Konten dari Pengguna

Tanjung Verde Membuat Argentina Berkeringat: Pelajaran untuk Ekonomi Indonesia

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ircham Andrianto Taufick tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kebijakan ekonomi Indonesia untuk meningkatkan daya tawar.  Foto generated by AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kebijakan ekonomi Indonesia untuk meningkatkan daya tawar. Foto generated by AI

Dalam sepak bola, papan skor kadang tidak menceritakan seluruh pertandingan. Tanjung Verde memang kalah 2-3 dari Argentina di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Namun, kekalahan setelah perpanjangan waktu membuat dunia melihat sesuatu: negara kecil dapat memaksa raksasa bekerja lebih keras dari yang dibayangkan.

Di ekonomi global, Indonesia menghadapi lapangan yang kurang lebih sama. Ada negara-negara besar yang menguasai mata uang cadangan, teknologi, pembiayaan, standar industri, jaringan logistik, dan lembaga penentu aturan. Masalahnya, hegemoni ekonomi Barat sering bekerja secara halus: melalui ketergantungan pada dolar AS, harga komoditas global, standar lembaga pemeringkat, dominasi platform digital, hingga arsitektur perdagangan yang membuat negara berkembang sering menjual bahan mentah daripada menjual nilai tambah.

Melawan dominasi bukan berarti memusuhi Barat. Indonesia tidak akan menjadi kuat jika sekadar mengganti ketergantungan dari satu blok ke blok lain. Kekuatan sejati lahir dari kemampuan memilih: kapan memakai pasar Barat; kapan memperluas pasar nontradisional di Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin; kapan menarik modal asing; kapan menahan nilai tambah di dalam negeri; dan kapan membangun infrastruktur sendiri agar tidak terus menjadi penumpang dalam sistem global.

Strategi Underdog dalam Ekonomi

Di sinilah pelajaran Tanjung Verde menjadi relevan. Mereka merepotkan Argentina karena bermain disiplin, menutup ruang, memaksimalkan transisi, dan tidak minder pada reputasi lawan. Dalam ekonomi, strategi serupa dapat disebut sebagai “strategi asimetris” yaitu memilih titik atau celah sempit yang bisa mengubah posisi tawar.

Indonesia tidak perlu menjadi negara adidaya untuk memperbesar pengaruhnya. Yang dibutuhkan adalah kemampuan membaca ruang kosong dalam sistem global. Ketika dunia terbelah oleh rivalitas Amerika Serikat dan Tiongkok, Indonesia dapat mengambil posisi sebagai negara yang tidak mudah dipaksa memilih satu kubu. Ketika rantai pasok global mencari basis produksi baru, Indonesia dapat masuk sebagai pusat nilai tambah. Ketika sistem pembayaran global didominasi jaringan besar, Indonesia dapat membangun kanal transaksi lintas negara yang lebih murah, cepat, dan terhubung dengan mata uang lokal.

Mata Uang Lokal sebagai Jalur Operan Baru

Titik pertama adalah mata uang. Selama perdagangan, utang, dan harga komoditas terlalu bergantung pada dolar AS, negara berkembang selalu menghadapi risiko ganda: harus menjaga ekonomi domestik sekaligus menghadapi gejolak kebijakan moneter Amerika Serikat. Karena itu, perluasan Local Currency Transaction menjadi langkah penting. Bank Indonesia menyampaikan bahwa nilai transaksi Local Currency Transaction (LCT) per April 2026 menembus angka USD22,61 miliar. Angka ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 309% (yoy) dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya yang berada di angka USD7,33 miliar.

Ini bukan de-dolarisasi melainkan diversifikasi risiko. Dolar tetap penting, tetapi tidak semua transaksi harus melewati dolar. Seperti tim kecil yang tidak selalu menyerang dari tengah, Indonesia perlu punya banyak jalur operan: yuan, yen, ringgit, baht, dan won. Semakin banyak jalur, semakin kecil peluang ekonomi nasional tersandera oleh satu mata uang. Kedaulatan ekonomi berarti memiliki cukup banyak pilihan sehingga ekonomi nasional tidak selalu ditentukan oleh tekanan eksternal.

