Konten dari Pengguna

Perpustakaan Sepi? Apakah Literasi Ikut Mati?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Irmina Imelvin Zai tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dulu, perpustakaan adalah tempat yang penuh kehidupan. Suara langkah kaki, halaman buku yang dibuka, hingga mahasiswa yang sibuk mencari referensi jadi pemandangan biasa. Tapi sekarang, suasananya berubah. Sunyi. Kursi-kursi kosong lebih banyak daripada pengunjung. Lalu muncul satu pertanyaan yang cukup mengganggu: apakah literasi masih punya tempat di tengah semua ini?

Sumber: Dokumentasi Pribadi (2025)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumentasi Pribadi (2025)

Di era digital seperti sekarang, jawaban untuk hampir semua pertanyaan ada di genggaman. Cukup satu sentuhan layar, informasi langsung muncul. Buku fisik mulai tergeser oleh e-book, dan perpustakaan tidak lagi menjadi satu-satunya “gerbang ilmu”. Perubahan ini terlihat praktis, cepat, dan modern tapi diam-diam mengubah cara kita belajar.

Perpustakaan yang sepi bukan berarti masyarakat berhenti belajar. Justru, cara belajar kita sedang bergeser. Dari membaca buku tebal berjam-jam, kini kita terbiasa dengan informasi singkat, video pendek, dan ringkasan instan. Semua terasa lebih mudah, tapi di balik itu ada hal yang perlahan hilang: kedalaman berpikir.

Karena literasi bukan sekadar bisa membaca, tetapi juga memahami, menganalisis, dan berpikir kritis. Dan proses itu sering kali lahir dari kebiasaan membaca yang utuh sesuatu yang dulu banyak ditemukan di perpustakaan.

Namun, menyalahkan teknologi juga bukan jawaban yang tepat. Digitalisasi membuka pintu pengetahuan yang jauh lebih luas. Tantangannya bukan pada hadirnya teknologi, tetapi pada cara kita menggunakannya. Apakah kita benar-benar belajar, atau hanya sekadar “scrolling” tanpa makna?

Perpustakaan seharusnya tidak dipandang sebagai tempat yang usang. Ia perlu bertransformasi menjadi ruang yang lebih hidup menggabungkan buku fisik, akses digital, dan ruang diskusi yang membuat orang kembali tertarik datang.

Jadi, apakah literasi ikut mati ketika perpustakaan sepi? Jawabannya: tidak. Literasi tidak mati, tetapi sedang berubah wajah. Dan tugas kita adalah memastikan perubahan itu tidak menghilangkan esensinya—kemampuan untuk berpikir, memahami, dan tidak hanya menerima informasi secara instan.

Karena pada akhirnya, literasi bukan soal di mana kita membaca, tetapi bagaimana kita memahami dunia.