Konten dari Pengguna

Efisiensi Anggaran dan Dampaknya terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

M Irsan Saputra
Mahasiswa Prodi S-1 Peternakan Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin Makassar
25 Februari 2025 18:28 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari M Irsan Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Gambar Pribadi, menceritakan ilustrasi Efesiensi Anggaran oleh Pemerintah
zoom-in-whitePerbesar
Gambar Pribadi, menceritakan ilustrasi Efesiensi Anggaran oleh Pemerintah
ADVERTISEMENT
Belakangan ini, kita melihat isu yang begitu besar dan menyebar di seluruh Indonesia, yang menyebabkan banyak kegaduhan di masyarakat, seputar efisiensi anggaran pemerintahan untuk tahun anggaran 2025. Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menerapkan kebijakan efisiensi anggaran yang signifikan, dengan pemotongan sebesar Rp306,69 triliun. Langkah ini bertujuan untuk mengalokasikan dana bagi program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan proyek infrastruktur lainnya. Namun, kebijakan ini menuai berbagai tanggapan dan kritik dari berbagai pihak.
ADVERTISEMENT
Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 mengamanatkan pemotongan anggaran sebesar Rp306,69 triliun, yang terdiri dari Rp256,1 triliun dari kementerian dan lembaga, serta Rp50,59 triliun dari transfer ke pemerintah daerah. Pemotongan ini mencakup pengurangan biaya perjalanan dinas, alat tulis kantor, seminar, acara seremonial, honorarium, dan belanja lainnya. Menteri Perdagangan, misalnya, menegaskan bahwa efisiensi anggaran tidak akan memengaruhi kinerja kementeriannya, meskipun pagu anggaran setelah efisiensi menjadi Rp1,132 triliun dari semula Rp1,853 triliun.
Pemerintah Indonesia mendapat banyak kritik atas kebijakan efisiensi anggaran tahun 2025, terutama karena dampaknya terhadap sektor pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat. Dengan memangkas anggaran hingga Rp306,69 triliun, pemerintah berisiko menghambat layanan publik dasar, khususnya pendidikan, yang seharusnya menjadi fokus utama dalam pembangunan sumber daya manusia. Akademisi dan pakar ekonomi menyoroti bagaimana pemotongan ini dapat melemahkan kualitas pendidikan serta mengurangi akses terhadap layanan kesehatan, yang pada akhirnya berdampak pada daya saing bangsa. Selain itu, pemangkasan anggaran di kementerian dan lembaga juga berpotensi memperlambat kinerja birokrasi, terutama dalam sektor-sektor yang membutuhkan dukungan finansial untuk menjalankan program-programnya.
ADVERTISEMENT
Kritikus juga menilai bahwa kebijakan ini lebih menitikberatkan pada penghematan daripada peningkatan efektivitas dan transparansi anggaran. Pemerintah seharusnya mengoptimalkan penggunaan dana dengan memperketat pengawasan terhadap pemborosan dan kebocoran anggaran yang masih marak terjadi, daripada sekadar memangkas anggaran. Pemotongan ini juga bisa mengurangi daya beli masyarakat, karena belanja pemerintah berperan sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. Tanpa strategi yang jelas, kebijakan efisiensi ini bisa menjadi bumerang yang justru melemahkan perekonomian jika pemerintah tidak memastikan bahwa program-program esensial tetap berjalan secara optimal untuk kepentingan masyarakat luas.
Pemerintah Indonesia berupaya meningkatkan efektivitas belanja negara melalui program efisiensi anggaran tahun 2025. Dengan memangkas pengeluaran yang dianggap kurang produktif, pemerintah berharap dapat mengalokasikan dana untuk program prioritas seperti infrastruktur dan bantuan sosial. Jika dikelola secara optimal, langkah ini dapat mengurangi pemborosan, meningkatkan transparansi, serta memperkuat stabilitas fiskal negara, yang pada akhirnya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi.
ADVERTISEMENT
Pemangkasan anggaran dalam sektor pendidikan dan kesehatan justru berisiko menghambat pembangunan sumber daya manusia dan menurunkan daya beli masyarakat. Karena belanja pemerintah memainkan peran penting dalam mendorong aktivitas ekonomi, kebijakan ini dapat memperlambat pertumbuhan jika tidak diimbangi dengan strategi peningkatan investasi produktif. Jika pemerintah tidak menerapkan efisiensi anggaran dengan tepat, kebijakan ini justru bisa melemahkan kesejahteraan masyarakat dan menghambat stabilitas ekonomi nasional.
Pemerintah juga perlu memastikan bahwa efisiensi anggaran tidak hanya berfokus pada pemotongan belanja, tetapi juga pada optimalisasi penggunaan dana. Dengan memperbaiki sistem pengelolaan anggaran dan memperketat pengawasan terhadap kebocoran dana, pemerintah dapat memastikan bahwa setiap rupiah yang dialokasikan benar-benar memberikan manfaat bagi perekonomian. Selain itu, reformasi birokrasi yang lebih efisien dan digitalisasi layanan publik dapat membantu mengurangi pemborosan tanpa harus memangkas anggaran yang berpengaruh pada sektor-sektor strategis. Dengan cara ini, efisiensi anggaran dapat menjadi alat untuk meningkatkan produktivitas tanpa mengorbankan kualitas layanan publik.
ADVERTISEMENT
Untuk itu, pemerintah harus mempertimbangkan dampak jangka panjang dari kebijakan ini terhadap kesejahteraan masyarakat. Jika pemotongan anggaran menyebabkan berkurangnya investasi dalam pendidikan, kesehatan, dan program sosial, maka potensi pertumbuhan ekonomi di masa depan bisa terhambat. Kesejahteraan masyarakat yang menurun dapat berdampak pada penurunan produktivitas tenaga kerja dan memperlebar kesenjangan sosial. Oleh karena itu, pemerintah harus menyeimbangkan kebijakan efisiensi anggaran dengan strategi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan agar pertumbuhan ekonomi tetap stabil dan inklusif.