Konten dari Pengguna

Netflix dan Wajah Baru Ekspansi Perusahaan Multinasional

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Isabel Nepa Ripasha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu hal yang berubah dari cara kita mengenal Netflix. Dulu, membuka Netflix terasa seperti membuka pintu menuju berbagai tayangan dari luar negeri. Kini, kita justru semakin sering menemukan cerita yang terasa dekat dengan kehidupan sendiri. Film dan serial Indonesia tidak lagi hanya menjadi bagian kecil dari katalog, tetapi mulai mendapatkan ruang yang lebih besar, bahkan menjangkau penonton di luar Indonesia.

Logo Netflix dalam konteks ekspansi perusahaan multinasional dan globalisasi industri hiburan. Sumber Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Logo Netflix dalam konteks ekspansi perusahaan multinasional dan globalisasi industri hiburan. Sumber Unsplash

Perubahan ini menarik jika Netflix tidak hanya dilihat sebagai perusahaan hiburan, tetapi sebagai perusahaan multinasional atau multinational corporation (MNC). Berasal dari Amerika Serikat dan beroperasi di lebih dari 190 negara, Netflix harus berhadapan dengan pasar, konsumen, industri kreatif, serta kondisi politik dan regulasi yang berbeda di setiap negara.

Di sinilah wajah ekspansi MNC mulai berubah. Ekspansi global tidak lagi selalu berarti membawa produk yang sama ke sebanyak mungkin negara. Bagi perusahaan seperti Netflix, menjadi global justru menuntut kemampuan untuk memahami dan beradaptasi dengan kondisi lokal.

Ketika Menjadi Global Berarti Memahami yang Lokal

Ekspansi perusahaan multinasional sering kali dibayangkan sebagai perjalanan satu arah. Perusahaan berasal dari satu negara, membawa modal, teknologi, produk, atau layanan ke negara lain, kemudian berusaha mendapatkan konsumen di pasar tersebut. Namun, pola tersebut tidak selalu cukup dalam ekonomi global saat ini.

Netflix merupakan contoh yang menarik. Ketika memasuki pasar Indonesia pada 2016, Netflix tidak hanya menghadapi pertanyaan tentang bagaimana membuat masyarakat Indonesia berlangganan. Perusahaan juga harus memahami apa yang ingin ditonton masyarakat, bagaimana industri kreatif lokal bekerja, siapa saja aktor yang berpengaruh di dalamnya, serta bagaimana regulasi dan kepentingan domestik membentuk ruang bisnis digital.

Karena itu, ekspansi Netflix berkembang dari sekadar mendistribusikan konten menjadi membangun hubungan dengan ekosistem lokal.

Pada 2025, lebih dari 90 persen anggota Netflix di Indonesia disebut menonton konten lokal. Hingga awal 2026, sebanyak 35 judul Indonesia juga telah masuk dalam Global Top 10 Netflix. Angka tersebut menunjukkan bahwa konten lokal tidak hanya memiliki fungsi untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik, tetapi juga dapat menjadi bagian dari sirkulasi konten global.

Perubahan ini memperlihatkan satu hal penting: bagi MNC, lokalitas tidak selalu menjadi batas bagi ekspansi global. Lokalitas justru dapat menjadi sumber kekuatan baru.

MNC Tidak Hanya Membawa Produk, tetapi Membangun Jaringan

Jika Netflix hanya ingin memperluas pasar, perusahaan sebenarnya dapat berhenti pada model distribusi. Cukup menyediakan katalog, mendapatkan pelanggan, lalu mengembangkan jumlah pengguna.

Namun, Netflix melakukan lebih dari itu. Perusahaan semakin aktif bekerja sama dengan kreator, aktor, kru, rumah produksi, festival film, dan berbagai pelaku industri kreatif di negara tempatnya beroperasi. Di Indonesia, misalnya, Netflix memperluas kolaborasi dengan kreator dan rumah produksi lokal. Pada 2025, perusahaan juga memperkuat kemitraan dengan Asosiasi Produser Film Indonesia melalui kerja sama dua tahun yang salah satunya mencakup pengembangan panduan keselamatan produksi nasional.

Dengan demikian, ekspansi MNC tidak lagi hanya dapat dilihat dari seberapa banyak negara yang berhasil dimasuki sebuah perusahaan. Yang juga penting adalah seberapa jauh perusahaan tersebut mampu membangun jaringan dengan aktor lokal.

Dalam perspektif Hubungan Internasional, hal ini menarik karena perusahaan multinasional merupakan salah satu aktor non-negara yang memiliki kemampuan untuk bergerak melintasi batas negara. Kekuatan mereka tidak hanya berasal dari modal, tetapi juga dari kemampuan membangun hubungan ekonomi dan institusional di berbagai negara.

Netflix, misalnya, membutuhkan industri kreatif lokal untuk menghasilkan konten. Di sisi lain, kreator dan rumah produksi lokal dapat memperoleh akses terhadap sumber daya, teknologi, pendanaan, serta jaringan distribusi global yang dimiliki Netflix.

Hubungan tersebut menciptakan ketergantungan yang tidak sepenuhnya satu arah. Netflix membutuhkan lokalitas untuk memperkuat bisnisnya, sementara aktor lokal dapat memanfaatkan jaringan global Netflix untuk memperluas jangkauan mereka.

