kumparan
10 Januari 2020 18:21

1001 Pelajaran dari Pariwisata Dubai

Ilustrasi lalu lintas di Dubai
Ilustrasi lalu lintas di Dubai. Foto: Pixabay
#kolomstorynomics
Sepulang umrah kemarin, saat transit, saya sempatkan melihat-lihat Abu Dhabi dan Dubai. Berbekal rasa penasaran ingin melihat sedahsyat apa nama besar mereka dalam mengelola potensi pariwisata di sana. Terlebih, Dubai ada di peringkat empat (4) kota dengan wisman terbanyak di dunia (15,7 juta) setelah Bangkok (20 juta), London (19,8 juta) dan Paris (17 juta). Makin penasaran.
ADVERTISEMENT
Ternyata setelah keliling tiga hari di Dubai, destinasi/atraksi pariwisata yang tergolong besar jumlahnya tidak sampai 20 destinasi. Kalah jauh sama jumlah destinasi wisata di Indonesia. Pertanyaannya, kenapa kota Dubai bisa didatangi oleh 15,7 juta wisman? Bali saja hanya 8,3 juta. Keseluruhan Indonesia saja hanya 15,8 juta.
Ternyata kuncinya ada tiga hal: visi yang jauh ke depan, komitmen dan fokus. Memang Uni Emirat Arab punya uang banyak dari hasil minyaknya, tapi tanpa tiga hal tersebut, uang menjadi tidak seberapa penting. Lihat saja Arab Saudi. Punya uang banyak tapi ya belum ada apa-apanya untuk dianggap sebagai ikon pariwisata dunia seperti layaknya Dubai.
Dubai sadar bahwa cadangan minyak mereka tidak bertahan lama. Oleh karena itu, mereka mulai shifting ke area lain termasuk pariwisata. Mereka berguru ke Lee Kuan Yew yang dianggap sukses membesarkan Singapura yang awalnya juga ‘tidak punya apa-apa’.
ADVERTISEMENT
Dubai praktis tidak membutuhkan waktu yang lama. Pada 1995, Dubai mencanangkan proyek infrastruktur untuk ekonomi digital baru dan meluncurkan inisiatif e-government. Kemudian berlanjut ke visi besar: ‘Destination Dubai’ di bawah kepemimpinan Syeikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum. Syeikh Mohammed kemudian mengumumkan inisiatif untuk menjadikan Pemerintah Dubai sebagai pemerintah berbasis online secara keseluruhan dalam waktu 18 bulan. Dampak dari inisiatif ini menjadikan Dubai sebagai negara yang menjalankan pemerintah secara online sepenuhnya pertama di dunia.
Inisiatif ini ditetapkan mencakup infrastruktur, lingkungan dan sikap untuk memungkinkan perusahaan ekonomi baru beroperasi di Dubai dengan keunggulan kompetitif yang signifikan. Termasuk tentu saja Pariwisata di dalamnya. Itulah visi yang jauh ke depan jelas dari Syeikh Mohammed bin Rasyid Al Maktoum, yang ingin membuat Dubai menjadi serba ‘TER’: terbesar, termewah, tertinggi, terunik, dan seluruh TER lainnya.
ADVERTISEMENT
Berikutnya adalah komitmen yang juga tidak setengah-setengah. Kita tahu bahwa kunci utama dalam membangun sebuah daerah adalah CEO commitment atau komitmen dari sang pemimpin. Karenanya, di Dubai kita bisa lihat di akhir tahun 90-an dan berlanjut ke awal tahun 2000-an benar-benar dipenuhi oleh pembangunan fisik dari berbagai macam hal. Fokusnya apalagi kalau bukan kawasan bisnis dan pariwisata.
Palm Island di Dubai
Palm Island di Dubai. Foto: Wikimedia commons
Terkait pariwisata, dalam kurun 15 tahun Dubai bisa membangun banyak hal. Mulai dari pembangunan hotel ‘apung’ nan ikonik di pinggir laut Burj al Arab, gedung tertinggi di dunia Burj Khalifa yang di bawahnya juga sekaligus adalah mal terbesar di dunia, Dubai Mall. Lalu ada pula kawasan reklamasi tematik Palm Jumeirah, kawasan kota tua Al Bastakiya, wisata safari padang pasir, Marina yang memesona dan lainnya. Tanpa komitmen yang kuat dari sang pemimpin, mustahil itu semua akan bisa terwujud.
