Kya-Kya Surabaya dan Cerita Budaya yang Tersaji di Setiap Sudutnya

Saat ini saya sedang menempuh pendidikan di Universitas Airlangga dengan program studi Bahasa dan Sastra Indonesia.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Irma Yulia Purnamatanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jika berkunjung ke kawasan Kembang Jepun, Surabaya, mata kita hampir pasti langsung tertuju pada deretan lampion merah yang menggantung rapi di sepanjang jalan. Cahaya temaramnya memantul di bangunan-bangunan bernuansa merah, menghadirkan suasana yang berbeda dari sudut kota lainnya. Inilah Kya-Kya Surabaya—ruang publik yang kini dikenal sebagai destinasi wisata kuliner sekaligus kawasan budaya bernuansa pecinan.
Kya-Kya atau kawasan Kembang Jepun merupakan salah satu ruang publik yang dikenal sebagai pusat wisata kuliner dan budaya dengan nuansa pecinan yang kuat di Kota Surabaya. Di kawasan ini, pengunjung dapat melihat perpaduan arsitektur, ornamen, dan aktivitas publik yang mencolok sehingga pengunjung dapat merasakan tanda-tanda visual yang hadir pada kawasan tersebut.
Setelah cukup lama “mati suri”, Kya-Kya kembali hidup sejak 2022. Mengutip dari CNN Indonesia, peresmian kawasan ini dilakukan oleh Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, pada Sabtu, 10 Oktober 2022. Pemerintah Kota Surabaya menghidupkannya kembali dengan memperkuat identitas Chinatown, mulai dari papan nama beraksara Mandarin hingga sentra UMKM. Tujuannya bukan hanya menghidupkan ekonomi kawasan kota lama, tetapi juga menghadirkan ruang wisata yang punya ciri khas budaya yang kuat.
Namun, Kya-Kya sebenarnya tidak hanya menawarkan makanan dan spot foto menarik. Jika diperhatikan lebih dalam, kawasan ini seolah “berbicara” melalui tanda-tanda visualnya. Lampion, warna merah, bentuk bangunan, hingga suasana yang dibangun—semuanya menyimpan cerita budaya yang tidak selalu disadari oleh pengunjung.
Lampion merah, misalnya, mungkin terlihat sederhana. Secara kasat mata, ia hanyalah hiasan berbentuk bulat yang memancarkan cahaya. Tapi bagi banyak orang, terutama yang akrab dengan budaya Tionghoa, lampion merah langsung diasosiasikan dengan keberuntungan, kebahagiaan, dan suasana perayaan. Tanpa perlu papan penjelasan, makna itu sudah “terbaca” begitu saja. Begitu pula dengan dominasi warna merah di bangunan-bangunan sekitar. Warna ini tidak sekadar dipilih karena menarik secara visual, tetapi karena telah lama melekat sebagai simbol energi, kemakmuran, dan identitas budaya Tionghoa.
Menariknya, makna-makna tersebut kini diterima secara luas, bahkan oleh pengunjung yang tidak memiliki latar budaya Tionghoa. Lampion merah otomatis dianggap sebagai tanda suasana pecinan. Warna merah dianggap wajar, bahkan “wajib”, untuk kawasan seperti Kya-Kya. Di titik inilah, elemen visual tidak lagi sekadar dekorasi, melainkan menjadi bahasa budaya yang dipahami bersama.
Kya-Kya akhirnya tidak hanya menjadi tempat makan malam atau lokasi swafoto, tetapi juga ruang representasi budaya. Ia membangun citra tentang identitas Tionghoa melalui visual yang terus diulang dan dipertontonkan. Pengunjung mungkin datang untuk mencicipi kuliner, tetapi tanpa sadar mereka juga sedang membaca—dan menerima—narasi budaya yang disampaikan lewat warna, bentuk, dan suasana.
Dengan demikian, berjalan di Kya-Kya sejatinya adalah pengalaman yang lebih dari sekadar rekreasi. Kita diajak melihat bagaimana sebuah ruang publik bisa menyimpan cerita, sejarah, dan identitas melalui hal-hal yang tampak sederhana. Kya-Kya menunjukkan bahwa budaya tidak selalu hadir lewat museum atau teks panjang, tetapi bisa hadir lewat cahaya lampion yang menggantung tenang di atas kepala, menyinari ingatan kolektif sebuah kota.
