Konten dari Pengguna

Kenali Bahaya Toxic Relationship di Kalangan Gen Z

Irni Nur Asiyah

Irni Nur Asiyah

Mass Communication Student at BINUS University

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Irni Nur Asiyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi toxic relationship. Foto : Paxels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi toxic relationship. Foto : Paxels

Apakah kalian mengetahui tentang apa itu toxic relationship? Atau pernahkah kalian terjebak di dalam hubungan toxic relationship? Toxic relationship dapat dialami oleh siapa saja. Jika kita tidak berhati-hati dalam memilih pasangan, sangat mungkin jika kita dapat menjadi korban dari toxic relationship, lho!

Korban dari toxic relationship selalu merasa cemas dalam menjalin hubungan. Ada masa di mana korban merasa tidak aman, diintimidasi, dikucilkan, direndahkan oleh pasangannya sendiri. Namun, juga ada masa di mana korban merasa dicintai sehingga hal inilah yang memicu kebingungan dalam diri korban untuk melepaskan diri dari toxic relationship yang korban alami.

Berdasarkan pengalaman yang diceritakan oleh teman saya yang pernah terjebak dalam toxic relationship selama setahun lamanya, saya jadi menyadari bahaya yang membayangi korban dalam hubungan tak sehat ini. Di awal memang kita akan merasakan rasa cinta yang berkembang seperti hubungan kasih pada umumnya. Namun, semakin lama rasa cinta itu tumbuh dengan tidak sehat dan berubah menjadi menyakitkan bagi korban.

Tak jarang teman saya mengeluhkan perilaku pasangan yang kerap cemburu berlebihan jika teman saya memiliki pekerjaan yang mengharuskan teman saya untuk bekerja bersama laki-laki. Teman saya pun kerap kali direndahkan akibat tidak ingin melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginannya, seperti direndahkan akibat tidak mau minum alkohol, merokok, atau lain sebagainya. Awalnya hal ini dapat dimengerti teman saya, sampai pada akhirnya teman saya pun lelah untuk melanjutkan hubungannya.

Di dalam hubungan toxic relationship yang teman saya alami, mantan pasangannya kerap kali melakukan playing victim ketika teman saya meminta untuk mengakhiri hubungannya sehingga membuatnya berpikir kembali jika hal yang terjadi merupakan kesalahannya sendiri. Selain melakukan playing victim kepada teman saya, mantan pasangannya juga mengancam korban hingga korban menjadi merasa tertekan, terancam, trauma, hingga hal yang paling parah adalah memasuki masa depresi.

Dalam hubungan toxic relationship, teman saya berkata bahwa peran lingkungan yang mendukung korban untuk lepas dari toxic relationship sangat penting. Lingkungan yang baik dan mendukung tentu saja baik untuk korban dalam mengambil keputusan. Teman saya beruntung dikelilingi oleh teman-teman yang memahami dia dan dapat membantu dia untuk lepas dari mantan pasangannya sehingga teman saya sekarang dapat perlahan-lahan memperbaiki dirinya atas trauma yang diberikan oleh mantan pasangannya itu. Pengalaman teman saya dalam menjalani toxic relationship tentunya dapat menjadi suatu pembelajaran bagi kalian yang mungkin belum mengetahui tentang toxic relationship dan bahaya yang mengikutinya.

Melalui pengalaman teman saya ini, berhati-hatilah dalam memilih pasangan dan pastikan jika hubungan tersebut akan membangun dan memberi kebahagiaan bagi masing-masing pasangan. Janganlah terpedaya dengan berbagai alasan yang diberikan pelaku jika kalian terjebak dalam hubungan toxic relationship. Karena, kesehatan mental dan kebahagiaan kita lebih penting daripada apa pun. Awalnya, kita mungkin akan merasa skeptis dengan hubungan tak sehat ini sampai pada akhirnya kita akan berhadapan dengan hubungan tak sehat itu sendiri. Semoga kita selalu terhindar dari toxic relationship dan mendapatkan pasangan yang menyayangi dan mengerti kita.