Konten dari Pengguna

Rasa Lapar yang Memicu Amarah

Muhammad Irhab Nabil

Muhammad Irhab Nabil

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Irhab Nabil tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar diambil dari Pixabay https://cdn.pixabay.com/photo/2018/02/02/21/41/crazy-3126441_1280.jpg
zoom-in-whitePerbesar
Gambar diambil dari Pixabay https://cdn.pixabay.com/photo/2018/02/02/21/41/crazy-3126441_1280.jpg

Kalian tahu tidak kalau ternyata emosi memiliki peran penting dalam sikap dan perilaku kita sehari-hari loh! Bahkan hampir setiap tingkah laku kita berkaitan dengan emosi, baik emosi positif seperti senang, bahagia, gembira, maupun emosi yang negatif misalnya sedih, galau, kecewa, dan lain sebagainya. Secara fisiologis, emosi dibentuk dan diproses dalam otak, tepatnya di sekitar amigdala dan dinamai sebagai sistem limbik.

Apa itu sistem limbik? Sistem limbik adalah bagian dari otak yang bertanggung jawab pada respons perilaku dan emosional. Emosi muncul dari hipotalamus yang distimulasi oleh amigdala, guys. Selain hipotalamus, bagian dari otak kita yang dapat berperan dalam emosi adalah prefrontal korteks. Prefrontal korteks merupakan bagian otak yang terletak paling depan yang berkaitan dengan proses atensi, memori kerja, perencanaan, dan pengekspresian emosi.

Seperti yang telah kita ketahui, emosi memiliki banyak macam yang tidak terhitung jumlahnya. Tetapi pada umumnya, kita memiliki enam emosi dasar yaitu sedih, senang, terkejut, marah, takut, dan jijik. Kalian pernah marah-marah kan? Apa sih yang biasanya membuat kita marah? Marah merupakan salah satu emosi dasar dapat dipicu oleh berbagai faktor, baik faktor internal atau eksternal. Faktor internal yang dapat memicu kemarahan adalah perasaan terluka, persepsi terhadap ketidakadilan, dan perilaku yang tidak diharapkan (Susanti, Husni, & Fitriyani, 2014).

Menurut Kalat (2020), mekanisme dalam tubuh saat muncul perasaan terluka atau rasa sakit secara emosional memiliki kemiripan dengan rasa sakit secara fisik. Tahu tidak, terdapat dua jalur penyampaian rasa sakit ke dalam otak kita, yakni jalur menuju talamus (dari talamus ke korteks somatosensorik) menyampaikan aspek sensori nyeri, dan jalur terpisah ke hipotalamus, amigdala, dan korteks singulat menghasilkan aspek emosional (Hunt dan Mantyh, 2001 dalam Kalat, 2020). Selain faktor psikologis seperti perasaan terluka tersebut, marah juga dapat dipicu dari faktor internal yang bersifat biologis, yakni rasa lapar.

Mekanisme rasa lapar

Bicara soal lapar, pasti setiap hari kita pernah merasakan lapar. Menurut Kalat (2020), rasa lapar dipengaruhi oleh isi lambung kita, ketersediaan glukosa dalam sel-sel, persediaan lemak, kesehatan kita, dan faktor suhu tubuh. Tubuh kita memerlukan glukosa yang didapatkan dari makanan. Ketika kadar glukosa turun bersamaan dengan kadar insulin, glukosa akan diserap memasuki sel tubuh secara lebih lambat, dan rasa lapar muncul (Pardal dan Lopez-Barneo, 2002).

Mekanisme sinyal lapar dalam otak terjadi ketika ada informasi yang diterima oleh nukleus arkuata hipotalamus yaitu area utama dalam otak yang mengendalikan nafsu makan. Sinyal rasa lapar inilah yang akan meningkatkan makan dengan mengurangi hambatan dari nukleus paraventrikel (Kalat, 2020). Pada kenyataannya tidak setiap nafsu makan muncul, lalu diikuti dengan perilaku makan. Faktor situasional seringkali menghambat pemenuhan kebutuhan makan tersebut. Seperti berada di tempat yang jauh dari sumber makanan, atau dalam keadaan puasa, atau tidak memiliki uang untuk mendapatkan makanan.

Hasil penelitian Williams, Pizarro, Ariely, & Weinberg (2016) menunjukkan sekelompok orang lapar yang diminta melakukan permainan (game) dengan hadiah makanan akan berusaha melakukan segala cara demi mendapatkan hadiah tersebut, bahkan mereka yang semula mengakui jujur akan berbuat curang dalam permainan. Namun ketika hadiahnya tidak berupa makanan, mereka cenderung tidak mau menipu atau berbuat curang. Hal ini menunjukkan orang dalam keadaan lapar lebih bersifat emosional saat dihadapkan pada sumber makanan. Apalagi kalau di depan kita ada nasi padang. Lalu bagaimana lapar dapat memicu kemarahan?

