Konten dari Pengguna

Efek Komisi 8%: Risiko Tersembunyi Pendapatan Driver

Ivan Kurniawan

Ivan Kurniawan

Mahasiswa akuntansi UIN Jakarta

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ivan Kurniawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi ini dibuat oleh penulis dengan banntuan AI, ChatGPT AI
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi ini dibuat oleh penulis dengan banntuan AI, ChatGPT AI

Rencana pelaksanaan pembatasan komisi untuk aplikator ojek online yang diusulkan oleh pemerintah, yang ditetapkan hingga maksimal 8%, sering kali dianggap sebagai kemenangan besar untuk kesejahteraan mitra pengemudi. Banyak orang berpikir bahwa penurunan komisi dari 20% menjadi 8% secara otomatis akan meningkatkan pendapatan bersih pengemudi. Namun, jika dilihat dari perspektif akuntansi manajemen dan pengakuan pendapatan, kebijakan ini menyimpan risiko tersembunyi yang berupa dampak negatif yang dapat menekan keseluruhan arus kas yang diterima pengemudi.

Asimetri Informasi dan Rekayasa Tarif Dasar

Dalam teori akuntansi biaya, total pendapatan dirumuskan menggunakan formula matematis yang sederhana: jumlah transaksi dikalikan dengan harga per unit atau tarif per perjalanan. Ketika persentase komisi yang diterima oleh aplikator (take-rate) dipotong secara paksa oleh regulasi, entitas aplikator akan kehilangan bagian penting dari pendapatan operasional mereka. Untuk memastikan keberlangsungan bisnis (going concern) dan memenuhi harapan profitabilitas bagi pemegang saham di pasar modal, aplikator memiliki dorongan yang kuat untuk melakukan penyesuaian pada cara mereka mengakui pendapatan operasional.

Risiko paling besar yang dihadapi oleh pengemudi adalah kemungkinan penurunan tarif dasar per kilometer oleh penyedia layanan melalui algoritma yang tidak jelas. Dalam akuntansi, jika tarif dasar dikurangi dengan alasan untuk meningkatkan jumlah pesanan dari pelanggan, maka dasar pengali pendapatan kotor pengemudi juga akan menurun. Oleh karena itu, meskipun potongan komisi diperkecil menjadi hanya 8%, jumlah uang yang diterima pengemudi setiap perjalanan bisa tetap sama, atau bahkan lebih rendah dibandingkan saat komisi berada di angka 20% dengan tarif dasar yang wajar dan manusiawi.

Penyusutan Aset dan Beban Tersembunyi

Dari perspektif akuntansi keuangan pribadi, seorang pengemudi ojek online sebenarnya menjalankan bisnis mikro yang bersifat mandiri. Mereka memiliki, membiayai, dan mengelola aset tetap yang berupa kendaraan. Setiap kilometer yang mereka tempuh di jalan menghasilkan konsekuensi logis berupa biaya penyusutan dan peningkatan biaya pemeliharaan rutin yang berkaitan secara linear dengan penggunaan kendaraan.

Jika penurunan komisi menjadi 8% ini memicu persaingan harga baru antar platform aplikator untuk merebut pasar yang semakin jenuh, pengemudi akan dipaksa untuk bekerja dengan tingkat penggunaan aset yang jauh lebih tinggi. Mereka perlu menempuh jarak yang lebih jauh dan menghabiskan waktu lebih lama hanya untuk mencapai titik impas harian yang sama. Dari sudut pandang perhitungan biaya akuntansi, situasi ini menjadi tidak menguntungkan karena biaya untuk pemulihan aset (penggantian suku cadang, pelumas, ban, dan bahan bakar) meningkat tajam, sementara nilai sisa kendaraan jatuh drastis tanpa adanya imbal hasil yang sepadan.

Efek Substitusi: Penghapusan Insentif dan Bonus Kelayakan

Risiko finansial yang serius selanjutnya yang perlu diwaspadai adalah kemungkinan penghapusan pos biaya insentif, subsidi, dan bonus harian oleh pihak pengelola aplikasi. Dalam laporan laba rugi perusahaan layanan ojek online, selama ini, komponen bonus kinerja harian telah dikelompokkan sebagai biaya pemasaran atau pos yang mengurangi pendapatan langsung yang ditujukan untuk mendorong loyalitas mitra dan mengatur jumlah pengemudi di lokasi tertentu.

Dengan batasan komisi yang telah ditentukan maksimum pada angka 8%, kemampuan aplikasi untuk memberikan insentif menjadi sangat terbatas. Tindakan yang wajar yang akan diambil oleh manajemen keuangan aplikasi adalah melaksanakan langkah-langkah penghematan biaya dengan mengeliminasi atau memperketat kriteria untuk mendapatkan bonus. Bagi pengemudi yang selama ini mengandalkan sistem bonus kinerja untuk menutupi pengeluaran operasional harian yang tidak terduga, hilangnya elemen ini akan memiliki dampak besar pada likuiditas arus kas mingguan mereka.

Distorsi Manajemen Risiko Keuangan Informal

Terakhir, kebijakan seragam ini tidak memperhitungkan manajemen risiko untuk pekerja di sektor informal. Perusahaan besar dengan jaringan luas biasanya mengalokasikan sebagian dari komisi 20% yang ada untuk program perlindungan kecelakaan kerja, jaminan kesehatan, dan dana darurat bagi mitra pengemudi. Ketika pendapatan komisi mereka terpangkas lebih dari setengahnya, alokasi anggaran untuk kesejahteraan non-tunai ini menjadi yang pertama kali kemungkinan besar dikurangi.

Sebagai akibatnya, kini sopir perlu menghadapi risiko ketidakpastian ini secara individual tanpa adanya jaminan perlindungan dari perusahaan. Secara keseluruhan, tanpa mekanisme pengawasan yang ketat dan jelas tentang bagaimana tarif bersih ditentukan setelah kebijakan ini, batasan komisi ojol sebesar 8% justru berpotensi menciptakan jebakan likuiditas baru yang memindahkan tanggung jawab efisiensi perusahaan langsung kepada sopir di lapangan.