Konten dari Pengguna

Petualangan Ilmuwan Belanda di Tataran Sunda

Irvan Sidik

Irvan Sidik

Peneliti Fauna Reptil & Amfibi Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi-BRIN

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Irvan Sidik tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Masa Setelah Perang dan Awal Ekspedisi

Setelah kekalahan Napoleon Bonaparte pada Perang Waterloo tahun 1815, Belanda mulai memperbaiki kondisi negeri di bawah kepemimpinan Raja Willem I. Fokus utama adalah pemulihan ekonomi dan perdagangan, serta eksplorasi wilayah koloni seperti Hindia Belanda (termasuk Indonesia). Selain itu, ilmu pengetahuan dan sejarah alam juga menjadi perhatian utama. Untuk mendukung hal ini, Raja Willem I membentuk Natuurkundige Commissie voor Nederlandsch Indië pada 2 Mei 1820. Komisi ini bertugas meneliti kekayaan hayati dan mineral di Hindia Belanda, dan semua hasil ekspedisi dikirim ke Naturalis Biodiversity Center di Leiden, Belanda.

Heinrich Kuhl dan Johan Conrad van Hasselt

Anggota terpilih untuk ekspedisi ini adalah Heinrich Kuhl dan sahabatnya, Johan Conrad van Hasselt. Mereka adalah peneliti muda yang memiliki minat besar terhadap ilmu alam. Kuhl, yang awalnya belajar hukum, beralih ke kedokteran dan kemudian menjadi asisten profesor di Universitas Groningen. Bersama van Hasselt, mereka memulai perjalanan ke Hindia Belanda pada 11 Juli 1820, ditemani oleh dua taksidermis, Gerrit van Raalten dan Gerrit Laurens Keultjes, serta artis gambar.

Perjalanan dan Penemuan di Hindia Belanda

Perjalanan mereka dimulai dengan kapal uap Nordloh dan singgah di beberapa tempat sebelum akhirnya tiba di Hindia Belanda. Mereka berlabuh di Bantam (Banten) untuk mengumpulkan karang dan moluska, sebelum melanjutkan perjalanan ke Batavia (Jakarta). Di sana, mereka diterima oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, yang memberikan mereka tempat tinggal di Buitenzorg (Bogor) untuk menyesuaikan diri dengan iklim tropis.

Di Bogor, Kuhl dan van Hasselt bertemu dengan Caspar Georg Carl Reinwardt, yang membantu mereka mempelajari koleksi tumbuhan dan hewan. Mereka juga bertemu dengan Pierre-Médard Diard, seorang naturalis. Terpesona oleh keanekaragaman hayati Bogor, Kuhl dan van Hasselt mulai mengumpulkan, mengoleksi, dan mendeskripsikan flora dan fauna setempat.

Ekspedisi ke Gunung-Gunung Jawa

Setelah beberapa bulan, mereka merencanakan ekspedisi ke wilayah barat Pulau Jawa, tetapi tertunda karena wabah kolera. Mereka akhirnya menjelajahi pegunungan di selatan Bogor, termasuk Gunung Salak, Gunung Gede, dan Gunung Pangrango. Selama ekspedisi ini, mereka menemukan banyak spesies herpetofauna (reptil dan amfibi) yang berbeda dari tempat lain di dunia.

Penemuan dan Tragedi

Selama ekspedisi, Kuhl dan van Hasselt menemukan ular surapari (Calamaria) di Jawa Barat, yang hidup semi-fossorial. Sayangnya, setelah mendaki Gunung Pangrango, Kuhl jatuh sakit dan meninggal pada 14 September 1821, hanya beberapa hari sebelum ulang tahunnya yang ke-24. Dua hari kemudian, Keultjes juga meninggal. Van Hasselt melanjutkan riset hingga ia juga meninggal pada 8 September 1823 akibat kerasnya kehidupan di wilayah tropis.

Warisan Ilmiah

Meskipun tragis, penelitian mereka memberikan kontribusi besar pada ilmu pengetahuan. Heinrich Boie mendeskripsikan spesies ular yang ditemukan oleh Kuhl dan van Hasselt sebagai Calamaria lumbricoidea. Nama ini tetap digunakan hingga kini dan menjadi bagian penting dalam tata nama ilmiah.

Calamaria lumbricoidea, jenis ular yang dideskripsi oleh Boie berdasarkan hasil koleksi Kuhl dan van Hasselt, dokumentasi pribadi

Mereka dikenang dengan monumen di Kebun Raya Bogor, mengingat jasa mereka dalam bidang biologi dan dedikasi mereka terhadap ilmu pengetahuan.