Konten dari Pengguna

Mengapa Anak Muda Tak Lagi Memilih Desa?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Irmina Imelvin zai tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di sebuah desa, saya melihat lapangan yang dulu ramai setiap sore kini mulai sepi. Warung tempat anak-anak muda berkumpul juga tidak lagi dipenuhi tawa. Bukan karena mereka sedang bekerja di sawah atau membantu orang tua, melainkan karena sebagian besar telah pindah ke kota. Yang tersisa di desa justru didominasi anak-anak dan lansia.

Sumber: Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Gemini AI

Fenomena ini sering dianggap sebagai hal biasa. Merantau memang sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia. Namun, yang menarik untuk dipertanyakan bukanlah mengapa anak muda pergi, melainkan mengapa semakin sedikit yang ingin kembali.

Banyak desa kini mengalami kondisi yang paradoks. Infrastruktur semakin baik, internet sudah tersedia, dan berbagai program pembangunan terus digencarkan. Namun, semua itu belum cukup membuat desa menjadi tempat yang menarik bagi generasi muda untuk membangun masa depan.

Dalam perspektif Ilmu Pengetahuan Sosial, fenomena ini menunjukkan adanya perubahan struktur masyarakat. Desa perlahan kehilangan kelompok usia produktif yang seharusnya menjadi motor pembangunan. Ketika mayoritas penduduk usia muda memilih tinggal di kota, desa kehilangan tenaga kerja, inovasi, bahkan calon pemimpin di masa depan.

Dampaknya mulai terlihat. Lahan pertanian kesulitan mencari penerus, usaha keluarga berhenti karena tidak ada yang melanjutkan, dan berbagai tradisi lokal perlahan memudar. Sementara itu, kota semakin padat dengan persaingan kerja yang tidak selalu menjanjikan kehidupan lebih baik.

Ironisnya, banyak anak muda sebenarnya ingin pulang. Mereka ingin tinggal dekat keluarga dan membangun usaha di kampung halaman. Namun keinginan itu sering kandas karena lapangan pekerjaan terbatas, akses permodalan minim, dan peluang usaha belum berkembang. Akibatnya, desa menjadi tempat untuk pulang saat libur, bukan untuk membangun kehidupan.

Jika kondisi ini terus berlangsung, desa berisiko mengalami ketimpangan demografi. Semakin sedikit penduduk usia produktif berarti semakin berat beban ekonomi yang harus ditanggung masyarakat yang tersisa. Dalam jangka panjang, pembangunan desa akan kehilangan penggeraknya.

Karena itu, pembangunan desa tidak boleh hanya berfokus pada jalan, gedung, atau fasilitas fisik. Yang lebih penting adalah menciptakan ekosistem ekonomi yang mampu memberikan harapan bagi generasi muda. Dukungan terhadap UMKM, industri kreatif, pertanian modern, hingga akses pembiayaan harus menjadi prioritas agar anak muda melihat desa sebagai tempat yang menjanjikan, bukan sekadar tempat kelahiran.

Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan desa tidak hanya diukur dari banyaknya proyek yang selesai, tetapi juga dari berapa banyak anak muda yang memilih tetap tinggal atau kembali pulang. Sebab desa yang kehilangan generasi mudanya perlahan akan kehilangan masa depannya.