Apresiasi Menyebabkan Frustrasi: Ketika Pengakuan Justru Menjadi Beban

Guru SMK Unggul Negeri 2 Banyuasin III, Ketua Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di SMK Unggul Negeri 2 Banyuasin III, Alumni S1 PPKn Universitas Sriwijaya, Alumni S2 Magister Hukum Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Sumpah Pemuda Palembang.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Irman Ichandri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
oleh : Irman Ichandri, S.Pd., M.H.

Apresiasi sering dianggap sebagai hal positif. Dalam budaya kerja, pendidikan, hingga kehidupan sosial sehari-hari, bentuk-bentuk penghargaan seperti pujian, sertifikat, kenaikan jabatan, atau sekadar ucapan terima kasih, diyakini mampu memotivasi seseorang untuk terus berkembang. Namun, di balik kebaikan yang tampak, ada sisi lain dari apresiasi yang jarang dibicarakan, bagaimana apresiasi justru bisa menjadi pemicu frustrasi.
Apakah apresiasi salah? Tidak. Tapi cara kita menerima, memaknai, dan menyikapi apresiasi itulah yang berpotensi menimbulkan tekanan, ekspektasi berlebihan, dan akhirnya berujung pada frustrasi.
1. Apresiasi yang Menjadi Ekspektasi
Salah satu bentuk frustrasi paling umum muncul ketika apresiasi berubah menjadi ekspektasi. Misalnya, seorang siswa mendapat nilai tertinggi dan mendapat pujian dari guru, orang tua, bahkan teman-teman. Di satu sisi, dia merasa senang dan bangga. Namun di sisi lain, ia mulai merasa terbebani dengan harapan bahwa ia harus selalu mempertahankan prestasi tersebut. Kegagalan di masa depan bukan lagi dianggap sebagai hal yang wajar, tetapi sebagai kegagalan pribadi yang memalukan.
Begitu pula di dunia kerja. Seorang karyawan yang dipuji karena kinerjanya luar biasa akan merasa harus terus tampil sempurna. Ketika beban kerja meningkat atau tantangan berubah, tekanan untuk “tidak mengecewakan” justru bisa membuatnya kehilangan keseimbangan mental. Ia merasa tidak bebas untuk gagal, padahal kegagalan adalah bagian dari proses pembelajaran.
2. Sindrom People Pleaser yang Berkembang
Apresiasi juga bisa menjadi bahan bakar bagi berkembangnya sindrom “people pleaser” – kondisi psikologis di mana seseorang selalu ingin menyenangkan orang lain agar tetap mendapatkan pengakuan dan diterima.
Seseorang yang terlalu sering mendapat pujian bisa terjebak dalam kebiasaan untuk terus mencari validasi eksternal. Ia mulai menyesuaikan diri secara berlebihan dengan ekspektasi orang lain, bahkan jika hal itu bertentangan dengan keinginan atau nilai pribadinya. Akhirnya, ia kehilangan jati diri, merasa cemas jika tidak mendapat pujian, dan hidup dalam tekanan konstan untuk “memenuhi standar”.
3. Apresiasi yang Tidak Seimbang
Masalah lain yang menyebabkan frustrasi adalah apresiasi yang tidak merata atau tidak adil. Dalam tim kerja, ketika satu orang selalu mendapat sorotan atas hasil yang sebetulnya merupakan kerja tim, maka anggota lain bisa merasa diabaikan dan tidak dihargai. Apresiasi yang tidak merata menciptakan kecemburuan, perpecahan, bahkan kemunduran semangat kerja.
Hal serupa juga terjadi dalam dunia pendidikan atau organisasi. Ketika hanya “yang berprestasi” yang dipuji, sementara proses, usaha, atau kemajuan kecil dari individu lain diabaikan, maka muncul rasa tidak adil. Orang-orang merasa sia-sia karena kerja keras mereka tidak dianggap penting jika tidak menghasilkan hasil akhir yang spektakuler.
