Panggung Kecil di Tengah Kota, Solidaritas Melintasi Pulau

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Irene Camilla Lathifa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Cerita Mahasiswa Perantau Minang Menggalang Kepedulian untuk Sumatera

Lampu jalan di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta menyala terang malam itu. Di tengah lalu lalang wisatawan dan warga yang berlalu, sebuah panggung sederhana berdiri tanpa sekat tinggi. Tidak megah, tidak pula mencolok. Namun dari panggung kecil itulah, pesan solidaritas disampaikan pelan-pelan kepada publik.
Pada 13 Desember 2025, mahasiswa perantau Minangkabau di Yogyakarta menggelar Panggung Amal Peduli Sumatera, sebuah kegiatan penggalangan dana pasca bencana di Sumatera Barat. Aksi ini menjadi puncak dari rangkaian penggalangan dana yang sebelumnya dilakukan di berbagai titik, mulai dari kafe, kampus, hingga jalanan kota.
Pertunjukan seni Minangkabau ditampilkan silih berganti. Gerakan silat tradisional dan Tari Pasembahan mengisi ruang publik yang biasanya dipenuhi langkah kaki dan obrolan singkat. Beberapa pengunjung berhenti, sebagian lain menonton dari kejauhan. Di depan panggung, sebuah kotak donasi diletakkan tanpa seruan lantang, tanpa paksaan.
Ketua pelaksana kegiatan, Reski Kalik, menjelaskan bahwa acara ini merupakan hasil kolaborasi paguyuban mahasiswa Minang yang ada di Yogyakarta. Sekitar sepuluh paguyuban dari berbagai kampus, daerah, dan asrama terlibat dalam kegiatan tersebut. “Penggalangan dana ini bukan hanya satu acara, tetapi rangkaian aksi yang kami lakukan bersama,” ujarnya.
Sebelum panggung amal digelar, mahasiswa Minang lebih dulu melakukan penggalangan dana melalui pertunjukan musik di salah satu kafe di Yogyakarta serta aksi langsung di sejumlah titik kota. Awalnya, kegiatan di Titik Nol Kilometer difokuskan sebagai puncak pengumpulan dana. Namun melihat antusiasme masyarakat, arah kegiatan pun berkembang. “Kami ingin memperkenalkan budaya Minangkabau di Jogja, bukan hanya soal penggalangan dananya,” kata Reski.
Bagi mahasiswa perantau, jarak dengan kampung halaman justru menumbuhkan ras
a kepemilikan yang kuat. Reski menuturkan bahwa jumlah mahasiswa Minang di Yogyakarta cukup besar, namun fasilitas pendukung seperti asrama masih terbatas. Banyak mahasiswa yang harus berjuang dengan keterbatasan biaya kuliah dan tempat tinggal. “Kami berharap keberadaan mahasiswa Minang di perantauan juga bisa lebih diperhatikan,” ujarnya.
Ia juga menyinggung stigma yang kerap melekat pada mahasiswa perantau. “Kami datang ke sini untuk kuliah dan berkembang. Tapi masih ada pandangan yang merendahkan. Kami ingin dipandang setara,” katanya. Keresahan itu malam itu tidak disuarakan lewat teriakan, melainkan melalui seni dan kehadiran di ruang publik.
Salah satu pengisi acara, Faros Ayala, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, tampil membawakan silat tradisional dan Tari Pasembahan sebagai pembuka. Baginya, budaya adalah identitas yang tidak boleh ditinggalkan, sejauh apa pun seseorang merantau. “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Tapi jangan pernah lupakan siapa kita dan budaya yang kita bawa,” ujarnya.
Tidak semua yang hadir malam itu berasal dari komunitas Minangkabau. Ilham Havaino, mahasiswa perantau Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, mengaku mengetahui acara tersebut secara tidak sengaja. “Saya awalnya hanya jalan-jalan, lalu penasaran karena ada penggalangan dana dan pertunjukan seni,” katanya.
Menurut Ilham, perpaduan antara seni dan aksi kemanusiaan menjadi daya tarik tersendiri. “Di balik penampilan budaya, ada solidaritas untuk saudara-saudara kita di Sumatera Barat. Itu bentuk kepedulian yang patut diapresiasi,” ujarnya.
Aksi solidaritas mahasiswa di ruang publik dinilai memiliki makna penting secara sosial. Ine Yudhawati, dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, menilai bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan penggalangan dana seperti ini menunjukkan bahwa suara mahasiswa memiliki peran di ruang publik. “Mahasiswa adalah kelompok yang terdidik dan dewasa. Ketika melihat bencana, sikap yang tepat adalah turun tangan dan berempati, salah satunya melalui penggalangan dana seperti ini,” ujarnya.
Menurut Ine, penggunaan seni dan budaya sebagai medium solidaritas juga efektif membangun empati masyarakat. “Melalui seni, perasaan publik disentuh. Pesannya sampai bahwa kita ini satu saudara sebagai bangsa Indonesia,” katanya. Ia menambahkan, kegiatan semacam ini tidak hanya berdampak secara material, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kolektif dan rasa kebersamaan lintas daerah.
Ine juga menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan. “Saya ingin mahasiswa tetap memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Menjaga dan merawat budaya bersama bisa menumbuhkan kepedulian sosial dan tanggung jawab sebagai warga negara,” ujarnya. Ia mengingatkan agar setiap aksi sosial dilakukan dengan idealisme sekaligus kredibilitas, sehingga kepercayaan publik tetap terjaga.
Menjelang akhir acara, panggung mulai dibongkar. Pengunjung kembali melangkah menuju tujuan masing-masing, sementara Titik Nol Kilometer perlahan kembali pada rutinitasnya. Namun jejak solidaritas yang ditinggalkan malam itu tidak ikut bubar.
Dari panggung kecil di tengah kota, mahasiswa perantau Minang menunjukkan bahwa solidaritas tidak selalu lahir dari ruang besar dan pernyataan lantang. Ia bisa tumbuh dari pertemuan sederhana antara budaya, ruang publik, dan kesadaran untuk saling peduli melintasi jarak, dan melampaui pulau.
