Utang Negara dan APBN yang Belum Lahir

Kepala Tim Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah-Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ircham Andrianto Taufick tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

APBN tahun 2045 belum dibuat. Namun, sebagian biayanya mungkin sudah mulai ditulis hari ini. Bayangkan seorang anak yang lahir tahun ini. Dua puluh tahun kemudian, ia mungkin sudah bekerja dan membayar pajak. Ia tidak ikut memilih untuk apa pemerintah berutang. Namun, sebagian pajak yang dia bayarkan dapat ikut digunakan untuk melunasi keputusan yang dibuat saat dia bahkan belum dilahirkan. Di situlah utang negara menjadi lebih dari sekadar soal angka.
Pada akhir Juni 2026, utang pemerintah mencapai Rp10.293,69 triliun atau sekitar 41,26 persen dari produk domestik bruto. Untuk pertama kalinya, angkanya melewati Rp10.000 triliun. Angka sebesar itu mudah membuat orang khawatir. Namun, Rp10.000 triliun bukanlah semacam garis merah yang saat dilewati akan membuat sebuah negara dalam masalah. Namun demikian ada hal lain yang harus kita pikirkan: apa yang kita tinggalkan kepada mereka yang kelak harus ikut membayar utang yang kita buat?
Utang Negara Tidak Sama dengan Utang Rumah Tangga
Utang negara memang tidak bisa disamakan dengan utang sebuah keluarga. Negara tidak memiliki umur seperti manusia. Negara juga memiliki pendapatan pajak, aset, dan perekonomian yang terus bergerak. Selama ekonomi tumbuh dan kemampuan negara memperoleh pendapatan tetap kuat, utang dapat terus dikelola dalam waktu sangat panjang.
Kondisi Indonesia saat ini juga tidak menunjukkan keadaan darurat. Hingga Juni 2026, pendapatan negara mencapai sekitar Rp1.459 triliun. Defisit APBN masih sekitar 0,76 persen dari PDB. IMF masih menilai risiko utang pemerintah Indonesia relatif rendah. Menyimpulkan Indonesia sedang menuju krisis karena utangnya melewati Rp10.000 triliun jelas berlebihan. Di sisi lain, mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja karena rasio utang masih terkendali juga terlalu sederhana. Utang memiliki sifat yang unik: manfaatnya dapat dinikmati hari ini, sementara kewajibannya bisa berlangsung bertahun-tahun.
Anak yang Belum Membayar Pajak
Kembali kepada anak yang baru lahir tadi. Barangkali ia bersekolah di gedung yang dibangun saat ini. Ia juga menggunakan jalan yang dibangun saat ini sehingga membuat perjalanan ke sekolah lebih cepat. Ketika sakit, ia dapat pergi ke rumah sakit yang lebih baik. Ketika mulai bekerja, jaringan internet dan listrik yang lebih andal membuat tempat kerjanya lebih produktif. Jika sebagian pembangunan tersebut dibiayai melalui utang, sebenarnya ia tidak hanya menerima beban masa lalu. Ia juga menerima warisan dari generasi sebelumnya.
Oleh karena itu, tidak tepat mengatakan bahwa setiap utang hari ini pasti membebani anak cucu. Jika uang pinjaman dipakai dengan baik untuk membuat masyarakat lebih sehat, lebih terdidik, lebih terhubung, dan lebih produktif, generasi mendatang mendapatkan sesuatu yang dapat membantu mereka membayar kewajiban tersebut.
Persoalan muncul ketika manfaat yang diwariskan tidak sebesar beban yang datang. Bahkan masih ada satu masalah lain yang lebih jarang didiskusikan.
Warisan yang Tidak Terlihat
Setiap pemerintahan memiliki pilihan. Anggaran bisa digunakan untuk sekolah, kesehatan, jalan, perlindungan sosial, pertahanan, teknologi, penanganan bencana, atau berbagai kebutuhan lain. Pilihan itu berubah mengikuti zaman dan preferensi pemerintah.
Masalah yang akan dihadapi pemerintah pada 2045 mungkin berbeda dari masalah yang dihadapi pemerintah saat ini. Bisa jadi, Indonesia menghadapi penduduk yang semakin menua, biaya perubahan iklim yang lebih besar, perkembangan teknologi yang belum kita kenal, atau ancaman kesehatan yang bahkan belum terbayangkan.
Pemerintah pada masa itu membutuhkan uang untuk menyelesaikan persoalan di masa mereka. Namun sebagian pendapatan mereka harus digunakan untuk membayar bunga dan kewajiban utang dari keputusan yang dibuat oleh generasi sebelumnya. Artinya, utang tidak hanya memungkinkan kita menggunakan lebih banyak sumber daya hari ini. Ia juga membuat sebagian anggaran masa depan telah memiliki kewajiban yang harus dipenuhi sebelum pemerintah saat itu menentukan prioritas. Dengan kata lain, utang dapat mengubah pilihan.
Semakin besar bagian anggaran masa depan yang telah memiliki tujuan sebelum uangnya diterima, maka semakin sedikit kebebasan generasi mendatang menentukan sendiri apa yang paling mereka butuhkan. Inilah warisan yang tidak terlihat dalam angka Rp10.000 triliun: kebebasan untuk memilih.
Besarnya anggaran yang sudah memiliki tujuan dapat terlihat dari APBN saat ini. Pada 2026, pemerintah menganggarkan sekitar Rp599,4 triliun untuk membayar bunga utang. Angka itu setara sekitar 19 persen dari target pendapatan negara dan 15,6 persen dari seluruh belanja negara tahun ini. Pembayaran tersebut merupakan kewajiban yang harus dipenuhi untuk menjaga kepercayaan terhadap negara. Namun angka itu juga menunjukkan bahwa keputusan berutang pada masa lalu memang ikut menentukan seberapa luas pilihan yang tersedia dalam anggaran hari ini.
Jangan Takut Berutang, Jangan Pula Terlalu Nyaman
Namun semua itu bukan alasan bagi negara untuk berhenti berutang. Terlalu takut pada utang juga bisa berakibat buruk. Jalan yang tidak dibangun, sekolah yang tertunda, konektivitas yang buruk, atau investasi yang tidak dilakukan saat ini dapat membuat ekonomi masa depan lebih lemah.
Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah manfaat yang kita peroleh hari ini sepadan dengan ruang pilihan yang kita kurangi pada masa depan. Mengingat hal tersebut, setiap tambahan utang sebaiknya bisa menjawab pertanyaan berikut: Apakah manfaatnya akan bertahan lebih lama daripada biayanya? Apakah utang tersebut dapat membantu ekonomi tumbuh sehingga generasi berikutnya lebih mudah membayarnya? Setelah seluruh kewajiban itu dipenuhi, apakah pemerintah pada masa depan masih mempunyai cukup ruang untuk menghadapi masalah mereka sendiri?
Angka Rp10.000 triliun seharusnya tidak membuat kita panik. Namun, saat melihat angka tersebut, kita dapat berhenti sejenak dan melihat utang dengan cara berbeda. Bukan hanya bertanya, “Apakah negara masih mampu membayar?” tetapi juga bertanya: “Ketika giliran anak-anak kita menyusun APBN, berapa banyak pilihan yang kita sisakan untuk mereka?”. Warisan terbaik yang dapat kita berikan kepada generasi mendatang adalah negara yang memperoleh lebih banyak manfaat dari utang yang kita buat serta negara yang dapat memberi hak untuk memilih masa depan mereka sendiri.