ADVERTISEMENT
Yang terakhir adalah fokus. Pemerintah Dubai fokus menggarap pembangunannya dengan pariwisata sebagai core-nya. Lantas, apa pijakan utamanya? Tak lain adalah menjadikan ‘atraksi' sebagai dasarnya. Betul, atraksi, bukan amenitas, apalagi konektivitas. Atraksi yang memiliki story. Kalau bahasa saya adalah storynomics tourism.
Lihat saja hotel ikonik Burj al-Arab. Walaupun dasarnya adalah sebuah hotel, tapi ide besar berasal dari sang arsitek Tom Wright yang mengambil ide bentuk dari layar kapal sebuah dhow (kapal tradisional yang berasal dari arab). Dhow dianggap memiliki story yang kuat sebagai representasi Dubai. Dengan ini sebagai ikon, diharapkan bisa menjadi pusat atraksi Dubai pada saat itu agar mampu menarik wisman untuk datang.
Pemerintah Dubai juga tidak membangun kawasan reklamasi tematik Palm Jumeirah sebagai kawasan hunian semata. Tapi mereka mendesainnya dengan konsep tematik yang apabila dilihat dari atas akan menyerupai pohon kurma.
ADVERTISEMENT
Begitupun dengan gedung tertinggi di dunia Burj Khalifa. Jelas sekali landasannya adalah sebagai pusat atraksi pariwisata Dubai. Apalagi ada tambahan Dubai Mall yang diklaim terbesar di dunia. Semua itu, ditambah destinasi yang berbasis atraksi lainnya macam kota tua, marina, pasar rempah, museum sejarah kota dubai, taman bunga, dan lain-lain. Beragam bentuk destinasi ini menjadikan Dubai sebuah paket yang menyenangkan dan komplit didatangi untuk wisata 4-6 hari. Belum lagi kesiapan mereka untuk menyelenggarakan MICE berstandar dunia.
Itulah pariwisata Dubai. Tak lebih dari 20 destinasi dengan atraksi berbasis storynomics, tapi mampu mendatangkan 15,7 juta orang wisman dalam kurun waktu sekitar 20 tahun. Pengeluaran turis di Dubai mencapai USD 30.82 miliar pada 2018. Bandingkan dengan Bali yang hanya menyentuh angka USD 8.86 miliar pada tahun yang sama. Bahkan devisa pariwisata Indonesia masih berada di bawah pencapaian devisa Dubai yaitu sebesar USD 17.91 miliar.
ADVERTISEMENT
Lantas apa yang kita mesti pelajari?
Mungkin yang terpenting adalah masalah komitmen dan fokus. Presiden Jokowi sudah punya visi yang sangat baik untuk menjadikan pariwisata kita sebagai sumber utama penerimaan devisa negara kita dalam 1-2 tahun ke depan. Komitmen Presiden juga sangat jelas. Hanya saja komitmen stakeholder lainnya yang kita harapkan juga bisa all out. Patuh dengan Masterplan yang sudah dibuat, jangan sampai ganti pejabat, ganti pula Masterplan-nya. Tidak akan pernah berjalan maju pariwisata kita.
Yang terakhir, adalah fokus. Memang juga sangat penting. Dubai dengan daya dukung finansial yang melimpah, tidak berusaha membangun puluhan atau ratusan destinasi di seantero emirat Dubai. Mereka fokus memilih mana yang bisa menjadi mass tourism. Mana yang bisa mendatangkan devisa lebih banyak. Tentu saja semua akan berhubungan dengan kesiapan ekosistem yang ada. Infrastruktur bisa dibuat cepat. Tapi ekosistem akan butuh waktu.
ADVERTISEMENT
Kalau Dubai yang berkocek tebal saja tetap fokus memilih pengembangan destinasinya, mengapa kita yang resourcenya terbatas tidak melakukan hal yang sama? Fokus pengembangan kepada yang benar-benar bisa menjadi solusi quick win. Fokus kepada destinasi yang ekosistemnya sudah terbangun. Tinggal sentuhan sana sini sedikit, dengan berbasis atraksi, paling tidak dalam waktu yang tidak lama kita akan melihat bahwa visi Presiden Jokowi menjadikan Pariwisata sebagai tulang punggung devisa utama Indonesia bukanlah isapan jempol belaka.
*Irfan Wahid
Anggota Dewan Penasehat KADIN Indonesia Membidangi Pariwisata, UMKM, dan Ekonomi Kreatif
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan