Cegah Stunting pada Balita: Mahasiswa KKN-BBK 6 UNAIR Gelar Demo Masak

Mahasiswa Studi Kejepangan Universitas Airlangga
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ratna Indra Sari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Madiun, 25 Juli 2025 — Stunting merupakan keadaan di mana seorang balita tidak tumbuh dengan baik sesuai dengan balita seusianya. Berdasarkan Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Kesehatan RI 2022, stunting biasanya diakibatkan karena kondisi kekurangan gizi kronis sehingga mempengaruhi tumbuh kembang anak seperti tinggi badan balita yang terlalu pendek untuk usianya. Meskipun kondisi stunting baru dapat terlihat setelah bayi berusia sekitar 2 tahun, tetapi sebenarnya bisa terjadi sejak bayi masih dalam kandungan dan setelah dilahirkan.
Berdasarkan informasi dari bidan Desa Kresek, terdapat 7 anak yang mengalami stunting. Oleh karena itu, demi menuntaskan angka stunting dan mencegah peningkatan angka kasus stunting di Desa Kresek, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata-Belajar Bersama Komunitas ke-6 Universitas Airlangga (KKN-BBK ke-6 Universitas Airlangga) melaksanakan program kerja “Dapur Gizi Kresek” yang berupa kegiatan demo masak. Dalam kegiatan ini, mahasiswa Universitas Airlangga mendemonstrasikan pembuatan “Rolyamyam” atau Rolade Ayam Bayam untuk para ibu yang memiliki anak balita dan kader posyandu Desa Kresek. Selain dilakukan untuk mencegah stunting, kegiatan ini juga dapat memberikan inovasi menu untuk para ibu yang mempunyai anak yang tidak suka makan sayur.
Kegiatan demo masak tersebut dilaksanakan di pendopo Kantor Desa Kresek pada hari Jum’at, 25 Juli 2025 pukul 10:00 hingga pukul 11:30 WIB dengan dihadiri sebanyak 19 peserta ibu yang memiliki balita, kader posyandu, dan bidan desa. Kegiatan ini dimulai dengan sambutan dari bidan desa yaitu Ibu Sri Lestari dan kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan demo pembuatan “Rolyamyam” yang dilakukan oleh mahasiswa program studi Ilmu Gizi Universitas Airlangga yaitu Tiffania Khairunnisa Kurnia Abidin atau yang biasa dipanggil Tiffania.
Dalam pembuatan “Rolyamyam” ini, membutuhkan beberapa alat dan bahan yaitu telur, daging ayam, daun bayam, tepung tapioka, bawang putih, wortel, dan sedikit air untuk menggiling bahan isian. Untuk sayuran seperti wortel dan daun bayam, bisa diganti dengan sayuran lain sesuai selera. Tiffania menyebutkan bahwa menu “Rolyamyam” ini dapat dijadikan salah satu ide makanan yang bergizi, tetapi terjangkau dan mudah untuk dibuat di rumah karena menggunakan bahan pangan lokal. Rolyamyam ini mengandung beberapa kandungan gizi yang diperlukan untuk anak-anak, terutama balita untuk mengatasi dan mencegah terjadinya stunting karena kaya akan protein yang berasal dari ayam dan telur, zat besi dari bayam, dan beberapa vitamin dan mineral lainnya yang juga terkandung di dalam bayam dan wortel. Untuk alat yang dibutuhkan dalam pembuatan Rolyamyam ini antara lain blender atau chopper untuk menggiling isian, daun pisang untuk menggulung, panci pengukus, dan penggorengan jika Rolyamyamnya ingin digoreng setelah dikukus.
Kegiatan ini mendapat respon positif dari bidan desa. “Karena jarang yang makan pakai sayur, adanya kegiatan ini memberikan motivasi agar anak saya mau makan sayur dengan cara saya buatkan makanan seperti yang dibuatkan oleh mahasiswa tadi,” tutur Ibu Sri Lestari yang akrab disapa Bu Bidan tersebut.
Selain itu, salah satu ibu yang menjadi peserta juga menyatakan bahwa program ini memberikan manfaat yang baik karena anaknya tidak suka makan sayur. Dengan adanya pembuatan Rolyamyam ini dapat memberikan ide mengolah makanan yang enak, tetapi mengandung sayur dengan tampilan yang menarik seperti tidak menggunakan sayur sama sekali sehingga cocok untuk anak yang tidak suka makan sayur.
Dengan adanya kegiatan demo masak ini, diharapkan para ibu yang datang bisa mempraktikkan ulang pembuatan produk Rolyamyam yang didemokan dalam kegiatan ini sehingga dapat membantu para ibu yang anaknya tidak suka makan sayur serta dapat membantu mencegah terjadinya stunting di Desa Kresek, begitulah yang diungkapkan oleh Tiffania selaku penanggung jawab dari program kerja Dapur Gizi Kresek.
