Konten dari Pengguna

Sudah Berpancasila-kah Kita Sekarang?

Irman Ichandri

Irman Ichandri

Guru SMK Unggul Negeri 2 Banyuasin III, Ketua Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di SMK Unggul Negeri 2 Banyuasin III, Alumni S1 PPKn Universitas Sriwijaya, Alumni S2 Magister Hukum Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Sumpah Pemuda Palembang.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Irman Ichandri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh : Irman Ichandri, S.P.d., M.H.

Sudah Berpancasila-kah Kita Sekarang?
zoom-in-whitePerbesar

1. Pancasila: Masih Jadi Pegangan atau Cuma Hafalan?

Kalau ada yang nanya, "Menurut kamu, masyarakat Indonesia sekarang sudah berpancasila belum?", jawabannya mungkin nggak bisa langsung "iya" atau "nggak". Soalnya, realitanya cukup kompleks.

Kita semua pasti hafal Pancasila sejak SD. Bahkan mungkin ada yang masih hafal lengkap dengan lambang-lambangnya. Tapi masalahnya, hafal belum tentu menjalankan. Sama seperti orang yang hafal aturan lalu lintas, belum tentu selalu tertib di jalan.

Di zaman sekarang, ketika hampir semua aktivitas terhubung dengan internet dan media sosial, nilai-nilai Pancasila justru semakin sering diuji. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita hafal lima sila, tetapi apakah perilaku kita sehari-hari sudah mencerminkan nilai-nilai tersebut.

2. Di Media Sosial, Sudah Berpancasila Belum? Coba lihat media sosial hari ini. Setiap ada isu yang viral, pasti muncul dua kubu yang saling serang. Kadang masalah kecil bisa berubah jadi perang komentar yang panjang. Banyak orang lebih gampang menghina daripada memahami. Lebih cepat membagikan berita daripada mengecek kebenarannya. Bahkan ada yang merasa paling benar dan menganggap semua yang berbeda pendapat sebagai musuh. Kalau dipikir-pikir, hal seperti ini sebenarnya bertentangan dengan semangat Pancasila. Sila kedua mengajarkan tentang kemanusiaan yang beradab, sementara sila ketiga mengajarkan persatuan.

Artinya, berbeda pendapat itu wajar. Yang nggak wajar adalah ketika perbedaan tersebut berubah menjadi kebencian. Kalau kita masih sering ikut menyebarkan hoaks, menghina orang lain, atau memancing keributan di media sosial, mungkin kita perlu bertanya lagi pada diri sendiri: sudah berpancasila-kah kita? 3. Toleransi: Sering Dibahas, Tapi Sudah Dilakukan? Indonesia itu unik. Kita punya banyak suku, agama, bahasa, budaya, dan kebiasaan yang berbeda-beda. Justru karena berbeda itulah Indonesia bisa menjadi negara yang kaya. Sayangnya, kadang masih ada orang yang sulit menerima perbedaan. Ada yang mudah menghakimi orang lain hanya karena keyakinannya berbeda. Ada juga yang lebih suka mencari perbedaan daripada mencari persamaan.

Padahal, Pancasila mengajarkan bahwa keberagaman bukan ancaman. Keberagaman adalah kekuatan. Menjadi toleran bukan berarti harus setuju dengan semua orang. Toleransi berarti menghormati hak orang lain untuk berbeda. Kalau kita masih gampang membenci hanya karena orang lain tidak sama dengan kita, berarti nilai Pancasila belum benar-benar kita jalankan. 4. Generasi Sekarang: Peduli atau Cuek? Salah satu tantangan zaman sekarang adalah munculnya sikap "yang penting bukan urusan gue". Kadang kita melihat masalah di sekitar tetapi memilih diam karena merasa tidak berkaitan dengan diri sendiri. Ada teman yang dirundung, ada tetangga yang kesulitan, atau ada lingkungan yang kotor, tetapi banyak orang memilih tidak peduli. Padahal budaya Indonesia sejak dulu terkenal dengan semangat gotong royong. Untungnya, masih banyak juga anak muda yang menunjukkan kepedulian. Ketika terjadi bencana alam, misalnya, banyak yang menggalang dana melalui media sosial. Banyak komunitas anak muda yang bergerak di bidang pendidikan, lingkungan, dan kegiatan sosial. Hal ini membuktikan bahwa semangat gotong royong sebenarnya masih ada. Tinggal bagaimana kita menjaganya agar tidak kalah oleh sikap individualis yang semakin berkembang.

5. Korupsi: Bukti Kalau Pancasila Belum Sepenuhnya Jalan Kalau membahas apakah Indonesia sudah berpancasila atau belum, rasanya sulit mengabaikan masalah korupsi. Hampir setiap tahun muncul kasus baru. Uang yang seharusnya digunakan untuk kepentingan masyarakat malah dipakai untuk kepentingan pribadi. Yang bikin miris, banyak pelaku korupsi berasal dari orang-orang berpendidikan tinggi dan memiliki jabatan penting. Kalau masih ada korupsi, berarti nilai kejujuran, tanggung jawab, dan keadilan yang diajarkan Pancasila belum benar-benar diterapkan.

Karena itu, membangun Indonesia yang berpancasila tidak cukup hanya dengan slogan. Harus ada tindakan nyata, terutama dari para pemimpin yang seharusnya memberikan contoh yang baik. 6. Jadi, Sudah Berpancasila-kah Kita Sekarang? Kalau jujur, jawabannya mungkin belum sepenuhnya. Kita masih melihat hoaks beredar di mana-mana. Masih ada perundungan di sekolah maupun media sosial. Masih ada intoleransi. Masih ada korupsi. Masih ada orang yang lebih mementingkan kelompoknya sendiri daripada kepentingan bersama. Tapi di sisi lain, kita juga masih melihat banyak hal positif. Masih ada masyarakat yang saling membantu ketika terjadi musibah. Masih ada anak muda yang peduli terhadap lingkungan dan sesama. Masih ada semangat gotong royong yang muncul ketika bangsa menghadapi masalah.

Artinya, nilai-nilai Pancasila sebenarnya masih hidup. Hanya saja, penerapannya belum konsisten. Menurut saya, pertanyaan "Sudah berpancasila-kah kita sekarang?" bukan untuk menyalahkan siapa pun. Pertanyaan ini lebih cocok dijadikan bahan refleksi untuk diri sendiri. Karena pada akhirnya, Indonesia yang berpancasila tidak akan terwujud hanya lewat pidato, slogan, atau unggahan media sosial. Semua itu harus dimulai dari tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari menghormati orang lain, tidak menyebarkan hoaks, tidak melakukan perundungan, peduli terhadap lingkungan sekitar, dan berani bersikap jujur meskipun tidak ada yang melihat.