Konten dari Pengguna

Dampak Intimidasi dan Kesehatan Mental "Pelajaran dari dr. Icha"

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Irene margareth tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar Ilustrasi opini "dampak intimidasi" hasil dari Gemini 3.0
zoom-in-whitePerbesar
Gambar Ilustrasi opini "dampak intimidasi" hasil dari Gemini 3.0

Setujukah anda jika perilaku "bundir" dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni (dr. Icha) di NTT, dipicu oleh intimidasi dari oknum anggota DPRD TTU saat ia bertugas di IGD RS Leona. Bila benar demikian maka, peristiwa ini menyoroti bahaya trauma psikologis terhadap tenaga medis dan pentingnya perlindungan kesehatan mental di lingkungan kerja.

"Intimidasi di Tempat Kerja dan Risiko Bunuh Diri Tenaga Medis"

Tenaga medis sering berada di garis depan, bukan hanya menghadapi pasien, tetapi juga emosi keluarga tapi bahkan tekanan dari pihak berkuasa. Dalam kasus dr. Icha, bentakan dan intimidasi yang dialaminya menjadi stresor akut yang memicu trauma mendalam. https://kumparan.com/kumparannews/menguak-penyebab-meninggalnya-dokter-icha-diduga-diintimidasi-anggota-dprd-27gijJhDSMN

Dalam psikologi, hal ini bisa dijelaskan lewat beberapa teori:

• Learned Helplessness (Seligman): ketika seseorang merasa tidak berdaya menghadapi situasi penuh tekanan, ia kehilangan harapan.

• Acute Stress Disorder (PTSD): trauma akibat kejadian menakutkan dapat berkembang menjadi depresi berat dan ide bunuh diri.

• Diathesis-Stress Model: bunuh diri terjadi saat kerentanan psikologis bertemu dengan stresor eksternal yang intens.

• Social Stress Theory: tekanan sosial dari lingkungan, terutama dari figur berkuasa, bisa memicu gangguan mental serius.

Kasus ini menunjukkan bahwa kesehatan mental tenaga medis bukan sekadar isu pribadi, melainkan masalah sistemik. Budaya kekuasaan yang menekan, minimnya perlindungan hukum bahkan jadi stigma terhadap kesehatan mental membuat dokter seperti dr. Icha rentan.

Saya Irene Menulis Rubrik PsikoKita di Kumparan.com untuk mengajak kita membuka mata untuk melihat bahwa intimidasi bukan hanya melukai harga diri, tetapi bisa merenggut nyawa. Perlindungan tenaga kesehatan harus menjadi prioritas dan kesehatan mental harus diperlakukan sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

Artikel ini bertujuan untuk edukasi psikologi, bukan glorifikasi bunuh diri. Jika pembaca mengalami depresi atau pikiran untuk bunuh diri, segera mencari bantuan profesional. Akses melalui hotline darurat kesehatan mental di rumah sakit besar atau menghubungi nomor hotline atau darurat lokal seperti PSC daerah Anda (misalnya nomor 081-112-119-119 untuk area Jabodetabek).