Suksesi Gubernur Bank Indonesia dan Premi Kredibilitas Rupiah

Kepala Tim Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah-Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ircham Andrianto Taufick tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pasar keuangan tidak hanya membaca angka. Ia juga membaca siapa yang berdiri di belakang angka tersebut. Pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia adalah ujian terhadap kredibilitas institusi. Pada 28 Juli, nilai tukar rupiah melemah ke kisaran Rp18.000 per dolar AS di pasar spot, sedangkan indeks harga saham gabungan juga ditutup melemah. Perrgerakan tersebut menunjukkan adanya peningkatan sensitivitas terhadap proses transisi.
BI telah bergerak cepat. Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti ditetapkan sebagai pejabat Gubernur sementara. Destry menegaskan kesinambungan tugas BI, terutama dalam menjaga stabilitas rupiah dan sistem keuangan.
Meski demikian, kontinuitas administratif tidak sama dengan kontinuitas kepercayaan. Masa transisi datang ketika rupiah masih bergerak dekat titik terendahnya. Pada 22 Juli, BI mempertahankan suku bunga acuan sebesar 5,75 persen setelah menaikkannya total 100 basis poin sejak Mei. Pilihan itu memperlihatkan sempitnya ruang kebijakan di mana stabilitas rupiah harus dijaga tanpa membuat biaya pinjaman domestik naik terlalu tinggi.
Saat Kredibilitas Masih Berwajah
Pengunduran diri Perry melahirkan pertanyaan penting. Apakah kredibilitas kebijakan moneter BI melekat pada institusi, atau bergantung pada figur? Idealnya, bank sentral harus lebih besar daripada individu tertentu. Kebijakan moneter dibangun melalui data, proyeksi, mekanisme kelembagaan, dan perangkat kebijakan yang telah berkembang bertahun-tahun. Namun, manusia tetap menjadi pembawa sinyal. Rekam jejak, keberanian mengambil keputusan tidak populer, konsistensi komunikasi, dan kemampuan menjaga jarak dari tekanan ikut menentukan bagaimana pasar menafsirkan kebijakan.
Independensi bank sentral setidaknya memiliki tiga lapisan. Pertama, independensi legal yang dijamin oleh UU. Kedua, independensi operasional untuk memutuskan kebijakan berdasarkan kebutuhan stabilitas. Ketiga, independensi yang dipersepsikan, yakni keyakinan publik dan investor bahwa keputusan dibuat secara profesional.
Secara formal, independensi legal dan operasional tetap memiliki landasan hukum dan mekanisme kelembagaan. Namun, independensi yang dipersepsikan dapat melemah apabila proses suksesi dianggap tidak jelas atau sarat kepentingan. Kekhawatiran investor setelah pengunduran diri Perry dapat lebih banyak tertuju pada kredibilitas penggantinya, kontinuitas kebijakan, dan kemampuan BI mempertahankan independensi.
Di pasar keuangan, persepsi diterjemahkan menjadi biaya. Investor dapat meminta imbal hasil lebih tinggi, mengurangi jumlah kepemilikan aset rupiah, atau menunda keputusan sampai arah kebijakan terlihat lebih jelas. Tambahan risiko inilah yang dapat disebut “premi kredibilitas rupiah”. Ini bukan indikator resmi, melainkan harga yang harus dibayar ketika pasar belum sepenuhnya yakin terhadap kesinambungan dan independensi kebijakan.
Premi tidak hanya di layar perdagangan. Ketika investor meminta imbal hasil lebih tinggi dan rupiah menghadapi tekanan tambahan, biaya bahan baku impor dapat meningkat. Bagi pelaku usaha kecil, konsekuensinya bisa hadir dalam harga bahan produksi yang lebih mahal, margin yang menyempit, atau keputusan ekspansi yang kembali ditunda.
Ketika Suksesi Memengaruhi Ekspektasi Pasar
Selama ini, instrumen moneter identik dengan suku bunga, likuiditas, intervensi valuta asing, dan komunikasi. Namun, dalam periode transisi, tata kelola suksesi juga dapat berfungsi sebagai instrumen stabilisasi. Suksesi tentu bukan instrumen moneter dalam pengertian formal. Namun, cara suksesi dikelola dapat menjadi instrumen stabilisasi ekspektasi karena kebijakan moneter bekerja melalui kepercayaan pasar.
Proses yang jelas memperkecil ruang spekulasi. Kandidat yang kompeten memperkuat ekspektasi. Komunikasi yang konsisten menurunkan ketidakpastian. Sebaliknya, proses yang berlarut atau menimbulkan pertanyaan dapat membuat setiap keputusan BI dibaca melalui kacamata politik.
Ada argumen bahwa kekhawatiran tersebut berlebihan. BI bukan lembaga satu orang. Penunjukan pejabat sementara memberikan kesinambungan, dan mekanisme pemilihan gubernur definitif melalui pengajuan presiden dan uji kelayakan di DPR telah tersedia. Selain itu, reaksi pasar sesaat belum tentu berkembang menjadi tekanan berkepanjangan.
Argumen itu masuk akal. Namun demikian, hukum hanya menjamin kursi tidak kosong, kredibilitaslah yang memastikan kepercayaan tidak ikut kosong. Yang akan dinilai pasar bukan hanya terpenuhinya prosedur, tetapi juga apakah proses tersebut dapat menghasilkan pimpinan dengan kompetensi teknokratis, integritas, kapasitas komunikasi, dan keberanian menjaga stabilitas meskipun keputusannya tidak selalu menyenangkan semua pihak.
Siapa yang terpilih memang penting. Namun, bagaimana ia dipilih, kualitas apa yang menjadi pertimbangan, dan seberapa konsisten arah kebijakan dikomunikasikan tidak kalah menentukan.
Menurunkan Premi Kredibilitas
Suksesi perlu dikelola sebagai bagian dari kebijakan stabilisasi. Kriteria kandidat perlu ditegaskan: penguasaan terhadap bauran kebijakan BI, pengalaman menghadapi krisis, reputasi profesional, serta kemampuan menyeimbangkan pertumbuhan dan stabilitas. Prosesnya harus cukup cepat untuk membatasi ketidakpastian, tetapi tidak tergesa hingga mengorbankan kualitas. Sementara itu, selama masa transisi, publik perlu melihat bahwa kebijakan BI lahir dari sistem kelembagaan, bukan dari kehendak satu figur.
Di sisi lain, koordinasi dengan pemerintah tetap penting, terutama ketika nilai tukar rupiah masih tertekan akibat meningkatnya risiko global. Namun demikian, koordinasi tidak boleh berubah menjadi subordinasi. Sinergi akan lebih bernilai ketika masing-masing lembaga tetap menjalankan mandat dan disiplin kebijakannya.
Suksesi yang kredibel tidak otomatis membuat rupiah menguat. Nilai tukar tetap dipengaruhi dolar AS, harga minyak, arus modal, inflasi, dan kesehatan fiskal. Namun, suksesi yang buruk dapat menambahkan beban yang tidak perlu. Di tengah guncangan global, Indonesia tidak membutuhkan ketidakpastian baru.
Indonesia memerlukan Gubernur BI yang kuat. Namun, ukuran kematangan bank sentral bukan hanya terletak pada kualitas orang yang memimpinnya. Pertanyaannya: jika kepercayaan pelaku usaha masih bergetar setiap figur berganti, sebenarnya seberapa besar kredibilitas melekat di institusi?
