desa dan kelurahan di Kepulauan Talaud telah menerima sinyal 4G atau 5G pada 2025. Namun, cakupan belum tentu berarti ketahanan.
Pada Juli 2026, kerusakan sebagian kabel optik bawah laut Palapa Ring Tengah segmen Melonguane–Morotai mengganggu konektivitas Talaud, Sangihe, dan Sitaro. Selama restorasi, BAKTI Komdigi mengoptimalkan 132 titik akses internet di Talaud melalui satelit SATRIA-1. Peristiwa ini menunjukkan bahwa wilayah dapat terlihat terhubung dalam statistik, tetapi tetap memerlukan jalur cadangan ketika infrastruktur utama terganggu.
Pengalaman di Talaud memperlihatkan tantangan yang juga dapat dihadapi banyak wilayah kepulauan Indonesia: memperluas cakupan jaringan belum cukup apabila konektivitas masih bergantung pada satu jalur utama.
Oleh karena itu, inklusi keuangan tidak cukup diukur dari jumlah rekening, pengguna, atau merchant. Ukuran yang lebih bermakna adalah apakah masyarakat benar-benar dapat menggunakan layanan tersebut ketika dibutuhkan. Inklusi yang hanya andal di kota besar belum dapat disebut inklusi yang merata.
Bukan Hanya Cepat, tetapi Tahan Gangguan
Kemajuan pembayaran digital banyak dirayakan melalui kecepatan. Transfer berlangsung seketika, layanan tersedia sepanjang waktu, dan uang berpindah melalui beberapa sentuhan. Namun, semakin besar ketergantungan masyarakat pada pembayaran digital, semakin besar pula konsekuensi ketika jaringan terganggu.
Ukuran kemajuan sistem pembayaran perlu diperluas menjadi seberapa lama layanan mampu bertahan dan seberapa cepat pulih ketika terjadi gangguan. Ketahanan membutuhkan arsitektur berlapis. Serat optik dan jaringan seluler tetap menjadi jalur utama, sedangkan satelit berfungsi sebagai penguat dan jalur alternatif bagi wilayah sulit.
Pada saat yang sama, transaksi bernilai kecil dapat dikembangkan agar tetap berjalan ketika koneksi hilang sementara, dengan batas nominal, batas akumulasi, autentikasi perangkat, dan rekonsiliasi setelah jaringan pulih. Uang tunai juga bukan lawan digitalisasi. Di daerah rawan bencana dan gangguan jaringan, ketersediaannya merupakan bagian dari ketahanan sistem.
Langit Bukan Solusi Tunggal
Satelit bukan obat bagi seluruh persoalan inklusi keuangan. Konektivitas tanpa literasi dapat memperluas penipuan. Pembayaran digital tanpa perlindungan konsumen dapat memindahkan risiko kepada masyarakat. Infrastruktur dengan biaya yang tidak terjangkau juga berisiko jarang dimanfaatkan masyarakat.
Kebijakan keantariksaan perlu dipertemukan dengan agenda pembayaran, telekomunikasi, energi, kebencanaan, dan pembangunan daerah. Pemerintah membangun konektivitas dasar. Industri telekomunikasi menyediakan layanan yang terjangkau. Bank Indonesia menjaga standardisasi, keamanan, serta ketahanan sistem pembayaran. Pemerintah daerah memastikan manfaatnya mencapai pasar, sekolah, puskesmas, dan masyarakat umum.
Momentum Hari Keantariksaan Nasional mengingatkan bahwa keberhasilan teknologi langit pada akhirnya diukur dari manfaatnya di bumi. Ketika masyarakat di pusat kota dapat membayar dalam hitungan detik, sementara pedagang di pulau terluar masih menunggu sinyal, dapatkah sistem pembayaran Indonesia disebut telah inklusif?
