Minta Keadilan, Malah Disingkirkan

Guru SMK Unggul Negeri 2 Banyuasin III, Ketua Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di SMK Unggul Negeri 2 Banyuasin III, Alumni S1 PPKn Universitas Sriwijaya, Alumni S2 Magister Hukum Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Sumpah Pemuda Palembang.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Irman Ichandri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Oleh : Irman Ichandri, S.Pd., M.H.

Kita tumbuh dengan diajarkan bahwa keadilan adalah nilai luhur. Ia adalah pilar moral, prinsip hukum, dan cita-cita kemanusiaan yang harus diperjuangkan. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Tidak jarang orang-orang yang menuntut atau memperjuangkan keadilan justru dikucilkan, diserang, atau bahkan dibungkam. Fenomena ini tidak hanya terjadi di negara otoriter, tetapi juga dalam masyarakat demokratis, institusi pendidikan, tempat kerja, bahkan dalam lingkungan sosial terkecil seperti keluarga. Pertanyaannya: Jika keadilan adalah kebaikan, mengapa memperjuangkannya justru mengundang pengucilan?
1. Keadilan Mengusik Kenyamanan yang Tidak Adil Keadilan pada dasarnya menuntut adanya keseimbangan: siapa yang dirugikan harus dipulihkan, siapa yang bersalah harus bertanggung jawab. Tapi di dunia nyata, ketidakadilan sering kali sudah mengakar dan bahkan menjadi sistem yang "membiasakan" ketimpangan. Maka, ketika seseorang muncul dan berkata, “Ini tidak adil,” ia bukan hanya mengungkapkan keluhan, tapi mengguncang struktur yang sudah membuat sebagian orang merasa nyaman. Bayangkan seorang pegawai rendah yang membongkar kasus korupsi di tempat kerjanya. Meskipun ia membawa kebenaran, keberaniannya akan membuat banyak pihak yang selama ini diuntungkan oleh sistem itu merasa terancam. Hasilnya? Ia akan dipinggirkan, dianggap "pengganggu", bahkan dikhianati oleh rekan-rekannya sendiri yang memilih diam demi posisi atau keamanan. Keadilan memang baik, tetapi proses untuk mewujudkannya sering kali menyakitkan, khususnya bagi mereka yang harus menyerahkan sebagian dari “hak istimewa” mereka.
2. Mayoritas Tak Selalu Membela yang Benar Ada kepercayaan bahwa suara mayoritas adalah kebenaran. Tapi sejarah membuktikan sebaliknya. Mayoritas sering kali membungkam suara minoritas, bahkan ketika minoritas itu berbicara demi kebaikan bersama. Lihat saja bagaimana aktivis-aktivis hak asasi manusia, pembela lingkungan, atau pejuang hak perempuan sering dianggap sebagai pengacau. Ketika mereka menuntut kesetaraan dan keadilan, sebagian masyarakat justru balik mengejek atau bahkan mengancam mereka. Mengapa? Karena orang lebih nyaman berada di tengah kerumunan yang diam dan patuh, daripada berdiri bersama satu suara yang melawan arus. Mereka yang menuntut keadilan sering kali hanya satu atau dua orang. Itu membuat mereka tampak ekstrem, padahal yang mereka lakukan hanyalah mengungkapkan fakta yang tidak ingin dilihat banyak orang. 3. Keadilan Menuntut Perubahan, dan Perubahan Itu Menakutkan Banyak orang tidak menolak keadilan secara sadar, tapi mereka takut pada perubahan yang dibawanya. Keadilan bisa memaksa kita untuk merefleksikan diri, meminta maaf, mengubah perilaku, atau menyerahkan sesuatu yang bukan hak kita. Di sinilah titik kritisnya. Sebuah keluarga yang telah terbiasa memperlakukan anak perempuan lebih rendah dari anak laki-laki, misalnya, akan merasa terusik jika si anak perempuan mulai mempertanyakan perlakuan itu. Ia akan dianggap "durhaka" hanya karena meminta hak yang setara. Perubahan itu menakutkan. Ia mengguncang identitas, kenyamanan, dan posisi. Maka, jauh lebih mudah untuk mengucilkan si pembawa pesan daripada mendengarkan pesannya.
4. Politik Label dan Pembungkaman Dalam banyak kasus, orang yang memperjuangkan keadilan akan dihadapkan dengan strategi pelabelan: "provokator", "pencari perhatian", "tidak tahu diri", atau bahkan "pengkhianat bangsa". Pelabelan ini adalah taktik klasik untuk melemahkan pesan keadilan dengan menyerang pembawanya. Saat label itu berhasil dilekatkan, masyarakat akan lebih fokus pada kepribadian orangnya ketimbang substansi pesannya. Akibatnya, pesan keadilan tenggelam, dan si pembawa pesan terpinggirkan. Inilah yang dialami banyak pembela HAM, jurnalis investigatif, dan whistleblower di berbagai belahan dunia. Pengucilan tidak selalu dilakukan dengan kekerasan. Ia bisa berupa pembiaran, pengabaian, kehilangan pekerjaan, dijauhi teman, bahkan dilupakan dalam sejarah. 5. Keadilan Tidak Populer dalam Jangka Pendek Ini adalah realitas pahit yang harus diterima: kebenaran dan keadilan tidak selalu langsung populer. Dalam banyak kasus, orang yang memperjuangkannya tidak mendapatkan tepuk tangan, melainkan batu dan cercaan. Tetapi, dalam jangka panjang, merekalah yang dikenang. Nelson Mandela dipenjara selama 27 tahun karena menuntut keadilan bagi rakyat kulit hitam Afrika Selatan. Martin Luther King Jr. dibunuh karena memperjuangkan kesetaraan ras. Munir Said Thalib, aktivis HAM Indonesia, meninggal secara misterius setelah berani membongkar pelanggaran HAM. Namun kini, mereka dikenang sebagai pahlawan. Waktu membuktikan bahwa mereka yang dikucilkan karena keadilan adalah mereka yang benar-benar hidup untuk nilai. 6. Jangan Takut Jadi Minoritas Jika kamu hari ini merasa dikucilkan karena membela yang benar, bertahanlah. Keadilan memang sering sepi di awal. Tapi sejarah selalu berpihak pada mereka yang setia memperjuangkannya. Lebih baik berdiri sendiri dalam kebenaran daripada diterima dalam kebohongan. Dunia tidak berubah karena orang banyak, tapi karena segelintir orang yang berani menyuarakan hal yang tidak ingin didengar. 7. Keadilan Adalah Jalan Sunyi yang Mulia Keadilan adalah kebaikan. Tapi memperjuangkannya bukanlah pekerjaan yang selalu menyenangkan. Ia adalah jalan sunyi, penuh risiko, sering kali tanpa tepuk tangan. Namun justru karena itulah ia bernilai. Dunia butuh lebih banyak orang yang tidak takut dikucilkan demi kebenaran. Karena dalam setiap perubahan besar yang pernah terjadi dalam sejarah, selalu ada satu orang yang berani berkata: “Ini tidak adil, dan aku tidak akan diam.” Jika kamu adalah salah satunya, teruslah melangkah. Dunia mungkin akan mengejek hari ini, tapi suatu saat, ia akan berterima kasih padamu.
