Realitas Anak Muda Jatinangor yang Sulit Menembus Perguruan Tinggi di Wilayahnya

Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi, Program Studi Jurnalistik Universitas Padjadjaran
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari IRSAN ANSORI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jatinangor dikenal sebagai kawasan pendidikan yang menjadi tempat bagi beberapa perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, mulai dari Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Bandung, hingga Institut Pemerintahan Dalam Negeri. Ribuan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia datang ke kawasan ini setiap tahunnya untuk menempuh pendidikan tinggi.
Namun dibalik identitas kawasan pendidikannya, terdapat sebuah realita yang jarang dilihat oleh banyak orang, yaitu fakta bahwa anak-anak muda yang lahir dan besar di Jatinangor justru banyak yang tidak berhasil masuk ke universitas yang berdiri di tanah kelahiran mereka sendiri. Salah satunya adalah Firli, warga lokal Jatinangor yang memiliki mimpi untuk bisa melanjutkan pendidikannya ke Universitas Padjadjaran.
Firli merupakan warga asli Jatinangor yang telah menyelesaikan pendidikan SMA pada tahun 2025. Namun, jauh sebelum ia lulus dari sekolah menengah atas, Universitas Padjadjaran sudah menjadi universitas impiannya sejak lama. Bukan sekadar karena jaraknya, tetapi karena Unpad memang telah menjadi bagian dari cita-cita sejak lama dan menjadi identitas sebagai warga Jatinangor.
Perjalanan yang Tidak Selalu Mulus
Pada saat Firli kelas 12, ia mendapat pengumuman bahwa ia menjadi salah satu siswa eligible dalam pendaftaran Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNPB), bukan suatu hal yang mudah bagi para siswa mendapatkan status tersebut, karena hanya beberapa anak berprestasi saja yang mendapatkan status eligible dan berkesempatan mendaftar SNBP.
Kesempatan tersebut langsung Firli gunakan dengan baik dengan mendaftarkan dirinya ke Universitas Padjadjaran melalui jalur SNBP.
“Aku masuk eligible, aku waktu itu daftar Sosiologi Unpad sama Olahraga UNY,” ujarnya.
Namun takdir berkata lain, ia belum berhasil mendapatkan universitas berwarna oranye dan biru kuning tersebut. Meski begitu, Firli menyikapinya dengan tenang, dan merasa bahwa ia sudah menduga bahwa ia tidak akan lolos dalam seleksi. Ia juga tidak banyak berharap, karena merasa bahwa siswa-siswa di sekolahnya jarang ada yang lolos dalam SNBP di Universitas Padjadjaran.
“Di SNBP waktu itu ga terlalu ngarep di Unpad,” kata Firli.
Setelah menerima hasil ini, ia memutuskan untuk tidak melanjutkan mendaftar universitas negeri melalui jalur lain, termasuk Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) maupun jalur Mandiri di tahun 2025.
Namun pada tahun 2026, ia mencoba untuk mendaftarkan diri ke Universitas Padjadjaran lagi melalui jalur SNBT 2026, dengan pilihan pertama yaitu Agribisnis Unpad dan Ekonomi Islam di pilihan kedua. Namun, hasilnya tetap sama. Ia tertolak untuk yang kedua kali di universitas impiannya.
Antara Bekerja dan Mempersiapkan Diri
Jauh sebelum Firli mendaftarkan diri melalui jalur SNBT 2026, ia telah bekerja di salah satu sekolah dasar di Jatinangor. Sebagai seorang guru, ia mengajar siswa kelas 3 di salah satu sekolah dasar di Jatinangor. Mengajar bukan sekadar pengisi waktu luang baginya. Firli mengaku memiliki ketertarikan dan passion di bidang pendidikan. Meski murid-muridnya kerap menguji kesabaran, ia menyebut sudah terbiasa dan tetap melanjutkan dan menikmati pekerjaannya.
Dengan menjalani dua peran sekaligus, yaitu sebagai pengajar dan seorang pejuang mimpi yang belajar untuk mempersiapkan diri di SNBT, Firli mengakui bahwa waktunya untuk belajar sangat terbatas. Persiapannya hanya berlangsung sekitar satu bulan menjelang pendaftaran, dan itupun tidak dilakukan secara intensif. Kondisi ini diperparah dengan pandangannya bahwa persaingan SNBT tahun ini terasa lebih ketat dibanding tahun sebelumnya. Menghafal materi ujian di sela-sela jam kerja bukanlah perkara mudah baginya. Ia bahkan mengaku baru benar-benar mencuri start untuk belajar secara intensif hanya satu bulan sebelum ujian tes SNBT dilaksanakan.
Hambatan Bagi Warga Lokal
Fenomena yang dialami Firli bukan semata-mata hal yang biasa. Berdasarkan pengamatannya, sangat jarang anak-anak asli Jatinangor yang berhasil diterima di Perguruan Tinggi Negeri disini melalui jalur SNBP, bahkan ia mengaku jarang mendengar siswa dari sekolahnya yang diterima melalui jalur SNBP di Universitas Padjadjaran.
“Aku belum bahkan jarang denger SNBP Unpad tuh keterima,” ujarnya.
Di jalur SNBT, persaingannya bersifat nasional, yang berarti mereka harus bersaing langsung dengan siswa dari sekolah-sekolah unggulan di seluruh Indonesia yang memiliki akses lebih baik terhadap fasilitas belajar dan bimbingan intensif. Hal tersebut diperparah dengan fakta bahwa Universitas Padjadjaran adalah salah satu universitas dengan peminat terbanyak di Indonesia.
Sementara itu, jalur Mandiri yang dimana memiliki peluang lebih banyak justru menjadi opsi yang jarang dipilih bagi sebagian besar warga Jatinangor. Firli menjelaskan mengapa banyak calon mahasiswa di lingkungannya yang mengurungkan niat mendaftar melalui jalur tersebut yaitu karena biaya yang terlalu besar yang diperparah dengan pendapatan warganya yang tidak mencukupi.
“Nah mandiri ini tuh menurut aku apa ya, terlalu mahal untuk warlok yang UMR-nya tidak seberapa, ditambah Jatinangor ini menurut aku termasuk yang susah cari kerja sih,” kata Firli.
Akibatnya, sebagian besar lebih memilih universitas lain seperti Universitas Islam Bandung (Unisba), Universitas Terbuka (UT), atau Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Sumedang.
“Banyaknya tuh kuliah di Unisba, terus kaya ada juga yang di UT, pokoknya malah daerah yang Bandung Kota. Temen SMA aku juga ada yang di UPI Sumedang.”
Bahkan tidak sedikit pula yang langsung memasuki dunia kerja setelah lulus sekolah. Hal tersebut bukan karena mereka tidak memiliki niat untuk masuk ke universitas di wilayahnya, melainkan karena hambatan yang membuat peluang itu terasa jauh dari jangkauan.
Kisah Firli memiliki makna yang begitu dalam. Jatinangor adalah kawasan yang secara visual terlihat dipenuhi oleh perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Namun secara sosial, jarak antara warga lokal dan kampus-kampus tersebut nyatanya masih cukup jauh.
Ia menaruh harapan besar agar pendidikan di daerahnya tidak lagi menciptakan jarak bagi masyarakat setempat, sehingga anak-anak Jatinangor seperti dirinya tidak hanya menjadi penonton di pinggiran pagar kampus, melainkan bangga berjalan di dalamnya sebagai bagian dari kampus tersebut.