Dari Pasar Lokal ke Panggung Global

Di sinilah strategi Netflix menjadi semakin menarik. Konten yang awalnya dibuat untuk penonton Indonesia tidak selalu berhenti di Indonesia. Ketika sebuah cerita lokal berhasil menarik perhatian penonton dari negara lain, batas antara pasar domestik dan pasar internasional menjadi semakin kabur.

Fenomena ini memperlihatkan perubahan dalam cara produk budaya bergerak di ekonomi global. Dulu, globalisasi sering dipahami sebagai proses ketika produk dari pusat ekonomi dunia menyebar ke berbagai negara. Kini, arus tersebut semakin bersifat dua arah. Cerita yang berangkat dari pengalaman lokal dapat bergerak menuju pasar global.

Netflix sendiri mencatat bahwa konten Asia Pasifik kini menyumbang lebih dari separuh daftar Global Top 10 untuk judul non-Inggris. Sejak 2019, jumlah jam tayang konten Asia Pasifik di Netflix juga meningkat empat kali lipat. Ini menunjukkan bahwa pasar global tidak selalu harus dipenuhi oleh produk yang dibuat dengan formula yang seragam. Justru, perbedaan lokal dapat menjadi daya tarik.

Bagi perusahaan multinasional, kondisi tersebut menciptakan strategi baru. Alih-alih menghilangkan karakter lokal agar produknya dapat diterima secara global, perusahaan dapat mempertahankan karakter tersebut dan menggunakan jaringan globalnya untuk memperluas audiens.

Dengan kata lain, Netflix tidak harus membuat sebuah cerita terasa “global” sejak awal. Perusahaan cukup membuat cerita tersebut mampu bergerak melintasi batas negara.

Di Balik Adaptasi Ada Kepentingan Bisnis

Meski demikian, strategi lokalisasi tidak seharusnya dilihat semata-mata sebagai bentuk dukungan perusahaan global terhadap industri kreatif lokal. Bagaimanapun, Netflix adalah MNC yang memiliki kepentingan bisnis. Semakin kuat hubungan dengan industri lokal, semakin besar pula kemampuan perusahaan memahami pasar tersebut. Semakin banyak konten lokal yang menarik penonton, semakin kuat pula posisi Netflix dalam mempertahankan dan memperluas basis penggunanya.

Artinya, adaptasi lokal bukan kebalikan dari kepentingan global. Keduanya dapat berjalan bersamaan. Hal ini juga terlihat dalam konteks Indonesia. Sebuah penelitian yang terbit pada 2025 mengenai ekspansi Netflix di Indonesia menunjukkan bahwa keberhasilan Netflix tidak hanya berkaitan dengan strategi bisnis, tetapi juga dengan kemampuannya membangun hubungan dengan lembaga negara, memanfaatkan perubahan menuju liberalisasi platform digital, serta menyesuaikan kepentingannya dengan aktor-aktor media lokal.

Di titik ini, Netflix menjadi lebih dari sekadar penyedia layanan streaming. Ia berada di tengah pertemuan antara perusahaan, negara, pasar, industri lokal, dan konsumen. Persinggungan tersebut merupakan salah satu wilayah yang menarik dalam studi Hubungan Internasional, khususnya ekonomi politik internasional.

Kehadiran MNC di suatu negara bukan hanya persoalan transaksi antara perusahaan dan konsumen. Ada negosiasi kepentingan, penyesuaian terhadap aturan, pembentukan jaringan, dan hubungan dengan berbagai aktor yang memengaruhi bagaimana sebuah perusahaan dapat beroperasi.

Wajah Baru Ekspansi MNC

Apa yang dilakukan Netflix menunjukkan bahwa ekspansi perusahaan multinasional telah menjadi semakin kompleks. Menjadi global tidak cukup dengan memiliki modal untuk masuk ke pasar baru. Perusahaan juga membutuhkan kemampuan membaca lingkungan lokal, membangun legitimasi, bekerja sama dengan aktor domestik, dan menyesuaikan strategi tanpa kehilangan kepentingan globalnya.

Karena itu, menjadi lokal bukan berarti Netflix kehilangan identitasnya sebagai MNC. Sebaliknya, kemampuan untuk menjadi lokal justru dapat memperkuat posisi globalnya.

Paradoks inilah yang membuat Netflix menarik untuk dibaca melalui perspektif Hubungan Internasional. Perusahaan tidak menggantikan negara, tetapi kehadirannya menunjukkan bahwa hubungan lintas negara kini tidak hanya ditentukan oleh pemerintah. Perusahaan multinasional juga memiliki ruang untuk membentuk arus modal, teknologi, budaya, dan informasi yang bergerak melampaui batas negara.

Pada akhirnya, ekspansi Netflix bukan sekadar cerita tentang semakin banyaknya negara yang dapat mengakses sebuah layanan streaming. Ia adalah gambaran tentang bagaimana MNC beradaptasi dengan dunia yang semakin terhubung.

Dalam dunia tersebut, menjadi global tidak selalu berarti membuat semua pasar menjadi sama. Terkadang, justru dengan memahami perbedaan setiap tempat, sebuah perusahaan dapat menemukan cara untuk membuat bisnisnya semakin global.