Kurikulum: Mencetak Pemikir atau Sekadar Menyiapkan Tenaga Kerja?

saya adalah seorang mahasiswa di univesitas Negeri Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Muhammad Irfan Sadim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pendidikan sering disebut sebagai jalan untuk meningkatkan kualitas hidup seseorang. Melalui pendidikan, individu diharapkan mampu mengembangkan potensi, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, dan memperoleh kesempatan yang lebih luas dalam kehidupan sosial maupun ekonomi. Namun, di tengah berbagai perubahan kurikulum yang terjadi di Indonesia, muncul pertanyaan yang cukup menggelitik: apakah sistem pendidikan saat ini benar-benar membebaskan peserta didik untuk berkembang, atau justru lebih banyak diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja?
Pertanyaan ini menjadi relevan ketika banyak lulusan sekolah dan perguruan tinggi yang akhirnya bekerja pada sektor-sektor yang membutuhkan kepatuhan terhadap sistem kerja, tetapi kurang memberikan ruang bagi kreativitas dan inovasi. Fenomena tersebut memunculkan kritik bahwa pendidikan modern lebih berorientasi pada penciptaan tenaga kerja dibandingkan penciptaan pemikir, inovator, maupun agen perubahan sosial.
Pendidikan dan Kebutuhan Industri
Dalam perspektif sosiologi pendidikan, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai institusi yang mempersiapkan individu untuk memasuki dunia kerja. Pandangan ini dapat ditemukan dalam pemikiran para sosiolog seperti Émile Durkheim yang melihat pendidikan sebagai sarana membentuk keteraturan sosial.
Di era industrialisasi dan globalisasi, kurikulum sering kali dirancang agar selaras dengan kebutuhan dunia kerja. Peserta didik didorong untuk memiliki keterampilan teknis, kemampuan beradaptasi, serta kompetensi yang dibutuhkan perusahaan. Dari satu sisi, hal ini merupakan langkah yang logis karena pendidikan memang harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan perkembangan ekonomi.
Namun, masalah muncul ketika orientasi tersebut menjadi terlalu dominan. Pendidikan berisiko hanya menghasilkan lulusan yang terampil menjalankan perintah, tetapi kurang mampu mempertanyakan sistem, menciptakan inovasi baru, atau menjadi pelaku perubahan sosial.
Reproduksi Sosial dalam Pendidikan
Salah satu kritik penting terhadap pendidikan datang dari Pierre Bourdieu melalui konsep reproduksi sosial. Menurut pandangan ini, sekolah tidak selalu menjadi alat mobilitas sosial, tetapi dapat pula mempertahankan struktur sosial yang sudah ada.
Peserta didik dari kelompok ekonomi atas umumnya memiliki akses yang lebih besar terhadap sumber belajar, teknologi, kursus tambahan, dan lingkungan yang mendukung pengembangan diri. Sebaliknya, peserta didik dari kelompok ekonomi bawah sering kali menghadapi keterbatasan yang membuat mereka lebih sulit bersaing.
Akibatnya, pendidikan yang seharusnya menjadi alat pemerataan justru dapat memperkuat kesenjangan sosial. Dalam kondisi seperti ini, sekolah berpotensi menjadi sarana yang mengarahkan sebagian besar masyarakat untuk mengisi posisi-posisi kerja tertentu tanpa benar-benar memberikan kesempatan yang sama untuk menjadi pengusaha, peneliti, atau pemimpin.
Apakah Kurikulum Mencetak Buruh?
Pernyataan bahwa kurikulum sengaja dibuat untuk mencetak buruh sebenarnya terlalu sederhana untuk menjelaskan persoalan pendidikan yang kompleks. Tidak ada bukti bahwa tujuan resmi kurikulum adalah menciptakan pekerja kasar semata.
Namun demikian, kritik tersebut muncul karena terdapat kecenderungan bahwa keberhasilan pendidikan sering diukur melalui kemampuan lulusan memasuki pasar kerja. Akibatnya, aspek-aspek seperti berpikir kritis, kesadaran sosial, kreativitas, dan keberanian mengambil risiko kadang kurang mendapatkan perhatian yang seimbang.
Ketika peserta didik lebih sering diajarkan untuk menghafal dibandingkan mempertanyakan, lebih sering diarahkan mengikuti instruksi dibandingkan menciptakan solusi, maka pendidikan berpotensi membentuk mentalitas pekerja yang patuh daripada individu yang mandiri dan inovatif.
Pendidikan yang Membebaskan
Pendidikan idealnya tidak hanya mempersiapkan seseorang untuk bekerja, tetapi juga mempersiapkan mereka untuk hidup sebagai warga negara yang kritis dan aktif. Gagasan ini sejalan dengan pemikiran Paulo Freire yang menekankan pentingnya pendidikan yang membebaskan manusia dari berbagai bentuk ketidakadilan dan ketergantungan.
Sekolah seharusnya menjadi ruang yang mendorong peserta didik untuk bertanya, berdiskusi, berinovasi, dan memahami realitas sosial di sekitarnya. Dengan demikian, lulusan pendidikan tidak hanya siap menjadi pekerja, tetapi juga siap menjadi pencipta lapangan kerja, pemimpin, ilmuwan, maupun agen perubahan di masyarakat.
Perdebatan mengenai apakah kurikulum mencetak pemikir atau sekadar menyiapkan tenaga kerja menunjukkan bahwa pendidikan tidak pernah lepas dari dinamika sosial dan ekonomi. Tantangan terbesar pendidikan saat ini bukanlah memilih antara mencetak pekerja atau pemikir, melainkan menciptakan keseimbangan antara keduanya.
Masyarakat membutuhkan tenaga kerja yang kompeten, tetapi bangsa juga membutuhkan individu yang kritis, kreatif, dan mampu menciptakan perubahan. Oleh karena itu, kurikulum masa depan harus dirancang tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan industri, tetapi juga untuk
membentuk manusia yang merdeka dalam berpikir dan bertindak.
Pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama adalah: apakah sekolah hari ini sedang membangun masa depan peserta didik, atau hanya sedang menyiapkan mereka untuk mengisi posisi yang telah ditentukan oleh sistem?
