Konten dari Pengguna

Guru ASN Pilih Sekolah Swasta untuk Anaknya: Realita atau Kritik Terselubung?

Irman Ichandri

Irman Ichandri

Guru SMK Unggul Negeri 2 Banyuasin III, Ketua Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di SMK Unggul Negeri 2 Banyuasin III, Alumni S1 PPKn Universitas Sriwijaya, Alumni S2 Magister Hukum Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Sumpah Pemuda Palembang.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Irman Ichandri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

oleh : Irman Ichandri, S.Pd., M.H., CH-Teacher, CHCP, CNCP, CTCP.

Sumber Foto : Dokumen Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto : Dokumen Pribadi

Di balik semangat pemerataan pendidikan, gedung sekolah negeri yang megah, dan jargon "pendidikan gratis berkualitas", terdapat sebuah ironi yang sulit diabaikan: banyak guru ASN yang mengajar di sekolah negeri justru menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah swasta.

Fenomena ini bukan hanya terjadi di kota besar seperti Jakarta, Bandung, Palembang atau Makassar, tapi juga di daerah-daerah pelosok. Seorang guru ASN yang mengabdi di sekolah negeri, menjadi wajah pendidikan publik, justru tidak menjadikan sekolah itu pilihan untuk pendidikan anaknya sendiri.

Apakah ini pengkhianatan terhadap tempat mereka bekerja? Ataukah justru ini sinyal keras bahwa ada yang tidak beres dalam sistem pendidikan negeri kita?

1. Guru ASN Adalah Orang Dalam: Mereka Tahu Apa yang Terjadi

Guru ASN tahu betul apa yang terjadi di balik dinding kelas. Mereka menyaksikan secara langsung:

  • Proses belajar yang terkadang masih sebatas menggugurkan kewajiban.

  • Beban administrasi guru yang menumpuk dan menyita energi mengajar.

  • Kekurangan guru di mata pelajaran tertentu.

  • Lemahnya sistem pembinaan karakter dan disiplin siswa.

Sebagai orang dalam, mereka memahami bahwa sistem pendidikan negeri sering kali berjalan apa adanya, bukan karena kurangnya niat, tapi karena terbatasnya kewenangan, birokrasi yang berbelit, serta minimnya dukungan manajerial. Maka, ketika harus memilih tempat terbaik untuk anaknya, guru ASN memilih jalan yang lebih pasti: sekolah swasta.

2. Fleksibilitas Sekolah Swasta Menjadi Daya Tarik

Sekolah swasta, terutama yang dikelola profesional, menawarkan:

  • Kualitas pengajaran yang lebih konsisten.

  • Kebebasan menyusun kurikulum tambahan.

  • Program penguatan karakter, agama, dan bahasa asing.

Guru ASN menyadari bahwa sistem di sekolah negeri sangat terikat oleh regulasi pusat. Sementara sekolah swasta lebih fleksibel berinovasi dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Maka, pilihan mereka bukan semata karena gengsi, tapi karena sekolah swasta dianggap lebih adaptif dan responsif.

3. Jumlah Siswa yang Lebih Sedikit, Perhatian Lebih Personal

Kelas di sekolah negeri umumnya padat, bahkan mencapai 40 siswa atau lebih per kelas. Hal ini membuat interaksi antara guru dan siswa jadi terbatas, dan pendekatan individual sulit dilakukan.

Sekolah swasta biasanya menjaga jumlah siswa dalam satu kelas tetap ideal, sekitar 20–25 anak. Dengan kondisi seperti ini:

  • Proses belajar lebih kondusif.

  • Guru lebih mampu memahami kebutuhan tiap anak.

  • Masalah akademik dan non-akademik lebih cepat dikenali.

Bagi guru ASN yang ingin anaknya berkembang optimal, sekolah dengan perhatian personal tentu menjadi pilihan.

4. Disiplin, Karakter, dan Lingkungan yang Lebih Terjaga

Sekolah swasta umumnya memiliki:

  • Aturan disiplin yang lebih tegas dan konsisten.

  • Pendampingan karakter yang berkelanjutan.

  • Lingkungan yang lebih terkendali, baik secara sosial maupun moral.

Sebagai pendidik, guru ASN paham bahwa pendidikan bukan hanya transfer pengetahuan, tapi juga soal pembentukan karakter. Maka, ketika sekolah negeri dianggap belum bisa menjamin itu secara menyeluruh, mereka memilih tempat yang bisa: sekolah swasta.

5. Keputusan Sunyi yang Mengandung Kritik Tajam

Keputusan guru ASN menyekolahkan anaknya ke sekolah swasta bukan hanya soal kenyamanan atau fasilitas. Itu juga adalah bentuk kritik diam-diam terhadap kualitas layanan pendidikan publik.

Tanpa berkata apa-apa, keputusan mereka menyampaikan pesan yang kuat:

"Kami tahu isi sistem ini, dan kami belum cukup yakin mempercayakan masa depan anak kami di dalamnya."

Ini adalah kritik yang tidak tercetak di koran, tidak dibacakan dalam pidato, tetapi lebih keras dari suara mana pun: sebuah pilihan personal yang berbasis pengalaman nyata.

6. Bukan Soal Loyalitas, Tapi Harapan

Beberapa pihak mungkin menyalahkan guru ASN: "Bukankah seharusnya mereka mendukung sistem tempat mereka bekerja?"

Namun perlu dipahami, guru ASN adalah orang tua terlebih dahulu, baru kemudian pegawai negara. Mereka tentu ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Bila sekolah negeri belum mampu memberikan itu, wajar jika mereka memilih alternatif.

Justru yang harus ditanyakan adalah:

  • Apa yang membuat guru ASN tidak percaya pada sistem yang mereka jalani setiap hari?

  • Apa yang membuat sekolah negeri masih kalah dibandingkan sekolah swasta di mata mereka sendiri?

7. Refleksi Mendalam untuk Pemerintah dan Masyarakat

Fenomena ini bukan untuk dijadikan bahan gunjingan atau kecaman. Ini harus dilihat sebagai alarm serius bagi pemerintah, pengelola sekolah, dan masyarakat pendidikan.

Kita harus jujur bertanya:

  • Apakah sekolah negeri sudah memberikan layanan yang optimal?

  • Apakah kualitas guru dan manajemen benar-benar didukung sistem yang sehat?

  • Apakah otonomi sekolah cukup untuk berinovasi sesuai kebutuhan lokal?

Tanpa pembenahan menyeluruh, kepercayaan masyarakat termasuk dari dalam tubuh ASN sendiri akan terus menurun terhadap sekolah negeri.

8. Saatnya Pendidikan Negeri Kembali Dipercaya

"Guru ASN Pilih Sekolah Swasta untuk Anaknya" adalah gambaran nyata dari retaknya kepercayaan pada pendidikan publik. Ini bukan sekadar fenomena sosial, tapi cermin yang menunjukkan bahwa sistem pendidikan kita butuh perbaikan mendasar.

Kini saatnya:

  • Pemerintah mengembalikan marwah sekolah negeri sebagai pilihan utama.

  • Sekolah diberi ruang lebih luas untuk berinovasi.

  • Guru dibebaskan dari beban administratif agar bisa fokus pada pendidikan.

Dan yang terpenting, saatnya membangun sistem yang membuat guru ASN tidak ragu lagi menyekolahkan anak mereka di sekolah tempat mereka mengabdi.

Karena pendidikan negeri adalah tanggung jawab bersama dan kepercayaan terhadapnya adalah modal utama membangun masa depan bangsa.