4. Apresiasi yang Bersyarat
Apresiasi seharusnya murni dan tulus. Namun, dalam praktiknya, sering kali apresiasi disertai syarat atau agenda tersembunyi. Misalnya, seorang atasan memuji karyawan bukan karena menghargai kinerja mereka, tetapi untuk memanipulasi agar mau mengambil beban kerja lebih besar tanpa kompensasi sepadan.
Jenis apresiasi seperti ini menimbulkan kebingungan emosional. Penerima pujian merasa dihargai, tetapi juga merasa dimanfaatkan. Ini bisa berujung pada frustrasi mendalam ketika seseorang menyadari bahwa pengakuan yang ia terima hanyalah alat untuk kepentingan pihak lain.
5. Tekanan untuk Terus Meningkat
Apresiasi juga bisa menciptakan perangkap berupa tekanan untuk selalu naik level. Ketika seseorang telah diberi penghargaan, maka ada anggapan bahwa ia tidak boleh “turun”. Ia harus selalu lebih baik dari sebelumnya. Ini menjadi masalah ketika apresiasi tidak diimbangi dengan pemahaman bahwa manusia memiliki batas, dan bahwa tidak semua fase dalam hidup harus penuh produktivitas.
Seseorang bisa merasa bersalah hanya karena sedang biasa saja. Padahal, menjadi biasa bukan berarti gagal. Tidak setiap momen hidup harus menjadi pencapaian. Tapi karena apresiasi sebelumnya begitu tinggi, orang itu merasa kehilangan arah dan identitas jika tidak terus mencetak prestasi.
6. Solusi: Apresiasi yang Sehat dan Seimbang
Untuk mencegah agar apresiasi tidak menimbulkan frustrasi, beberapa pendekatan perlu diperhatikan:
Keseimbangan antara hasil dan proses: Hargai tidak hanya hasil akhir, tetapi juga usaha, komitmen, dan keberanian untuk mencoba. Ini membantu menghindari tekanan berlebihan untuk selalu menang.
Validasi internal lebih penting dari eksternal: Dorong individu untuk mengenali nilai dirinya sendiri, terlepas dari pengakuan orang lain. Ini memperkuat ketahanan mental ketika apresiasi dari luar tidak datang atau tidak adil.
Apresiasi sebagai dorongan, bukan penilaian: Apresiasi seharusnya bersifat mendukung, bukan menekan. Jangan jadikan pujian sebagai standar tetap yang harus dipertahankan terus-menerus.
Komunikasi yang transparan: Dalam tim kerja atau organisasi, penting untuk menjelaskan bahwa apresiasi bukan berarti seseorang harus menjadi sempurna selamanya. Beri ruang untuk gagal, belajar, dan berkembang secara manusiawi.
Pentingnya introspeksi dan refleksi diri: Ketika mendapat apresiasi, penting untuk bertanya: "Apakah saya melakukan ini untuk diri saya sendiri atau untuk validasi orang lain?" Pertanyaan ini bisa membantu mencegah frustrasi jangka panjang.
Apresiasi memang penting. Ia bisa menjadi sumber motivasi, energi positif, dan rasa percaya diri. Namun, ketika tidak diimbangi dengan pemahaman yang sehat, apresiasi bisa berubah menjadi sumber tekanan dan frustrasi. Ia bisa menciptakan ekspektasi yang tidak realistis, kecemasan sosial, dan kehilangan makna sejati dari proses berjuang itu sendiri.
Sebagai masyarakat, kita perlu membangun budaya apresiasi yang lebih adil, tulus, dan manusiawi. Kita perlu belajar bahwa seseorang tidak harus selalu luar biasa untuk dihargai. Kadang, cukup dengan menjadi versi terbaik dari dirinya saat ini – itupun sudah layak diapresiasi.
Dan sebagai individu, penting untuk menyadari bahwa nilai diri tidak hanya bergantung pada pujian orang lain. Apresiasi sejati datang dari dalam diri: ketika kita tahu bahwa apa pun hasilnya, kita sudah berusaha sebaik mungkin.
