Estetika Perang dan Kritik Board of Peace

Seniman Gerpolek Gerilya Politik Ekonomi
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Irsad Ade Irawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tulisan ini bertujuan membaca lukisan sebagai kritik visual terhadap narasi perdamaian global, khususnya yang diproduksi oleh kekuatan politik besar seperti Amerika Serikat. Karya seni rupa yang akan dibahas adalah lukisan saya yang berjudul “Board of Peace (Criminal)”.
Lukisan ini menampilkan sebuah lanskap konflik yang sarat simbol: sebuah tank yang ditunggangi oleh sosok mirip Donald Trump yang mendominasi ruang visual, sementara di latar belakang berdiri kubah berwarna keemasan Masjid Al-Aqsa. Kehadiran Al-Aqsa bukan sekadar elemen arsitektural, melainkan representasi spiritual, historis, dan politis dari konflik yang telah berlangsung lama di Timur Tengah.
Representasi Visual: Antara Sakral dan Militer
Secara komposisi, lukisan memperlihatkan kontras tajam: kubah Al-Aqsa berdiri tenang di kejauhan, sementara tank tampil agresif dan mencolok. Kontras ini mencerminkan apa yang disebut sebagai “coexistence of sacred space and militarized violence”.
Tank dalam lukisan bukan hanya objek militer, tetapi simbol dominasi, kontrol, dan kekuatan destruktif. Warna hijau yang biasanya diasosiasikan dengan kehidupan justru berubah menjadi ironi; kehidupan yang dipaksa tunduk oleh mesin perang.
Kritik terhadap “Board of Peace” ala Amerika
Dalam konteks global, lukisan ini dapat dibaca sebagai kritik terhadap apa yang sering disebut sebagai peace-making institutions atau forum internasional yang mengklaim mendorong perdamaian namun seringkali tidak menyentuh akar konflik.
Pada masa pemerintahan Donald Trump, kebijakan seperti pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel (2017) memicu kritik luas. Banyak analis, menilai langkah tersebut justru memperkeruh konflik, bukan menyelesaikannya.
Sementara itu, Board of Peace (BoP) yang dibesut oleh Trump juga menuai banyak kritik, antara lain:
1. Absennya Keterlibatan Palestina: BoP dinilai tidak inklusif karena tidak melibatkan rakyat Palestina dalam struktur maupun pengambilan keputusan, sehingga Palestina seolah menjadi objek yang tidak bisa menentukan nasibnya sendiri.
2. Risiko "Penjajahan Baru": BoP dianggap berpotensi menjadi alat administrasi transisi yang bias kepentingan AS dan Israel, bukan untuk kemerdekaan Palestina yang sesungguhnya.
3. Bertentangan dengan Hukum Internasional: Piagam BoP inisiasi Trump dianggap tidak sejalan dengan prinsip hukum internasional dan Resolusi Dewan Keamanan PBB.
4. Memicu Normalisasi Tanpa Keadilan: BoP dinilai berpotensi menormalisasi pendekatan pascakonflik tanpa adanya resolusi politik yang adil.
Hal ini selaras dengan kritik visual dalam lukisan: tank tetap bergerak, sementara simbol perdamaian hanya menjadi latar belakang yang diam. Dengan kata lain, “board of peace” yang dimaksud dalam lukisan ini bukanlah agen penyelesaian konflik, melainkan panggung retorika. Kekuatan politik dominan berbicara tentang stabilitas, tetapi gagal menghentikan kekerasan yang nyata di lapangan,
Estetika sebagai Perlawanan
Gaya lukisan yang ekspresif; sapuan kasar, warna kontras, dan distorsi bentuk, menunjukkan bahwa karya ini tidak bertujuan menenangkan, melainkan mengguncang. Ini sejalan dengan teori seni sebagai bentuk resistensi (Adorno, 1970), di mana estetika digunakan untuk mengungkap ketidakadilan yang tidak mampu diartikulasikan oleh bahasa politik formal. Berdasarkan teori estetika Theodor W. Adorno, seni yang otentik berfungsi sebagai bentuk resistensi negatif terhadap masyarakat yang teradministrasi secara total (kapitalisme lanjut dan totalitarianisme).
Tank yang besar dan dominan secara visual seolah “menelan” ruang damai. Ini adalah metafora bahwa kekuatan militer seringkali lebih nyata daripada janji diplomasi.
Kesimpulan
Lukisan ini adalah kritik tajam terhadap paradoks perdamaian modern. Di satu sisi, dunia memiliki lembaga dan pemimpin yang berbicara tentang perdamaian; di sisi lain, realitas di lapangan menunjukkan keberlanjutan kekerasan.
Dengan menempatkan Masjid Al-Aqsa sebagai latar, karya ini menegaskan bahwa konflik bukan hanya soal wilayah, tetapi juga identitas dan sejarah. Sementara itu, kebijakan dari kekuatan politik besar seperti Amerika Serikat memperlihatkan bagaimana “perdamaian” dapat direduksi menjadi alat politik.
Pada akhirnya, lukisan ini menantang kita untuk bertanya: apakah perdamaian yang ditawarkan benar-benar bertujuan menghentikan penderitaan, atau hanya sekadar menjaga keseimbangan kekuasaan?
