Konten dari Pengguna

Antara Jalanan dan Mimpi: Ketika Ojol Juga Punya Mimpi Menulis.

Irvan Muhamad Thalib

Irvan Muhamad Thalib

Mahasiswa Universitas Terbuka Jurusan Sosiologi Semester 1,Seorang karyawan restoran biasa yang lumayan gemar menulis dan ingin belajar terus tentang menulis artikel dan lain lain

·waktu baca 2 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Irvan Muhamad Thalib tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Foto Pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Foto Pribadi.

Setiap pagi, saya bangun dengan dua hal yang berbeda: saya ojol tapi punya mimpi. Saya pakai atribut driver saya, nyalakan motor, dan siap keliling kota. Rutinitas yang udah jadi bagian hidup sejak beberapa waktu terakhir. Saya driver ojol, yang berarti hidup saya gak pernah jauh-jauh dari macet, panas matahari, dan notifikasi orderan. Tapi di sela-sela semua itu, ada satu hal yang gak pernah saya tinggalin: mimpi.

Saya suka nulis. Bukan karena saya kuliah sastra atau pernah menang lomba cerpen. Saya cuma orang biasa yang menemukan ketenangan waktu nulis. Kadang nulis di notes HP, Kadang nulis di kertas kosong, kadang cuma ngelamun sendiri sambil ngebayangin kalimat pembuka buat cerita. Lucu ya, di tengah dunia yang serba cepat dan keras ini, saya masih percaya bahwa kata-kata bisa menyembuhkan.

Awalnya saya pikir, "Ah, siapa sih yang mau baca tulisan dari driver ojol?" Tapi lama-lama saya sadar, justru di perjalanan ini saya nemuin banyak hal. Mulai dari ketemu penumpang yang cerita soal kerjaannya, nganter paket yang muatan nya bahkan melebihi kapasitas motor saya, sampai nganter makanan ke rumah yang bikin saya mikir, "Orang ini kerjanya apa ya?" Semua pengalaman itu, sedikit demi sedikit, bertumpuk menjadi bahan cerita dan referensi. Baik dari segi moral maupun sosial.

Saya nulis bukan buat tenar. Ketenaran hanya bonus. Alasan saya suka menulis karena saya bisa jujur ke diri sendiri. Karrena gak semua hal bisa diceritain ke orang lain, tapi bisa banget ditulis. Saya pernah ngerasa minder, apalagi waktu liat orang yang belajar nulis pakai laptop yang bagus, duduk di kafe mahal, atau lulusan kampus ternama. Saya? Nulis di bangku taman sambil nunggu orderan masuk.

Tapi ya gitu... mimpi gak pernah nanya kamu kerja siapa, kerja apa, atau punya apa. Mimpi cuma minta satu: kamu jalanin. Meski pelan. Meski sambil ngos-ngosan.

Sekarang, setiap kali saya narik, saya bawa dua hal: tali raphia untuk mengikat barang, dan ide buat ditulis. Karena bagi saya, jadi driver ojol bukan akhir cerita. Justru ini awal dari banyak kisah yang belum sempat diceritain.