"Hangry"

Pernahkah kalian mendengar istilah “hangry”?. Hangry berasal dari gabungan kata hungry (lapar) dan angry (marah) guys. Nah, saat lapar pada umumnya orang makan akan segera mengkonsumsi berbagai sumber zat gizi, antara lain berupa karbohidrat, protein, lemak, dan vitamin. Karbohidrat, protein dan lemak yang kita konsumsi akan masuk ke dalam sistem pencernaan dan diubah menjadi gula sederhana atau glukosa, asam amino, dan asam lemak bebas. Nutrisi yang diserap tubuh menjadi sumber energi dan juga masuk ke aliran darah yang mengalir ke seluruh tubuh manusia, termasuk ke dalam otak.

Namun seiring berjalannya waktu setelah waktu makan tersebut berlalu, maka jumlah nutrisi yang dialirkan ke seluruh tubuh semakin berkurang, termasuk kadar gula (glukosa) dalam otak. Jika kadar glukosa dalam darah menurun drastis, maka otak kita akan menerimanya sebagai ancaman karena otak sangat bergantung pada glukosa untuk melakukan tugasnya (Salis, 2015). Saat kadar glukosa darah turun, maka kita lebih sulit untuk konsentrasi dan pada gilirannya cenderung bertindak gegabah atau sulit mengontrol emosi. Maka tidak heran jika dalam keadaan lapar, apa yang kita katakan kadang-kadang bersifat emosional atau menjadi kacau atau tidak jelas. Tiba-tiba dengan mudah membentak orang, atau bersikap uring-uringan.

Selain faktor nutrisi atau menurunnya kadar gula dalam darah, terdapat penjelasan lain nih, tentang keterkaitan antara lapar dengan marah. Menurut Salis (2015), lapar berkaitan dengan marah karena keduanya dikendalikan oleh gen yang sama. Produk dari salah satu gen tersebut adalah neuropeptida Y, yaitu bahan kimia otak alami yang dilepaskan ke otak saat kita lapar. Hal inilah yang merangsang perilaku makan secara rakus dengan bertindak pada berbagai reseptor di otak, termasuk pada reseptor Y1. Lebih lanjut dijelaskan Salis bahwa selain mengontrol rasa lapar dalam otak, neuropeptida Y dan reseptor Y1 juga mengatur kemarahan atau agresi. Seseorang dengan dengan tingkat neuropeptida Y yang tinggi dalam cairan serebrospinal cenderung menunjukkan tingkat agresi impuls yang tinggi pula.

Cara mengatasi marah karena lapar

Lalu, bagaimana cara kita agar terhindar dari “Hangry” ini? Cara termudah untuk mengatasi hangry adalah makan sesuatu sebelum kita terlalu lapar. Meskipun pada saat tertentu kita tidak bisa sesegera mungkin makan saat terasa lapar. karena faktor pekerjaan, atau sedang berpuasa. Pada saat seperti ini, secara alami tubuh akan memecah cadangan lemak yang ada dalam tubuh kita sebagai sumber energi. Metabolisme lemak dalam tubuh akan menghasilkan keton yang membantu mengendalikan rasa lapar karena berfungsi sebagai pengganti glukosa yang diperlukan otak untuk bekerja (Salis, 2015). Jika situasi memungkinkan untuk segera makan, maka pilihlah makanan yang alami dan kaya nutrisi dan hindari makanan cepat saji apalagi makan teman.

Referensi:

Baqi, S.A. (2015). Ekspresi Emosi Marah. Buletin Psikologi, Vol. 23(1), 22 – 30.

Kalat, J.W. (2020). Biopsikologi Edisi 13 (penerjemah: Fatmah Nurjanti). Jakarta Selatan: Salemba Humanika.

Pardal, R., & dan Lopez-Barneo, J. (2002). Low glucose-sensing cells in the carotid body. Nature Neuroscience, Vol 5, 197-198.

Salis, A. (2015). The science of “hangry”—why some people get grumpy when they’re hungry. Published July 21, 2015 diunduh 22 November 2021. https://qz.com/458611/the-science-of-hangry-why-some-people-get-grumpy-when-theyre-hungry/0,

Susanti, R., Husni, D., & Fitriyani, E. (2014). Perasaan Terluka Membuat Marah. Jurnal Psikologi, Vol. 10( 2), 103-109.

Williams, E.F., Pizarro, D., Ariely, D. & Weinberg, J.D. (2016). The valjean effect: visceral states and cheating. Emotion, Vol.16(9), 897-902.