Konten dari Pengguna

User-Centric Design, Jalan Tengah Realistis dalam Membangun Teknologi

Mochamad Irfan Dary
Senior Product Manager // Master's student at Master of Arts in Digital Transformation and Competitiveness, Gadjah Mada University
1 Juni 2025 16:45 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
User-Centric Design, Jalan Tengah Realistis dalam Membangun Teknologi
Tulisan ini mengupas bagaimana user-centered design menjadi bentuk nyata dari pendekatan techno realism—sebuah jalan tengah antara optimisme utopis vendor teknologi dan sikap skeptis pengguna.
Mochamad Irfan Dary
Tulisan dari Mochamad Irfan Dary tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Teknologi bukan jawaban segalanya. Tapi juga bukan musuh manusia. Lalu, bagaimana seharusnya kita membangunnya? Jawabannya adalah empati dan memposisikan pengguna sebagai pusatnya. Inilah semangat techno realism dalam desain teknologi hari ini.

ADVERTISEMENT
Dalam ekosistem digital saat ini, kita seringkali menemukan 2 kutub ekstrim dalam menyikapi teknologi. Di satu sisi, para vendor teknologi hadir dengan narasi penuh optimisme yakni bahwa teknologi adalah solusi tunggal bagi berbagai permasalahan manusia. Di sisi lain, banyak pengguna bersikap skeptis, bahkan trauma, melihat teknologi sebagai sumber masalah baru alih-alih penyelesaian. Dua posisi ini sering berbenturan, menyisakan ruang kosong yang sering tak tersentuh oleh inovasi digital: realitas pengguna.
ADVERTISEMENT

Utopia Teknologi, Janji Muluk Sang Vendor

Vendor teknologi kerap meluncurkan produk dengan asumsi bahwa keberadaan teknologi buatan mereka sudah cukup untuk menciptakan perubahan. Janji efisiensi, kecepatan, dan modernisasi digaungkan terus menerus, kadang mengabaikan kenyataan di lapangan. Di balik janji muluk sang vendor, kita bisa melihat dua motif yang bisa jadi berjalan beriringan, yaitu motif ideologis dan motif ekonomi. Secara ideologis, ada keyakinan kuat bahwa teknologi bisa menyelesaikan semuanya dan sangat membawa manfaat bagi penggunanya. Secara ekonomis, tentu ada dorongan untuk membuat produk digunakan seluas-luasnya demi keuntungan perusahaan mereka. Yang sering terlupakan adalah bahwa teknologi bukanlah entitas netral. Ia membawa serta nilai, asumsi, dan bias dari penciptanya.

Distopia Teknologi, Ketakutan dan Pesimisme Pengguna

Di sisi lain, banyak pengguna yang mulai kapok dengan teknologi. Mereka seringkali memiliki pengalaman buruk di masa lalu. Platform yang tidak intuitif, layanan publik berbasis aplikasi yang menyulitkan, biaya yang mahal, hingga data pribadi yang bocor. Semua ini menanamkan kesan bahwa teknologi adalah proyek penuh resiko yang sering belum tentu berpihak pada kenyamanan pengguna.
ADVERTISEMENT
Kecurigaan ini membuat teknologi dapat dengan udah dilihat sebagai bentuk dominasi atau perubahan radikal dengan pemaksaan, bukan sebagai alat bantu. Alih-alih berharap, pengguna memilih untuk berhati-hati, bahkan tak jarang ada di posisi menolak. Dalam konteks pemerintahan misalnya, penerapan teknologi seringkali dipaksakan untuk diimplementasikan dan meminggirkan kelompok yang kadang tidak tanggap teknologi seperti lansia.

