Konten dari Pengguna

PHK yang Damai dalam Perspektif Psikologi

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Irene margareth tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar hasil kreasi gemini
zoom-in-whitePerbesar
Gambar hasil kreasi gemini

Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sering dianggap sebagai peristiwa yang datang secara tiba-tiba. Padahal, persiapan PHK karyawan seharusnya sudah dimulai sejak hari pertama seorang karyawan bergabung dengan perusahaan.

Organisasi yang memiliki sistem manajemen sumber daya manusia yang baik akan mempersiapkan karyawannya menghadapi seluruh siklus karier, termasuk potensi berakhirnya hubungan kerja secara profesional, manusiawi dan sesuai ketentuan hukum.

Melalui persiapan yang tepat dapat memberikan mental yang sehat bagi kedua belah pihak. Kondisi tersebut dapat mengurangi risiko konflik hukum, membantu karyawan lebih siap menghadapi perubahan karier dan menjaga reputasi perusahaan sebagai tempat kerja yang bertanggung jawab dan yang paling penting prosesnya berjalan dengan damai.

Mengapa Persiapan PHK Harus Dimulai Sejak Orientasi Karyawan?

Ada saja perusahaan yang merasa cukup fokus pada proses rekrutmen, pelatihan dan pengembangan karier. Padahal setiap peneriamaan pekerja baru (swasta/non swasta) butuh masa orientasi karena program ini memberikan pemaparan tentang perusahaan dan membantu pekerja (menjadi bekal) mengawali masa penyesuaian diri.

Secara psikologis proses orientasi juga merupakan waktu yang tepat untuk memberikan pemahaman bahwa hubungan kerja memiliki hak, kewajiban, target kinerja, serta potensi berakhirnya masa kerja karena berbagai alasan, seperti restrukturisasi, efisiensi, pensiun atau kondisi penyedia kerja (swasta/pemerintah).

Pada tahap orientasi, perwakilan pemberi kerja perlu menjelaskan secara terbuka mengenai: perjanjian kerja dan masa kerja, sistem penilaian kinerja, jenjang karier, hak dan kewajiban karyawan, kebijakan perusahaan mengenai PHK sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku, program pengembangan kompetensi agar karyawan memiliki daya saing yang berkelanjutan dan lainya yang dapat mempercepat penyesuaian diri pekerja melakukan pekerjaannya.

Pendekatan ini membangun mental awareness yang membentuk budaya organisasi menjadi transparan sehingga karyawan memahami bahwa hubungan kerja merupakan bagian dari perjalanan profesional yang memiliki awal dan akhir.

Berikut adalah teori psikologi yang digunakan banyak orang untuk sukses melakukan PHK dengan damai. Gunakan teori keadilan untuk membangun persepsi individu/kelompok tentang keadilan dalam kompensasi PHK hal ini akan memengaruhi penerimaan emosional, gunakan teori conversation of resources hal ini akan mempengarushi emosi tentang kehilangan pekerjaan yang dianggap kehilangan sumber daya penting, paling dasar adalah teori job demand-resources yang mana dukungan organisasi dapat mengurangi dampak negatif tuntutan kerja dan PHK.

Empat tahap yang perlu dilakukan untuk membangun mental yang siap agar PHK damai, selain orientasi buatlah persiapan sebelum, saat pelaksanaan dan setelah pelaksanaan PHK dengan gambaran sebagai berikut.

Tahap Persiapan Sebelum Pelaksanaan PHK

Ketika perusahaan mulai mempertimbangkan PHK, proses persiapan menjadi sangat penting. Manajemen PHK dilakukan melalui analisis yang objektif dan komunikasi yang terencana. Hal yang perlu dilakukan antara lain: melakukan evaluasi kebutuhan organisasi dan kondisi bisnis pemberi kerja, identifikasi alternatif selain PHK (seperti mutasi, pengurangan jam kerja, pelatihan ulang/penempatan kembali), siapkan dokumen administratif dan dasar hukum, siapkan perhitungan hak-hak karyawan secara akurat, susun strategi komunikasi internal agar tidak menimbulkan rumor/kepanikan, menyediakan layanan konseling/pendampingan psikologis bagi karyawan yang berpotensi terdampak.

Tahap Proses pelaksanaan PHK (Profesionalisme dan Empati)

Tahap pelaksanaan merupakan momen paling sensitif dalam proses PHK, sehingga perusahaan perlu memastikan bahwa komunikasi dilakukan secara langsung, menghormati martabat karyawan, serta memberikan penjelasan yang jelas. Tindakan yang dilakukan antara lain: menjelaskan alasan PHK secara objektif & transparan, menyampaikan hak-hak yang diterima karyawan, memberikan dokumen yang diperlukan, menyediakan kesempatan bertanya, hindari penyampaian PHK di depan rekan kerja atau melalui media yang tidak manusiawi.

Hal utama dalam tahap ini adalah komunikasi yang empatik, tujuannya untuk mengurangi tekanan emosional sekaligus menjaga hubungan baik antara kedua belah pihak.

Tahap Pendampingan Setelah PHK

Ada perusahaan menganggap proses selesai setelah pembayaran hak-hak karyawan. Padahal, pasca PHK karyawan merupakan fase penting yang sering diabaikan.

Perusahaan yang menerapkan praktik sumber daya manusia modern biasanya menyediakan program transisi karier jika dibutuhkan dan disetujui oleh mantan karyawan, antara lain: persiapan wawancara kerja, pelatihan kewirausahaan, pengembangan keterampilan digital, informasi peluang kerja baru, konseling psikologis, dan lain-lain.

Program tersebut membantu mantan karyawan lebih cepat memperoleh pekerjaan baru sekaligus menjaga citra positif perusahaan.

Wajib di ingat bagi semua pekerja swasta/pemerintah, persiapan menghadapi PHK bukan hanya tanggung jawab perusahaan. Karyawan juga perlu membangun kesiapan sejak awal masa kerja dengan terus meningkatkan kompetensi, memperluas jaringan profesional, mengelola keuangan secara bijak dan menyiapkan dana darurat.

Perubahan selalu ada dan PHK adalah satu di antaranya.