Timlo Sastro: Bukti Nyata Berhasilnya Akulturasi Tionghoa dan Jawa di Surakarta

Sachi Kurisu
Mahasiswa UGM penyuka sastra yang menuangkan cerita melalui ketikan, dan mencurahkan perasaan dalam setiap tulisan.
Konten dari Pengguna
18 Desember 2023 14:07 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Sachi Kurisu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Cerahnya mentari di pagi itu membersamai perjalanan yang dilakukan olehku dan adik laki-lakiku untuk mencoba melakukan wisata kuliner di kota kelahiranku sendiri, Surakarta.
Perjalanan wisara kuliner menuju Rumah Makan Timlo Sastro (Sachi Kurisu)
Surakarta merupakan salah satu kota dengan penduduk yang beraneka latar belakang budaya dan ras. Meskipun begitu, jarang terdengar kabar bahwa antar penduduknya berseteru akibat perbedaan itu. Terbukti Kota Surakarta atau biasa disebut Kota Solo menjadi kota toleran ke-4 di Indonesia menurut SETARA Institute. Hal itu bisa terjadi karena masyarakat kota Solo lebih memilih memadukan perbedaan yang ada menjadi sesuatu yang lebih berbeda namun bisa dinikmati bersama. Salah satu sektor yang cukup terlihat dan bahkan dikenal luas adalah dari sektor kuliner. Banyak hidangan yang ternyata merupakan perpaduan dari 2 budaya yang berlainan, salah satunya timlo ini.
ADVERTISEMENT
Mengutip dari Indonesia.go.id, hidangan timlo terinspirasi dari sup kimlo—sup berkuah yang khas bagi kalangan etnis Tionghoa. Di Surakarta sendiri, ada satu rumah makan timlo tertua bernama ‘Timlo Sastro’ yang berada di Jl. Abdul Muis No. 32A, Kepatihan Kulon, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta. Jika dihitung dari pusat kota Surakarta, atau Titik Nol-nya, rumah makan ini hanya berjarak tidak sampai 1 km, atau hanya sekitar 1,4 km dari Stasiun Solo Balapan.
Timlo Sastro sudah berdiri sejak tahun 1952, dengan Pak Sastro sebagai pendiri rumah makan ini awalnya hanya menyewa salah satu kios kecil di Pasar Gede Surakarta untuk merintis rumah makan-nya tersebut. Namun karena dirasa peminatnya ramai dan tempat saat itu tidak bisa menampung lebih banyak lagi, memutuskan pindah ke Jl. Abdul Muis No. 32A yang kemudian menjadi lokasi rumah makan melegenda ini sampai sekarang. Di usianya yang lebih dari 70 tahun dan turun temurun sampai sekarang di generasi ke-3, menurut pengakuan salah satu pegawai rumah makan ini, setiap hidangan timlo ini masih sama dengan resep yang dibuat oleh Pak Sastro 70 tahun lalu tanpa adanya perubahan sedikitpun. Aku merasa mungkin itulah yang membuat rasa dari hidangan ini tetap terjaga keasliannya sehingga pengunjung pun tidak berpaling meski rumah makan timlo yang lain bermunculan.
Rumah Makan Timlo Sastro (Sachi Kurisu)
Sesampainya di rumah makan, aku melihat beberapa mobil dan motor terparkir. Menandakan pengunjung rumah makan ini berasal dari berbagai kalangan.
ADVERTISEMENT
Sebelum mencari tempat duduk, aku juga sempat menangkap pemandangan pagi itu yang cukup lengang, suasana yang berbeda daripada ketika aku menuju ke Timlo Sastro ini.
Jalan di depan Rumah Makan Timlo Sastro di Jalan Abdul Muis, Kepatihan Kulon, Surakarta (Sachi Kurisu)
Setelah mendapat tempat duduk, tidak lama setelah itu, ada bapak pelayan—yang mungkin biasa disebut waitress—menghampiri untuk menulis pesananku agar bisa langsung diteruskan kepada juru masak. Ada beberapa variasi timlo yang ditawarkan, dari Timlo Komplit, sampai hanya Rempelo Ati Kuah (‘hati ampela’ kuah dalam bahasa Jawa), yang membedakan hanyalah isiannya. Dengan dibuat variasi detail isian seperti itu, diharapkan pengunjung dapat menyantap apa yang benar-benar mereka inginkan. Selengkapnya bisa kalian lihat di gambar berikut.
Gambar menu di Rumah Makan Timlo Sastro (07 Desember 2023/Sachi Kurisu)
Oh ya, yang perlu kalian perhatikan adalah karena timlo pada dasarnya merupakan sebuah hidangan sup, pesanan nasi putih terpisah dari pesanan Timlo. Waktu itu aku memesan 2 Timlo Komplit, 2 nasi putih, jeruk hangat, dan es teh. Tidak sampai 5 menit, pesanan kami datang. Jika kalian memesan timlo komplit, kalian akan mendapatkan telur kecap, sosis Solo yang khas, rempelo ati yang direndam kuah kaldu ayam kampung-nya yang beraroma khas. Nasi putih yang datangpun tidak polos, namun diberi taburan bawang goreng sebagai penyedap.
Timlo Komplit, nasi, jeruk hangat, dan es teh pesananku (Sachi Kurisu)
Kalian tanya bagaimana rasanya? Dari kuahnya saja sudah membuatku terkejut. Meskipun terlihat bening, kombinasi dari bawang putih, pala, lada, dan kaldu ayam kampung membuat rasa gurih yang kaya. Jika kalian menunggu kuahnya sampai dingin, kalian akan merasakan rasa asin yang sangat wah.
ADVERTISEMENT
Disamping bisa menyantap timlo, kita juga akan diberi penampilan musik keroncong yang enak didengar dan membuat momen makan akan terasa lebih hangat dan memorable.
Penampilan musik keroncong di Rumah Makan Timlo Sastro (Sachi Kurisu)
Dan lihat, terdapat catatan di dinding rumah makan yang menunjukkan bagaimana mereka sangat berusaha ingin memastikan setiap pengunjungnya mendapatkan rasa terbaiknya.
Catatan di Rumah Makan Timlo Sastro (Sachi Kurisu)
Untuk merasakan pengalaman kuliner yang lebih autentik, disarankan untuk berkunjung pada pagi hari agar rasa yang ada akan ditambah kesegaran untuk menu sarapan, karena di samping itu, jam operasional rumah makan ini hanya dari pukul 6 pagi sampai 3 sore.
Timlo Sastro menjadi salah satu kuliner khas Solo yang wajib dicoba. Rasanya yang segar dan tentunya lezat, serta harganya yang terjangkau, membuat timlo ini selalu ramai dikunjungi wisatawan ataupun warga sekitar.
ADVERTISEMENT
Teruntuk para pemburu cita rasa autentik dari masakan-masakan nusantara, kalian akan merasakan pengalaman kuliner yang sangat memikat melalui hidangan satu ini dari kota multikultural Surakarta. Jadi, pastikan untuk mencicipi kelezatan Timlo Sastro saat menjelajahi pesona kota ini ya. See u next time!