QRIS dan Kedaulatan Transaksi

Titik kedua adalah sistem pembayaran. QRIS lintas negara adalah infrastruktur kedaulatan yang dampaknya besar. Saat warga Indonesia dapat bertransaksi lintas negara melalui kanal yang terhubung dengan sistem domestik, nilai ekonomi tidak sepenuhnya dikendalikan oleh jaringan pembayaran global. Bayangkan produsen kopi di Toraja, perajin kain di Minahasa, atau eksportir makanan olahan di Jawa Barat dapat menerima pembayaran lintas negara dengan biaya lebih murah dan penyelesaian transaksi lebih cepat.

Dalam konteks ini, sistem pembayaran menjadi bagian dari strategi ekonomi. Siapa yang menguasai kanal pembayaran, ikut menentukan biaya transaksi, aliran data, kecepatan perdagangan, dan posisi tawar. Jika UMKM Indonesia dapat menjual produk dan menerima pembayaran lintas negara dengan lebih mudah, maka ekonomi rakyat ikut masuk ke dalam peta diplomasi ekonomi.

Hilirisasi yang Tidak Boleh Setengah Jalan

Titik ketiga adalah hilirisasi. Indonesia selama puluhan tahun terlalu sering menjadi pemasok bahan mentah bagi industri global. Nikel, bauksit, tembaga, dan komoditas strategis lain tidak boleh berhenti sebagai cerita ekspor tonase. Nilai tambah harus bergerak ke dalam negeri: smelter, baterai, kendaraan listrik, energi terbarukan, riset material, hingga industri daur ulang.

Namun, program hilirisasi juga tidak boleh kebal kritik. Jika hanya memindahkan ekstraksi dari tambang ke pabrik tanpa standar lingkungan, teknologi, dan tenaga kerja yang naik kelas, Indonesia hanya mengganti bentuk ketergantungan. Lebih buruk lagi, kita bisa menjadi halaman belakang industri hijau dunia: memasok bahan untuk transisi energi global, tetapi menanggung polusi, konflik lahan, dan kerusakan pesisir sendiri. Hilirisasi harus naik menjadi industrialisasi cerdas dengan membangun paten, riset, standardisasi, logistik, pembiayaan hijau, dan kualitas sumber daya manusia.

Bukan Anti-Barat, tetapi Anti-Ketergantungan

Titik keempat adalah diplomasi ekonomi multipintu. Bergabungnya Indonesia dalam forum-forum ekonomi membuka ruang untuk memperluas kerja sama Global South. Manfaat menjadi anggota forum internasional seperti BRICS, ASEAN, G20, atau kerja sama bilateral dengan berbagai negara harus diterjemahkan menjadi akses pasar, pembiayaan pembangunan, transfer teknologi, dan posisi tawar.

Karena itu, strategi Indonesia sebaiknya “ketergantungan versus pilihan”. Kita tetap membutuhkan ekspor ke Amerika dan Eropa, investasi Jepang dan Korea, teknologi Tiongkok, pasar India, pembiayaan Timur Tengah, serta integrasi ASEAN. Yang dilawan bukan negaranya, melainkan struktur yang membuat Indonesia tidak punya banyak opsi.

Di sinilah kedewasaan strategi ekonomi diuji. Negara yang terlalu ideologis bisa kehilangan peluang. Namun, negara yang terlalu pasif bisa kehilangan kedaulatan. Indonesia perlu berada di tengah: terbuka, tetapi tidak mudah dikendalikan; pragmatis, tetapi tidak kehilangan arah; ramah pada investasi, tetapi tidak menjual masa depan terlalu murah.

Membuat Dunia Menghitung Ulang Indonesia

Terlalu banyak intervensi negara dapat membuat pasar takut. Terlalu agresif melawan dominasi global dapat memicu balasan dagang. Terlalu cepat mengurangi ketergantungan dolar dapat menimbulkan biaya transaksi baru. Namun, terlalu pasif juga berbahaya. Jika Indonesia hanya mengikuti arus, kita akan menjadi penonton saat nilai tambah berpindah ke negara lain.

Tanjung Verde memang tidak mengalahkan Argentina, tetapi mereka berhasil membuat Argentina berkeringat, panik, dan dipaksa menghormati lawan yang sebelumnya dianggap kecil. Indonesia pun tidak harus mengalahkan Barat untuk menjadi kuat. Indonesia hanya perlu membuat dunia tidak bisa lagi memperlakukan kita sebagai pasar, tambang, dan konsumen pasif. Jika Tanjung Verde mampu membuat Argentina tidak nyaman, apakah Indonesia berani berhenti menjadi penonton di ekonomi global dan mulai menentukan ruang geraknya sendiri?