Techno-realism, Menjembatani Dua Kubu

Di antara dua ekstrem ini, muncul pendekatan techno realism—sebuah cara pandang yang melihat teknologi secara kritis namun tidak menolaknya mentah-mentah. Techno realism percaya bahwa teknologi memiliki potensi besar, namun tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial, ekonomi, dan politik. Pendekatan ini menyadari bahwa keberhasilan teknologi bukan soal canggih atau tidaknya fitur, tetapi apakah ia menjawab kebutuhan nyata pengguna. Dan di sinilah pendekatan user-centric design menjadi penting.
ADVERTISEMENT
Techno-realism menyadarkan kita bahwa secara alami teknologi tidak netral. Ia dibentuk oleh nilai dan kepentingan dari pembuatnya. Maka, desain dan implementasi teknologi selalu membawa bias baik disengaja maupun tidak. Selain itu, keberhasilan teknologi tidaklah selalu mutlak. Ia sangat tergantung pada konteks sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Solusi teknologi yang sukses di satu tempat belum tentu berhasil di tempat lain. Tak hanya itu, teknologi seharusnya dibangun bersama masyarakat, bukan untuk masyarakat secara sepihak. Keterlibatan pengguna membantu memastikan bahwa solusi benar-benar relevan. Satu hal yang paling penting, tidak semua persoalan butuh aplikasi atau sistem digital.
Meskipun istilah techno-realism seperti dilansir dari security and defence seringkali disematkan pada konteks global politik dimana ia merepresentasikan sarana perolehan kekuasaan bagi negara yang yang sejara bijak mempertimbangkan aktor penting negara lainnya. Tapi logika dan semangat mengenai keseimbangan yang sama yang tersebut bisa kita bawa ke ranah ilmu teknologi kontemporer. Implementasi inovasi bisa diarahkan untuk secara bijak mempertimbangkan dan melibatkan pengguna dalam pembangunan aplikasi, platform, ataupun sistem digital lainnya.
ADVERTISEMENT

User-Centric Design sebagai Implementasi Techno Realism

User-centric design adalah metode pengembangan sistem yang menempatkan pengguna sebagai pusat dari seluruh proses desain dan pembangunan teknologi. Ini bukan sekadar uji coba antarmuka (user testing) di tahap akhir, melainkan keterlibatan pengguna sejak perumusan masalah, perancangan solusi, hingga iterasi produk. Proses ini dilakukan untuk mengerti secara mendalam apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh pengguna.
Dalam prosesnya, User-centric design akan selalu mempertimbangkan keseluruhan pengalaman pengguna baik dari beragam segi. Dilansir dari Interaction Design Foundation, perancangan sistem perlu melibatkan professional lintas disiplin seperti etnografer, designer, bisnis, dan engineer. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir bias teknis dan bisa menggali kebutuhan user secara utuh.
Proses User Centric Design. Sumber: Unsplash
Tahap paling krusial dari user-center design adalah tahap emphatizing. Dalam tahap ini tim pengembang perlu melakukan serangkaian uji coba untuk menempatkan diri sebagai pengguna. Bagaimana cara mereka berpikir, merasa, berperilaku, dan mengalami suatu masalah. Ada banyak cara yang biasa dilakukan, misalnya shadowing. Shadowing adalah salah satu pendekatan etnografis dimana peneliti mengikuti aktivitas pengguna secara langsung untuk memahami alur kerja dan kebiasaan mereka. Proses yang tak kalah pentingnya yaitu Empathy Map and Persona Creation, dimana peneliti Membuat profil fiktif berdasarkan pengguna nyata untuk mewakili karakteristik, tujuan, dan kebutuhan lalu memvisualisasi yang menggambarkan apa yang pengguna pikirkan, rasakan, katakan, dan lakukan.
ADVERTISEMENT
Selayaknya seorang dokter, tahapan-tahapan diatas dilakukan untuk mengetahui masalah utama yang dihadapi oleh pengguna berdasarkan gejala-gejala yang dirasakan. Karena seringkali apa yang pengguna katakan adalah yang ia inginkan, bukan butuhkan. Dengan membuat sistem sesuai dengan kebutuhan, diharapkan tercipta sistem yang lebih berdampak besar dan bertahan lebih lama.

Teknologi yang Bersifat Empatik

Jika kita ingin membangun ekosistem digital yang berkelanjutan, maka pendekatan techno realism dengan implementasi user-centric design adalah pilihan paling masuk akal. Ia tidak menawarkan utopia kosong, juga tidak terjebak dalam pesimisme. Ia mengajak kita melihat teknologi secara jernih, kritis, dan manusiawi. Dalam dunia yang serba terdigitalisasi, optimisme semestinya bukan lahir dari teknologinya, tapi dari cara bagaimana teknologi itu dibangun, apakah mendengarkan manusia yang akan menggunakannya.
ADVERTISEMENT