Konten dari Pengguna

Merantau untuk Sukses, Jauh dari Kampung Halaman

IRMA ANNISA TULJANNAH

IRMA ANNISA TULJANNAH

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari IRMA ANNISA TULJANNAH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seorang gadis perempuan yang merupakan anak pertama dari keluarga kecil yang sederhana yang terlahir dari rahim seorang ibu yang memiliki semangat kerja keras dan ibu yang kuat. Gadis ini berasal dari pulau yang bisa terbilang jauh dari tempat ia merantau, yaitu berasal dari Kota Balikpapan yang terletak di pulau Kalimantan. Gadis ini bernama Zizah. Zizah adalah seorang gadis yang memiliki kepribadian sehari-hari yang amat disukai oleh orang-orang sekitarnya. Ia dikenal dengan keramahan dan kebaikan hatinya. Selain itu juga Zizah adalah seorang gadis yang peduli dan peka terhadap lingkungan sekitarnya. Di kampung halamannya. Berbeda dengan keadaan ketika Zizah berada dirumah, Zizah dikenal dengan kepribadiannya yang baik saat ia berada diluar rumah atau di lingkungan sekitarnya, namun, ketika berada dirumah, Zizah termasuk anak yang sangat manja dan susah untuk melakukan sesuatu atau bahasa gaul zaman sekarang ini Zizah adalah perempuan yang’mager’. Walaupun begitu, Zizah tidak selalu merepotkan kedua orang tuanya. Zizah terbilang sangat rajin ketika ia sendiri berada dirumah, ia pun sering sekali membantu ART nya membersihkan rumahnya.

Zizah sudah harus melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih serius, yaitu masa dimana ia harus pergi merantau untuk menempuh jenjang pendidikannya yaitu masa perkuliahan. Kedua orangtua Zizah tidak mau jika Zizah berkuliah yang dekat dengan rumahnya. Zizah memutuskan untuk menempuh masa perkuliahannya itu di kota yang terkaenal dengan julukan “kota pendidikan” yaitu Kota Yogyakarta. Sebelumnya Zizah berjuang untuk mendapatkan Perguruan Tinggi Negeri yang ia inginkan. Namun, takdir mengatakan sebaliknya. Zizah tidak mendapatkan yang ia inginkan. Pada akhirnya, Zizah berkuliah di Perguruan Tinggi Swasta yang berada di Kota Yogyakarta yaitu Universitas swasta terbaik dalam urutan PTS di Indonesia. Zizah melanjutkan pendidikanya tersebut di Universitas Islam Indonesia.

10 Agustus 2018, bertepatan pada hari Jumat. Zizah memulai langkahnya untuk menjadi seorang perantau. Kedua orangtua Zizah hanya mengantarkan ia hanya sampai stasiun kereta. Dalam perjalanan menuju Kota Yogyakarta, Zizah memandangi pemandangan keluar jendela. Jika kita melihat dibalik jendela kaca tersebut kita akan disuguhi oleh pemandangan alam yang luar biasa indah. Pegunungan dengan paparan sawah yang hijau terhampar luas tak kalah lagi dengan pepohonan-pepohonan yang tinggi dan rindang menjadi suatu hal yang menarik mata untuk melihatnya berlama-lama. Zizah duduk di gerbong kereta itu dan sedang asyik memandangi pemandangan alam yang indah tersebut. Sehingga terbesit pikiran Zizah yang dimana ia merantau ini untuk menempuh pendidikan dan Zizah tidak mau membuat kedua orangtuanya kecewa. Zizah ingin sekali sukses di kota perantauannya tersebut. Selama ia berada dirumah Zizah sering merepotkan kedua orangtuanya. Zizah ingin menjadi seseorang yang bisa hidup mandiri ketika ia sedang jauh dari kedua orangtuanya.

Saat itu Zizah untuk pertama kalinya menginjakan kaki di Kota Yogyakarta. Zizah seorang diri tidak mempunyai teman atau pun keluarga yang berada di kota tersebut. Zizah pun langsung menuju tempat tinggal untuk menetap di kota tersebut yang sudah dicarikan oleh kedua orangtuanya dari sebelum Zizah menginjakan kakinya di Kota Yogyakarta. Tempat tinggal yang Zizah tinggali itu biasa disebut dengan sebutan “kost”. Yang dimana sebutan tempat tinggal tersebut biasa digunakan oleh mahasiswa/mahasiswi yang sedang berkuliah. Tempat tinggal yang ia tempati tidak jauh dengan tempat Zizah ke kampus. Di tempat ia berkuliah, yaitu di Universitas Islam Indonesia Zizah mengambil jurusan Ilmu Komunikasi karena ia memiliki cita-cita mempunyai suatu house production sendiri. Zizah termasuk perempuan yang suka bekerja keras dan tipikal orang yang tidak mau bekerja secara individual. Maka dari itu ia memiliki cita-cita mempunyai house production yang dimana ia mengajak orang-orang untuk bekerja bersamanya.

Semester demi semester ia lalui. Sekarang Zizah berada di semester 5 yang dimana ia sudah mulai sibuk mengerjakan “sempro” seminar proposalnya. Selama perjalanannya menuju semester 5 ini, Zizah selalu membanggakan kedua orangtuanya dengan memberikan bukti bahwa ia bisa hidup mandiri di kota perantaunnya ini juga memberikan ipk yang diatas rata-rata karena Zizah di kampus termasuk perempuan yang walaupun aktif berorganisasi, namun ia tetap focus dalam bidang akademiknya. Nilai per semesternya tidak pernah dibawah rata-rata. Melihat Zizah seperti itu, kedua orangtuanya pun sangat bangga dengannya. Kemudian kedua orangtuanya pun ingin mengapresiasi ‘anak manja’ nya tersebut dengan membelikan kendaraan untuk Zizah pakai selama menempuh pendidikan di kota tersebut. Karena selama ini Zizah tidak memiliki kendaraan untuk ke kampusnya. Zizah pun tidak pernah mengeluh dan meminta kepada kedua orangtuanya. Alhasil, Zizah pun dibelikan sebuah mobil oleh kedua orangtuanya. Zizah sangat senang dengan kejutan yang diberikan oleh kedua orangtuanya itu. Zizah pun memiliki tekad untuk lulus dengan tepat waktu dan mendapatkan nilai diatas rata-rata. Bahasa yang sering dipakai oleh mahasiswa/mahasiswi ketika seseorang itu mendapatkan nilai diatas rata-rata adalah “cumlaude”.

Irma Annisa Tuljannah, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia ||