Konten dari Pengguna

Mengapa Perusahaan Asing Lebih Memilih Berinvestasi di Negara Tetangga?

Baratio Athallah Irgi Irawan

Baratio Athallah Irgi Irawan

Mahasiswa PKN STAN

·waktu baca 3 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Baratio Athallah Irgi Irawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi investasi (sumber : https://pixabay.com/illustrations/finance-money-business-currency-8051231/)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi investasi (sumber : https://pixabay.com/illustrations/finance-money-business-currency-8051231/)

Investasi asing memainkan peran penting dalam perekonomian Indonesia dengan memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan nasional, dan transfer teknologi. Namun, menarik investasi dari perusahaan teknologi global seperti Apple masih menjadi tantangan tersendiri.

Menurut data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi asing di Indonesia terus mengalami peningkatan, terutama di sektor manufaktur, infrastruktur, dan teknologi. Namun, jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Vietnam, Indonesia masih tertinggal dalam menarik investasi asing berskala besar, terutama di sektor teknologi.

Perbandingan Investasi Perusahaan Teknologi di Asia Tenggara

Apple

  • Vietnam: Sejak 2019, Apple telah menginvestasikan sekitar USD 15,84 miliar (sekitar Rp256,5 triliun) di Vietnam, menjadikan negara tersebut sebagai basis produksi utama di Asia Tenggara.

  • Indonesia: Apple berencana membangun pabrik di Batam dengan nilai investasi sekitar USD 1 miliar (sekitar Rp16 triliun). Meskipun ini merupakan langkah positif, nilai investasi tersebut masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan investasi Apple di Vietnam.

Nvidia

  • Vietnam: Nvidia telah memilih Vietnam sebagai lokasi untuk mendirikan pusat penelitian dan pengembangan (R&D) kecerdasan buatan (AI) dengan nilai investasi mencapai USD 200 juta (sekitar Rp3,26 triliun).

  • Indonesia: Nvidia dan Indosat bekerja sama dalam membuat Sahabat AI.

ByteDance (TikTok)

  • Malaysia: ByteDance berinvestasi sebesar USD 3 miliar (sekitar Rp46,68 triliun) untuk membangun pusat AI di Malaysia.

  • Indonesia: Belum ada investasi.

Mengapa Perusahaan Asing Masih Enggan Berinvestasi di Indonesia?

Pertama, proses administrasi di Indonesia sering kali dianggap lebih rumit dan memakan waktu dibandingkan dengan negara-negara seperti Vietnam dan Malaysia. Hal ini dapat menghambat masuknya investasi asing.

"Menurut World Bank, terdapat 11 dokumen yang harus dipenuhi untuk memulai usaha di Indonesia, sedangkan di Vietnam hanya 8. Bahkan, jumlah dokumen perpajakan di Indonesia mencapai 26, sementara di Vietnam hanya 6. Selain itu, durasi penyelesaian dokumen ekspor-impor di Indonesia dapat memakan waktu berhari-hari, sedangkan di Vietnam hanya dalam hitungan jam," ujar Teuku Riefly, ekonom dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia.

Kedua, kepastian hukum di Indonesia masih menjadi perhatian bagi investor asing. Perubahan regulasi yang sering terjadi serta kurangnya penegakan hukum yang konsisten dapat menimbulkan ketidakpastian bagi investor. Selain itu, Indonesia merupakan negara dengan indeks ketertutupan investasi asing yang cukup tinggi menurut OECD.

Pada tahun 2020, Indonesia memiliki skor indeks sekitar 0,34, lebih tinggi dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya seperti Malaysia (0,15), Vietnam (0,18), dan Thailand (0,25). Skor indeks yang tinggi menunjukkan banyaknya hambatan dan regulasi ketat yang dapat membatasi investasi asing langsung (FDI) di suatu negara.

Indonesia perlu melakukan reformasi dalam hal regulasi, birokrasi, kepastian hukum, serta peningkatan infrastruktur dan kualitas sumber daya manusia. Dengan demikian, Indonesia dapat menjadi tujuan investasi yang lebih kompetitif di kawasan Asia Tenggara dan menarik lebih banyak perusahaan teknologi global untuk berinvestasi di dalam negeri. Dengan kebijakan yang lebih terbuka dan iklim investasi yang lebih kondusif, Indonesia berpotensi menjadi pusat industri teknologi dan manufaktur di Asia Tenggara.