Hukum Ketertarikan, Menyesatkan atau Menjadikan Hidup Lebih Baik?

Mahasiswi Universitas Pembangunan Jaya
Tulisan dari Irna Fiqrunnisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apakah kamu pernah menerapkan hukum ketertarikan dalam kehidupan? Mungkin aja pernah tetapi kalian tidak sadar jika ‘pernah’ menerapkannya. Pada jaman sekarang ini, banyak orang-orang diluar sana yang selalu berpikiran negatif tentang diri nya ketika mengalami kegagalan, padahal kegagalan itu merupakan sebuah proses menuju kesuksesan. Nah maka dari itu, saya akan membahas tentang hukum ketertarikan kali ini.
Pengertian
Law of attraction (LoA) atau hukum ketertarikan sudah ada sejak abad ke-19. Secara sederhana, hukum ketertarikan adalah sebuah hukum fisika yang membahas tentang pikiran alam bawah sadar bahwa apa yang kita yakini akan menjadi hak/milik kita. Kita akan mendapat energi sesuai dengan apa yang kita pikirkan, baik itu positif maupun negatif. Mengapa hal ini bisa terjadi? Gampangnya karena pikiran alam bawah sadar yang kita miliki memiliki gelombang getaran yang sama dengan alam semesta dan secara otomatis akan saling terhubung.
Banyak buku diluar sana yang membahas tentang LoA, tetapi saya akan mengambil salah satu kutipan dari buku berjudul “The Science of Success” karya James Arthur Ray. Menurut (James, 1999), LoA merupakan suatu energi yang dihasilkan oleh pikiran manusia; jika kita berpikir dan merasakan kebahagiaan tentang sesuatu, maka hal itu akan terjadi. Dalam kutipan tersebut, James menekankan bahwa kita sebagai manusia yang memiliki kemampuan untuk mengetahui baik atau buruknya terhadap sesuatu harus berhati-hati pada pemikiran. Dengan kata lain sebaiknya kita berfokus pada “Apa yang saya inginkan dan buang segala pemikiran yang negatif”. Contohnya, si A meyakini dirinya “Saya percaya akan menjadi pilot setelah lulus SMA” yang berarti si A sudah memiliki afirmasi positif didalam dirinya bahwa ia akan menjadi pilot suatu saat nanti. Berbeda halnya dengan si B yang meyakini dirinya “Semoga saya tidak diterima di PTN/PTS manapun, sehingga saya bisa melanjutkan pendidikan di sekolah penerbangan yang saya impikan!” yang berarti si B memiliki afirmasi negatif lalu ia pancarkan kepada alam semesta dengan berkata “tidak” secara tidak sengaja. Meskipun keduanya memiliki arti yang sama yaitu ingin menjadi pilot, tetapi kedua hal tersebut memiliki substansi yang berbeda.
Cara menerapkan LoA
1. Selalu bersyukur
Selalu bersyukur adalah kunci untuk kehidupan bahagia. Dengan bersyukur, maka kita akan menjalani hari dengan hati ringan tanpa berkeluh kesah yang dapat memancing pemikiran negatif datang dengan sendiri nya melalui pemikiran kita.
2. Mengimajinasikan
Coba dengan cara mengimajinasikan diri sendiri terhadap apa yang ingin kita dapatkan. Bayangkan betapa bahagia nya kita ketika berhasil mendapatkan apa yang diinginkan.
3. Percaya diri terhadap hal yg kita inginkan akan segera tercapai
Dengan membangun kepercayaan diri terhadap diri sendiri juga sangat mempengaruhi alam semesta yang akan menarik seisi pikiran kita. Maka dari itu coba yakinkan kepada diri sendiri bahwa “Saya percaya dan saya yakin hal baik ini akan datang kepada saya suatu saat nanti”.
Apakah LoA berbahaya atau tidak?
Jawabannya adalah TERGANTUNG. Hukum tarik-menarik atau LoA memang dimulai dari pikiran atau mindset. Sedang harapan baik atau doa dan niat adalah bagian dari sebuah mindset. Maksudnya adalah bahwa niat dan doa itu sangat-sangat ilmiah mengingat bahwa ternyata pikiran itu bisa sangat luar biasa (dan berbahaya). (Kun Syabban, https://qr.ae/prpRHI, akses 11 Desember 2022). Manusia dikarunia oleh Tuhan mempunyai akal dan pikiran untuk berpikir. Baik atau buruknya sesuatu adalah pikiran kita yang menentukan. Begitu pula dengan hukum ketertarikan ini. Jika kita salah mengganggap sesuatu, maka akan fatal juga hasilnya. Menerapkan LoA tidak ada salahnya karena berpikir secara positif tentu memberikan dampak yang positif bagi diri kita sendiri maupun orang lain. Tetapi, yang salah adalah disaat kita mempunyai pikiran positif dan hasilnya tidak sesuai dengan apa yang kita pikirkan, secara sadar atau tidak sadar di kemudian hari kita justru menyalahkan diri sendiri dan takdir Tuhan. Tugas kita cukup mempercayai takdir yang sudah disusun rapih oleh Tuhan karena sesungguhnya Tuhan kita lah yang tahu apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan.
