Saya Tidak Paham Inflasi Sampai Harga Makan Siang Berubah

hii aku Mina, Mahasiswi Universitas Pamulang, Prodi Pendidikan Ekonomi turning overlooked moments into something worth reading!!
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Irmina Imelvin zai tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dulu saya pikir inflasi adalah istilah yang hanya muncul di berita ekonomi atau materi kuliah. Angkanya terdengar jauh dari kehidupan sehari-hari: 2 persen, 3 persen, dan seterusnya.

Sampai suatu hari, saya berdiri di depan warung makan dan menyadari harga makan siang saya sudah berubah.
Menu yang biasanya bisa saya dapatkan dengan uang yang sama, sekarang membuat saya harus memilih. Mau tetap makan seperti biasa atau mengurangi lauk supaya uangnya cukup untuk kebutuhan lain?
Saat itu saya baru sadar, inflasi ternyata tidak selalu datang dalam bentuk angka yang besar. Kadang, ia datang dalam bentuk sederhana: uang Rp20 ribu yang tiba-tiba terasa tidak cukup.
Sebagai mahasiswa, perubahan kecil seperti itu cukup terasa. Pengeluaran makan mungkin hanya bertambah beberapa ribu rupiah, tetapi kalau terjadi setiap hari, jumlahnya menjadi cukup besar dalam sebulan.
Di sinilah saya mulai memahami konsep daya beli.
Secara sederhana, ketika harga barang dan jasa secara umum meningkat, nilai riil uang yang kita miliki ikut menurun. Nominal uangnya tetap sama, tetapi barang yang bisa dibeli menjadi lebih sedikit.
Rp20 ribu tetap Rp20 ribu.
Tetapi kemampuan Rp20 ribu untuk membeli kebutuhan tidak selalu sama.
Menurut saya, bagian ini yang sering membuat pembahasan inflasi terasa jauh. Kita terlalu sering melihat inflasi sebagai persentase, bukan sebagai perubahan kecil yang benar-benar kita rasakan.
Padahal, inflasi bisa memengaruhi keputusan sehari-hari. Saya mulai membandingkan harga sebelum membeli makanan, memilih menu yang lebih murah, bahkan berpikir ulang sebelum membeli sesuatu yang sebelumnya terasa biasa saja.
Yang menarik, saya juga mulai menyadari bahwa ketika harga naik, kita tidak selalu bisa langsung meningkatkan pendapatan.
Inilah yang membuat inflasi terasa lebih berat bagi orang dengan pendapatan terbatas. Ketika penghasilan tetap sementara harga kebutuhan meningkat, pendapatan riil sebenarnya mengalami tekanan.
Dari situ saya akhirnya melihat ekonomi makro dengan cara yang berbeda.
Ternyata teori yang selama ini saya pelajari di kelas tidak hanya berbicara tentang angka pertumbuhan ekonomi atau kebijakan pemerintah. Ada bagian dari ekonomi makro yang diam-diam hadir ketika kita membuka dompet dan mulai menghitung apakah uang hari ini masih cukup untuk makan sampai besok.
Bagi saya, inflasi akhirnya bukan lagi sekadar angka dalam berita.
Inflasi adalah ketika saya berdiri di depan warung, melihat daftar harga, lalu berpikir:
“Kok sekarang uang segini cuma dapat ini?”
Mungkin di situlah ekonomi mulai terasa nyata—bukan ketika kita menghafal definisinya, tetapi ketika perubahan harga membuat kita mengubah cara menjalani kehidupan sehari-hari.
